Untitled Document
  Senin , 23 April 2018 Login
Bank Transfer Konfrimasi Transfer Download
home profil berita Layanan Produk Layanan Jasa Informasi Pasar Komunitas Galery Tentang Kami
Berita > Detail Berita
   
Untitled Document
BERITA
LITBANG
PUBLIKASI
DATA PELABUHAN
LOWONGAN KERJA
 

 

 
BERITA RUMPUT LAUT
 
Industri Rumput Laut Masih Temui Tantangan Berat, Apa Saja?
 
Selasa, 20 Mar 2018 - Sumber: http://www.mongabay.co.id/ - Terbaca 22 x - Baca: Apr 16 2018    
 
Tantangan berat masih dirasakan sektor perikanan budidaya dalam mengembangkan rumput laut sebagai komoditas utama di Indonesia. Tantangan itu di antaranya adalah masih minimnya diversifikasi produk, persyaratan pasar global, persaingan antar produsen, zonasi dan infrastruktur, dan minimnya investasi berbasis rumput laut.

Pengakuan itu diungkapkan Direktur Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto di Jakarta pekan ini. Menurut dia, walau Indonesia saat ini menjadi negara net eksportir nomor satu dunia untuk komoditas rumput laut, tetapi pada kenyataannya 80 persen ekspor masih didominasi oleh produk bahan baku kering (raw material).

“Untuk jenis Eucheuma Cottoni dan Gracilaria kita jadi nomor satu. Tapi kita masih didominasi oleh bahan baku kering, artinya nilai tambah ekonomi yang dirasakan masih minim,” ungkapnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Slamet mengaku sudah menyiapkan langkah dan strategi melalui pembangunan industrialisasi rumput laut nasional. Cara tersebut, diharapkan bisa memberikan nilai tambah ekonomi lebih tinggi dari sebelumnya.

Menurut Slamet, melalui industrialisasi nasional, pihaknya akan melakukan upaya untuk menggenjot produksi yang berkualitas di hulu. Salah satu yang dilakukan, adalah melalui pengembangan kawasan budidaya rumput laut berbasis klaster, pengembangan kebun bibit rumput laut hasil kultur jaringan, dan pengembangan sistem kebun bibit rumput laut yang memenuhi estetika.

“Dan (juga) kaidah ramah lingkungan serta telah digunakan secara luas oleh pembudidaya,” tambahnya.

Bibit rumput laut hasil kultur jaringan memiliki performa yang baik, termasuk lebih adaptif dan pertumbuhan yang lebih cepat. Teknologi tersebut, akan diterapkan di enam unit pelaksana teknis (UPT) pada Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya dan didorong untuk menjadi sentra pengembangan kultur jaringan.

Keenam UPT tersebut, kata Slamet, adalah Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPB) Lampung, Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon (Maluku) dan Lombok (Nusa Tenggara Barat), Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara (Jawa Tengah), serta Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Situbondo (Jawa Timur) dan Takalar (Sulawesi Selatan).

Indonesia Timur

Tak hanya fokus pada enam UPT, untuk mendongkrak produksi rumput laut, KKP kini fokus menggarap potensi yang ada di kawasan-kawasan terluar dan perbatasan. Sejak 2016, KKP merintis pembangunan sentra kelautan dan perikanan terpadu (SKPT), dimana salah satu fokus pengembangannya yakni budidaya rumput laut, seperti di Kabupaten Sumba Timur dan Rote Ndao di Nusa Tenggara Timur.

Selain di NTT, Slamet mengungkapkan, fokus pengembangan sentra rumput laut juga dilakukan di kawasan Indonesia Timur lainnya. Termasuk, di Provinsi Papua dan Papua Barat, khususnya di Kabupaten Fak Fak, Kaimana, Sorong, Biak Numfor, dan Kepulauan Yapen. Kemudian di Maluku, NTB, Sulawesi dan daerah potensial lainnya di seluruh Indonesia.

Untuk saat ini, kata Slamet, pengembangan di Indonesia Timur sudah dimulai dari Kabupaten Fak Fak dan diharapkan ke depan seluruhnya menggunakan bibit rumput laut cottonii strain Maumere dari hasil kultur jaringan.

