Untitled Document
  Jumat , 30 Oktober 2020 Login
Bank Transfer Konfrimasi Transfer Download
home profil berita Layanan Produk Layanan Jasa Informasi Pasar Komunitas Galery Tentang Kami
Berita > Detail Berita
   
Untitled Document
BERITA
LITBANG
PUBLIKASI
DATA PELABUHAN
LOWONGAN KERJA
 

 

 
BERITA RUMPUT LAUT
 
Rumput Laut Selamatkan Kocek Warga Nusa Penida
 
Senin, 28 Sep 2020 - Sumber: https://travel.detik.com/ - Terbaca 8 x - Baca: Oct 19 2020    
 
Jakarta - Wisata Nusa Penida di Bali termasuk yang mati kutu karena pandemi virus Corona. Warga kembali menekuni budidaya rumput laut untuk menyelamatkan isi dompet.
Keelokan Nusa Penida telah memikat turis domestik dan mancanegara untuk berdatangan. Broken Sea Pasir Uwug, rumah pohon batu Molenteng, air terjun Peguyangan, Angle's Billabong, dan Pasih Andus cuma sebagian tempat wisata yang menjadi primadona turis.

Keelokan Nusa Penida itu membuat muncul hotel, restoran, dan cafe di kawasan tersebut. Warga pun mengisi bidang kerja yang dibutuhkan industri itu.

Situasi itu berbeda pada 1980-an. Waktu itu, warga Nusa Penida mayoritas merupakan petani rumput laut. Hingga perubahan terjadi sekitar setahun lalu.

"Ketika saya pertama ke sini pada 2010, kalian bisa melihat dan mencium aroma rumput laut yang dikeringkan di sepanjang jalan," kata Valery Senyk, asisten manajer Batu Karang Resort, yang merupakan hotel mewah pertama di Nusa Penida, seperti dikutip Al Jazeera.

"Pada 2016, satu-satunya budidaya yang tersisa berada di perbatasan yang membagi pulau Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Pada 2019, tidak ada yang tersisa sama sekali," dia menambahkan.

Akhir masa budidaya rumput laut itu seiring dengan meledaknya jumlah wisatawan di Nusa Penida. Menurut Badan Statistik jumlah turis meroket dari 7 juta di tahun 2010 menjadi 16 juta pada 2019. Ratusan turis China dan surfer Australia berkunjung di kawasan itu setiap harinya.

Tapi, awal tahun 2020 saat virus Corona mewabah, Nusa Penida kembali ke masa rumput laut berjaya. Warga yang sebelumnya menjadi pekerja hotel, restoran, cafe, dan guide wisata kembali bertani rumput laut.

Salah satu yang beralih menjadi petani rumput laut adalah Kasumba. Sebelumnya, dia karyawan di bidang pemasaran.

Kasumba, seperti petani rumput laut di Nusa Penida lain, mulai terbiasa dengan bertelanjang kaki, berada di pantai seharian, menanam rumput laut, dan memanennya saat masanya tiba.

"Nenek saya merupakan petani rumput laut, namun saya enggak pernah melakukannya karena saya belajar akuntansi di universitas," kata Kasumba.

"Ini sungguh butuh kerja keras namun saya beruntung bisa melakukannya saat ini. Tidak ada pekerjaan lain di sini saat ini. Tanpa ini, mungkin saya enggak mempunyai uang untuk makan," dia menambahkan.

Kasumba bilang dia menikmati pekerjaan di luar ruangan itu dan bekerja bersama warga yang lain di lahan yang sama. Dia juga berlapang dada dengan upah yang tidak terlalu besar.

"Kami berlima menerima bayaran USD 200 hingga USD 300 setiap bulan," ujar Kasumba.

Tetanggnya, Kadek juga bilang menerima upah yang jauh lebih sedikit sebagai petani rumput laut ketimbang saat menjadi bagian reservasi Tamarind Resort Nusa Lembongan.

"Sebelumnya saya menghasilkan USD 200 per bulan dan berpesta setiap akhir pekan dengan teman-teman saya. Sekarang saya harus bekerja keras selama tujuh haris dalam sepekan dan cuma dibayar USD 50 per bulan. Saya sudah enggak minum bir sejak Maret," kata Kadek.

