
Langgur - Sebuah terobosan cerdas dan bermanfaat lahir dari tangan kreatif warga pesisir desa debut Kecamatan hoat horbay kabupaten maluku tenggara. Apa yang dulunya hanya dianggap sampah dan menumpuk tak terpakai, yaitu batok kelapa, kini disulap menjadi produk bernilai guna tinggi,Pelampung budidaya rumput laut . Inovasi ini tidak hanya mengatasi masalah limbah, tetapi juga memangkas biaya usaha para pembudidaya serta menjaga kelestarian laut.
Selama ini, para petani rumput laut umumnya menggunakan pelampung berbahan plastik atau botol bekas yang harganya terus naik, mudah rusak, dan dikhawatirkan menjadi sumber pencemaran laut saat pecah atau dibuang. Melihat kondisi tersebut, kelompok tani lokal berinisiatif mencari bahan alternatif yang murah, melimpah, dan ramah alam. Pilihan jatuh pada batok kelapa, bahan yang sangat melimpah di daerah ini namun seringkali hanya dibakar atau dibuang begitu saja.
Ketua Kelompok Tani sukses bersama, martin, menjelaskan proses pengolahan batok kelapa menjadi pelampung ini cukup sederhana namun memerlukan ketelitian. Batok kelapa dikumpulkan, dibersihkan dari sabut, dikeringkan, lalu diberi lapisan pengawet alami dan penutup kedap air agar tidak mudah menyerap air laut atau lapuk. Satu buah batok kelapa utuh memiliki daya apung yang cukup kuat untuk menopang tali dan bibit rumput laut di bawah permukaan air.
"Sebelumnya kami harus beli pelampung plastik dengan harga lumayan mahal, belum lagi umur pakainya pendek. Sekarang, kami manfaatkan batok kelapa yang ada di sekitar rumah, hampir gratis biayanya. Ternyata kekuatannya lebih tahan lama, aman untuk laut, dan tidak mencemari lingkungan karena bahan alami," ujar Martin saat ditemui di lokasi pembuatan pelampung batok kelapa.
Para pembudidaya merasakan dampak positif yang sangat besar. Biaya produksi turun hingga 40 persen, sehingga keuntungan yang didapat menjadi lebih besar. Selain itu, bentuk dan kekuatan batok kelapa ternyata sangat cocok dengan kondisi laut di daerah ini, mampu bertahan meski dihantam ombak sedang. Inovasi ini pun menjadi kabar gembira bagi pelaku UMKM, karena kini limbah kelapa yang tidak terpakai memiliki nilai jual baru.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Maluku TenggaraRuslani Ingratubun memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas kreativitas warga ini. Menurutnya, langkah ini adalah contoh nyata ekonomi sirkular dan solusi cerdas dalam memajukan usaha budidaya tanpa merusak alam.
"Ini adalah terobosan brilian. Mengubah sampah menjadi barang berguna, sekaligus menyelamatkan biaya petani. Pelampung batok kelapa ini sangat mendukung program kami dalam menjaga kebersihan laut dari limbah plastik serta meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir. Kami akan dorong dan bantu agar metode ini bisa disebarkan ke seluruh wilayah pesisir di daerah kami," Ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Maluku TenggaraRuslani Ingratubun.
Tidak hanya berhenti di pelampung, warga kini juga mulai berkreasi lebih jauh. Batok kelapa yang tidak utuh atau pecah, masih bisa diolah menjadi kerajinan tangan atau bahan lain, sehingga tidak ada lagi bagian dari kelapa yang terbuang sia-sia. Hal ini membuka peluang usaha baru bagi keluarga, mulai dari pengumpulan, pengolahan, hingga pemasaran produk olahan kelapa.
Warga berharap, inovasi sederhana namun bermanfaat ini mendapat dukungan lebih luas, baik dari pemerintah maupun dari pihak terkait, agar semakin banyak petani rumput laut yang beralih menggunakan pelampung alami ini. Langkah kecil ini ternyata membawa dampak besar, lingkungan bersih, laut terjaga, dan ekonomi keluarga makin sejahtera.
Kini, deretan pelampung dari batok kelapa mulai menghiasi perairan pesisir desa debut, Letvuan,dan dudunwahan, menjadi bukti bahwa dengan kreativitas dan kepedulian, kemajuan daerah bisa diraih berlandaskan kekayaan alam dan kearifan lokal yang dimiliki.