Untitled Document
  Senin , 27 Mei 2019 Login
Bank Transfer Konfrimasi Transfer Download
home profil berita Layanan Produk Layanan Jasa Informasi Pasar Komunitas Galery Tentang Kami
Berita > Detail Berita
   
Untitled Document
BERITA
LITBANG
PUBLIKASI
DATA PELABUHAN
LOWONGAN KERJA
 

 

 
BERITA RUMPUT LAUT
 
Begini Kondisi Industri Rumput Laut di Tanah Air
 
Senin, 19 Nov 2018 - Sumber: http://m.bisnis.com/ - Terbaca 25 x - Baca: Apr 07 2019    
 
Industri rumput laut catatkan pertumbuhan produksi dan ekspor yang positif. Regulasi yang mendukung industri dinilai perlu diformulasikan untuk pengembangan sektor yang dinilai mampu gerakkan perekonomian daerah pesisir ini.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menunjukkan produksi rumput laut cukup stabil. Pada 2013 produksi rumput laut nasional mencapai 9,3 juta ton. Pada 2014 jumlahnya meningkat jadi 10,1 juta ton dan pada 2015 mencapai 11,3 juta ton. Jumlahnya sedikit menurun pada 2016 menjadi 11,1 juta ton dan sedikit merosot pada 2017 menjadi 10,8 juta ton.

Ketua Umum Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI), Safari Azis, menjelaskan komoditas tersebut menyimpan potensi besar untuk terus dikembangkan. Dia pun menjelaskan, Indonesia yang memiliki garis pantai terpanjang menjadi tempat yang sangat potensial untuk mengembangkan rumput laut.

Data ARLI menunjukkan budidaya rumput laut dapat dilakukan sepanjang tahun di beberapa lokasi, seperti bagian timur laut Sulawesi, kepulauan Sunda Kecil dan Madura, Laut Banda, Halmahera, serta Papua. Di lokasi lain budidaya dapat dilakukan bermusim, dengan siklus panen lima hingga enam kali. Daerah tersebut adalah Laut Jawa, Laut Sulu, Laut Sulawesi, dan Selat Makassar.

"Merupakan suatu keunggulan komparatif kita di sektor hulunya, ini merupakan satu hal yang perlu kita jaga. Nusantara ini luas, sehingga kita bisa mengatur pola tanam kita pada musim-musim tertentu, ada yang hujan, ada yang tidak terkena hujan sehingga kita bisa produksi sepanjang tahun," ujar Safari kepada Bisnis, Rabu (14/11/2018).

Meskipun produksi sempat melambat, nilai ekspornya komoditas tersebut justru meningkat. Dalam data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2013 ekspor komoditas rumput laut mencatatkan nilai US$174,4 juta dan meningkat pada 2014 jadi US$226,2 juta. Nilai ekspor merosot hampir setengahnya pada 2015 menjadi US114,2 juta, tetapi jumlahnya kembali meningkat. Pada 2016 tercatat nilai ekspor sebesar US$124 juta dan pada 2017 mencapai US$158,8 juta.

Safari menjelaskan bahwa komoditas rumput laut masih berorientasi ekspor. ARLI mencatat nilai ekspornya saat ini kurang lebih US$200 juta. Safari mengklaim uang yang beredar di daerah bisa tiga kali lipat dari nilai ekspor. "Sudah US$600 juta yang beredar di masyarakat," ujar Safari.

Menurutnya industri rumput laut dapat menjadi penggerak utama perekonomian pesisir karena jumlah pesisir yang melintang luas dan cocok dijadikan lokasi budidaya. Selain itu, siklus panen yang relatif cepat dan petani berlaku sebagai pemilik, membuat industri tersebut dirasa ideal. Dia bahkan menyatakan hukum korporat tak berlaku dalam industri tersebut.

"Petani yang lahan budidayanya di laut merupakan pekerja, pemilik, sekaligus penjual. Jadi kepemilikan lahan dan sistem kerja tidak seperti 'korporat'," ujar Safari kepada Bisnis.