Beda lagi dengan Ari pemilik toko souvenir. Dia bisa mendapatkan keuntungan USD 5 per lembar T-shirt saat wisatawan masih memenuhi Nusa Penida. Kini, dia dibayar 33 USD setiap bulan untuk merawat sebidang kecil lahan rumput laut.

"Bulan lalu, mereka membayar kami 13.000 rupiah untuk 1 kg rumput laut kering. Bulan ini, mereka cuma membayar Rp 10.000 rupiah," kata Ari.

Permintaan rumput laut itu datang dari Vietnam dan China. Negara itu menjadikan rumput laut sebagai bahan makanan. Ari menyebut persaingan antarpetani di Nusa Penida dan sulitnya mengirim pasokan ke negara yang membutuhkan disebut menjadi alasan merosotnya nilai jual rumput laut.
 
 
 
 
 
More Berita
 
Sembilan Ton Rumput Laut Disalurkan di Mamuju
  Senin, 26 Oct 2020-https://m.republika.co.id/ - Terbaca 0 x
Harga Rumput Laut Anjlok 50%, Petani Menjerit
  Senin, 19 Oct 2020-https://economy.okezone.com/ - Terbaca 0 x
Tiga Ton Rumput Laut NTB akan Diekspor Perdana ke Taiwan
  Senin, 12 Oct 2020-https://www.suarantb.com/ - Terbaca 0 x
Peneliti UHO Gelar Sertifikasi Pembudidaya Rumput Laut
  Selasa, 06 Oct 2020-https://sulawesion.com/ - Terbaca 0 x
Rumput Laut Selamatkan Kocek Warga Nusa Penida
  Senin, 28 Sep 2020-https://travel.detik.com/ - Terbaca 8 x
Pariwisata Lumpuh, Pemkab Klungkung Siap Stabilkan Harga Rumput Laut di Nusa Penida
  Senin, 21 Sep 2020-https://amp.wartaekonomi.co.id/ - Terbaca 6 x
Potensi, Produksi, dan Prospek Rumput Laut di Indonesia
  Senin, 14 Sep 2020-https://bulelengkab.go.id/ - Terbaca 18 x
Produksi Rumput Laut di NTT Capai 1,8 Juta Ton Per Tahun
  Senin, 07 Sep 2020-https://m.akurat.co/ - Terbaca 10 x
Harga Rumput Laut Anjlok Akibat Pandemi, Petani di Polman Meradang
  Senin, 31 Aug 2020-https://m.detik.com/ - Terbaca 13 x
Pelaku Wisata Bali Beralih Profesi Jadi Petani Rumput Laut
  Senin, 24 Aug 2020-https://m.republika.co.id/ - Terbaca 0 x
 
 
     
 
Untitled Document
 
 
 
 
 
Layanan Produk
 
Cara Pemesanan
Trade Data
China Study
Buku Eucheuma
Modul Pelatih
Modul Petani
Modul GMP
Peta GIS
Monograph
Buku Member
 
Layanan Jasa
 
Mitra Utama
Mitra Pelatihan
Konsultasi Online
Promosi - Buku Tamu
Pengembangan Website
Pasang Iklan
 
Team
 
Dr. Iain C. Neish
Irsyadi Siradjuddin
Boedi Julianto
Dina Saragih
Dedi Kurniadi
 
Alamat Kantor
JaSuDa Team
POSKO UKM JaSuDa
Ruko Hasanuddin Commercial Center Blok A.11
Jl. Perintis Kemerdekaan KM 09. Tamalanrea, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia
 
Statistik Website
Kunjungan 503,071  Kali
Jumlah Anggota 10,357 Org
Buku Tamu / Promosi 806  lihat
Konsultasi Online 2758  lihat
 
             
 
 
PT. JARINGAN SUMBER DAYA (JaSuDa.nET)
All Rights Reserved. Created 2005, Revised 2014. Supported by Ford Foundation.
Developed by Irsyadi Siradjuddin