Tak cukup disitu, Slamet memastikan, seluruh rumput laut yang dikembangkan di semua sentra, akan diproduksi melalui proses ramah lingkungan dan terjamin keamanannya. Kemudian, agar kepercayaan pasar tetap terjaga, KKP akan mendorong lebih banyak penerbitan sertifikasi CBIB (cara budidaya ikan yang baik) yang didalamnya meliputi aspek ketelusuran (traceability), keamanan pangan (food safety), dan keberlanjutan (sustainability).

Untuk menjamin sektor hulu terhindar dari tumpang tindih kepentingan dan menjamin iklim usaha yang kondusif, Slamet meminta agar pemerintah propinsi untuk segera menyelesaikan Peraturan Daerah terkait Rencana Zonasi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Kecil (RZWP3K). Regulasi ini sangat penting, untuk menjamin eksistensi dan keberlanjutan usaha budidaya rumput laut.

Selain di hulu, Slamet memastikan, pihaknya juga mengawasi sistem produksi yang ada di hilir dengan mendorong rumput laut Indonesia untuk bisa memiliki daya saing lebih tinggi. Caranya, adalah dengan menciptakan efisiensi produksi dan jaminan mutu.

“Untuk memutus rantai distribusi pasar yang panjang, Pemerintah telah mendorong pembangunan industri pengolahan di sentra-sentra produksi baik yang dibangun oleh pemerintah maupun swasta,” tegas dia.

Berkaitan dengan mutu rumput laut yang ada di Indonesia, Slamet menerangkan, Pemerintah juga terus mendorong agar semua produksi dan pengolahannya sudah memenuhi sertifikasi standar nasional Indonesia (SNI) dan persyaratan ekspor. Adapun, beberapa item yang menjadi fokus adalah seperti penerapan Cara Pengolahan Ikan yang Baik (Good Manufacturing Practices) dan memenuhi persyaratan Prosedur Operasi Sanitasi Standar (Standar Sanitation Operating Procedure).

Untuk distribusi produk rumput laut, Slamet menyebut, KKP akan menggandeng instansi lain seperti Pelni dan ASDP. Kedua instansi tersebut digandeng, karena keduanya terlibat dalam pengelolaan tol laut. Melalui jalur tol laut, nantinya diharapkan seluruh potensi sektor perikanan, termasuk rumput laut, bisa didistribusikan lebih cepat.

Hulu ke Hilir

Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia Safari Azis memberi komentar tentang rencana pengembangan komoditas rumput laut oleh Pemerintah Indonesia. Menurut dia, rencana tersebut dinilainya sudah baik, namun sebaiknya KKP harus memastikan rantai produksi dari hulu hingga hilir kondusif bagi dunia usaha.

Menurut Azis, di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, pihaknya sudah memfasilitasi anggotanya untuk memanfaatkan rumput laut di kabupaten melalui kerja sama dengan KKP dan pemerintah daerah. Dari kerja sama itu, kemudian berhasil dilakukan ekspor perdana rumput laut ke Tiongkok pada Februari lalu.

“Ekspor perdana berupa alkali treated gracillaria atau ATG. Kondisi kondusif seperti ini kami harapkan dapat terjadi didaerah lainnya, “ harapnya.

Meski berhasil, tetapi Azis buru-buru mengingatkan bahwa saat ini era perdagangan bebas telah memberlakukan sistem rantai pasok dan rantai nilai global, dan itu berlaku untuk rumput laut Indonesia. Sistem tersebut memerlukan nilai tambah di sektor hilir dan berdampak pada pembudidaya yang ada di sektor hulu.

“Industri hulu hingga hilir memiliki nilai masing-masing,” tandasnya.

Dia berharap,pengembangan sektor hulu benar-benar menjadi perhatian Pemerintah untuk menjamin pengembangan di sektor hilir. Di antara langkah pengembangan sektor hulu, yaitu melalui ekstensifikasi dan intensifikasi budidaya rumput laut.

Menurut Azis, pengembangan di hulu sudah selaras dengan langkah-langkah yang dilakukan KKP. Selanjutnya, bagaimana memastikan proses produksi di sektor hulu benar-benar ramah lingkungan untuk menjamin keberkelanjutan budidaya.