Safari menjelaskan orientasi ekspor tersebut terjadi karena rendahnya permintaan dalam negeri. Untuk itu, dia menilai perlu adanya promosi pemanfaatan hasil olahan rumput laut di dalam negeri. Saat ini, industri dalam negeri masih fokus mengolah bahan baku rumput laut menjadi hidrokoloid (seperti agar-agar), padahal menurut Safari masih terdapat beberapa cara pengolahan lain yang bisa dikonsumsi industri maupun masyarakat.

Kebijakan pemerintah pun menurutnya perlu ditinjau ulang, khususnya mengenai larangan ekspor bahan baku. Safari menjelaskan bahwa rumput laut merupakan bahan baku, sehingga pemerintah perlu menerapkan strategi dan pendekatan yang mengacu pada konsep global value chain.
 
 
 
 
 
More Berita
 
Langkah Trump Naikkan Tarif Impor China Bisa Ganggu Ekspor RI
  Senin, 20 May 2019-https://m.detik.com/ - Terbaca 10 x
Industri Rumput Laut Masih Terganjal Berbagai Kendala
  Senin, 13 May 2019-https://m.mediaindonesia.com/ - Terbaca 16 x
Rumput Laut Turun Harga Lagi, Petani Diminta Perbaiki Mutu
  Senin, 06 May 2019-https://www.niaga.asia/ - Terbaca 16 x
Produk Rumput Laut Indonesia Unjuk Gigi di Simposium Internasional di Jeju
  Senin, 29 Apr 2019-https://m.wartaekonomi.co.id/ - Terbaca 12 x
Harga Rumput Laut di Nunukan Terjun di Kisaran Rp 18.000 Kg, Ini Sebabnya..
  Senin, 22 Apr 2019-https://benuanta.co.id/ - Terbaca 23 x
Harga Rumput Laut di Pamekasan Mulai Melorot
  Senin, 15 Apr 2019-http://www.koranmadura.com/ - Terbaca 18 x
Harga Rumput Laut Terus Naik, Petani Pesisir Timur Girang
  Senin, 08 Apr 2019-http://www.lampost.co/ - Terbaca 14 x
Pembudidaya Rumput Laut Lamsel Manfaatkan Peluang Jelang Ramadan
  Senin, 01 Apr 2019-https://www.cendananews.com/ - Terbaca 12 x
Rumput Laut, Prospek Emas Hijau di Sumba Timur
  Senin, 25 Mar 2019-https://m.viva.co.id/ - Terbaca 7 x
Pengusaha Harapkan Produksi Rumput Laut Naik Dua Kali Lipat
  Senin, 18 Mar 2019-https://m.bisnis.com/ - Terbaca 14 x
 
 
     
 
Untitled Document
 
 
 
 
 
 
 
 
Layanan Produk
 
Cara Pemesanan
Trade Data
China Study
Buku Eucheuma
Modul Pelatih
Modul Petani
Modul GMP
Peta GIS
Monograph
Buku Member
 
Layanan Jasa
 
Mitra Utama
Mitra Pelatihan
Konsultasi Online
Promosi - Buku Tamu
Pengembangan Website
Pasang Iklan
 
Team
 
Dr. Iain C. Neish
Irsyadi Siradjuddin
Boedi Julianto
Dina Saragih
Dedi Kurniadi
 
Alamat Kantor
JaSuDa Team
Permata Regency, Sudiang, Makassar
Mobile phone: +62 811-4443-738
Email :
team@jasuda.net
 
Statistik Website
Kunjungan 469,007  Kali
Jumlah Anggota 10,071 Org
Buku Tamu / Promosi 788  lihat
Konsultasi Online 2742  lihat
 
             
 
 
PT. JARINGAN SUMBER DAYA (JaSuDa.nET)
All Rights Reserved. Created 2005, Revised 2014. Supported by Ford Foundation.
Developed by Irsyadi Siradjuddin