Diketahui, kinerja positif subsektor perikanan budidaya selama lima tahun terakhir (2013-2017) memacu KKP untuk terus memperkuat pengembangan berbagai komoditas budidaya mulai dari hulu hingga hilir, termasuk tata niaga dan pemasaran.

Salah satu komoditas perikanan budidaya yang menjadi fokus KKP untuk terus dikembangkan adalah rumput laut. Langkah ini diambil guna memastikan rumput laut Indonesia mampu menghadapi berbagai tantangan yang berkembang di masa yang akan datang.

Kinerja positif tersebut dapat dilihat dari volume produksi rumput laut nasional yang tumbuh rerata sebesar 11,8 persen per tahun, dimana angka sementara tahun 2017, produksi rumput laut nasional tercatat sebesar 10,8 Juta ton.

Nilai ekspor rumput laut juga mengalami pertumbuhan sebesar 3,09 persen per tahun. Neraca perdagangan rumput laut Indonesia juga tercatat positif, dengan indeks spesialisasi produk (ISP) lebih tinggi dibanding negara-negara eksportir lainnya.

Kondisi ini menandakan bahwa produk rumput laut memiliki daya saing kompetitif yang tinggi atau Indonesia merupakan negara net eksportir rumput laut.
 
 
 
 
 
More Berita
 
Cegah Hambatan Dagang, Indonesia-China Dirikan Pusat Riset Rumput Laut
  Senin, 16 Apr 2018-http://m.bisnis.com/ - Terbaca 15 x
EKSPOR RUMPUT LAUT KE AS: Kembali Masuk Daftar Produk Organik, Simak Paparan Kemendag
  Senin, 09 Apr 2018-http://m.bisnis.com/ - Terbaca 15 x
KKP Tekankan Pentingnya Peta Jalan Rumput Laut
  Senin, 02 Apr 2018-http://m.republika.co.id/ - Terbaca 13 x
Pabrik Rumput Laut dalam Proses Lelang
  Senin, 26 Mar 2018-http://m.kaltara.prokal.co/ - Terbaca 31 x
Industri Rumput Laut Masih Temui Tantangan Berat, Apa Saja?
  Selasa, 20 Mar 2018-http://www.mongabay.co.id/ - Terbaca 22 x
Klaster Rumput Laut untuk Wilayah Timur Sedang Dibangun
  Selasa, 13 Mar 2018-http://m.bisnis.com/ - Terbaca 26 x
Harga Rumput Laut Turun Drastis Dikeluhkan Petani di Bone
  Selasa, 06 Mar 2018-https://makassar.sindonews.com/ - Terbaca 20 x
19 Maret Kaltara Ekspor Perdana Rumput Laut ke Hong Kong
  Rabu, 28 Feb 2018-http://m.tribunnews.com/ - Terbaca 20 x
RI dan China Kompak Hadapi Ancaman Delisting Rumput Laut
  Selasa, 20 Feb 2018-http://m.bisnis.com/ - Terbaca 14 x
Kerek Produksi Rumput Laut, Sentra-sentra Baru Dikembangkan
  Senin, 12 Feb 2018-http://m.bisnis.com/ - Terbaca 25 x
 
 
     
 
Untitled Document
 
 
 
 
 
 
 
Layanan Produk
 
Cara Pemesanan
Trade Data
China Study
Buku Eucheuma
Modul Pelatih
Modul Petani
Modul GMP
Peta GIS
Monograph
Buku Member
 
Layanan Jasa
 
Mitra Utama
Mitra Pelatihan
Konsultasi Online
Promosi - Buku Tamu
Pengembangan Website
Pasang Iklan
 
Team
 
Dr. Iain C. Neish
Irsyadi Siradjuddin
Boedi Julianto
Dina Saragih
Dedi Kurniadi
 
Alamat Kantor
JaSuDa Team
Permata Regency, Sudiang, Makassar
Mobile phone: +62 811-4443-738
Email :
team@jasuda.net
 
Statistik Website
Kunjungan 439,239  Kali
Jumlah Anggota 9,880 Org
Buku Tamu / Promosi 752  lihat
Konsultasi Online 2717  lihat
 
             
 
 
PT. JARINGAN SUMBER DAYA (JaSuDa.nET)
All Rights Reserved. Created 2005, Revised 2014. Supported by Ford Foundation.
Developed by Irsyadi Siradjuddin