
Takalar – Potensi rumput laut hijau Ulva reticulata yang selama ini melimpah di kawasan pesisir Desa Punaga, Kecamatan Laikang, Kabupaten Takalar, mulai dilirik sebagai bahan baku berbagai produk bernilai tambah. Melalui kegiatan Transfer Teknologi PAIR Sulawesi, masyarakat diperkenalkan teknologi pemanfaatan Ulva reticulata menjadi berbagai produk bernilai tambah, dengan fokus pada pengembangan edible coating sebagai inovasi ramah lingkungan yang berpotensi mendukung sektor pangan dan meningkatkan nilai ekonomi rumput laut.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (16/7/2026) ini merupakan bagian dari program penelitian PAIR Sulawesi bertajuk Empowering Seaweed Farmers and Developing Environmentally Friendly Derivative Products of Seaweed with a Circular Economy Approach. Program tersebut dipimpin oleh Dr. rer. nat. Elmi Nurhaidah Zainuddin, DES. dan dilaksanakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin bersama Monash University Australia, dengan dukungan Pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT), Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), serta Australia-Indonesia Centre (AIC).
Transfer teknologi ini turut memperkuat kolaborasi lintas sektor dengan melibatkan sejumlah mitra strategis, yakni Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan (DKP Sulsel), Koperasi Serikat Pekerja Merdeka Indonesia (KOSPERMINDO), Asosiasi Petani Rumput Laut Indonesia (ASPERLI), serta Jaringan Sumber Daya (JASUDA). Sinergi tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong hilirisasi hasil riset agar dapat diterapkan secara nyata oleh masyarakat pesisir dan memberikan nilai tambah terhadap potensi sumber daya lokal.
Kegiatan menghadirkan akademisi, peneliti, pemerintah daerah, penyuluh perikanan, organisasi mitra, kelompok petani rumput laut, serta masyarakat pesisir. Selain mengikuti pemaparan materi, peserta juga mengikuti demonstrasi pembuatan edible coating berbahan dasar Ulva reticulata, sekaligus memperoleh penjelasan mengenai potensi pengembangan produk turunan lainnya yang berasal dari rumput laut hijau tersebut.
Dalam sesi pembukaan, Prof. Daniel Prajogo dari Monash University Australia menekankan bahwa keberhasilan inovasi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan masyarakat untuk belajar dan menerima perubahan.
"Perubahan selalu dimulai dari kemauan untuk belajar. Ketika masyarakat terbuka terhadap ilmu pengetahuan, maka teknologi akan lebih mudah diterapkan dan manfaatnya akan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari."
Menurutnya, penguatan kapasitas masyarakat menjadi fondasi penting agar hasil penelitian dapat berkembang menjadi solusi yang benar-benar memberi manfaat bagi komunitas pesisir.
Selanjutnya, Prof. Rukman Hertadi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) memaparkan potensi pemanfaatan rumput laut sebagai bahan baku edible plastic, yaitu material ramah lingkungan yang mudah terurai dan berpotensi menjadi alternatif pengganti plastik berbasis petroleum. Inovasi tersebut dinilai tidak hanya mendukung pengurangan sampah plastik, tetapi juga membuka peluang pengembangan industri berbasis sumber daya hayati. Selain memperkenalkan konsep pengembangan material ramah lingkungan seperti edible plastic, peserta juga diarahkan pada penerapan hasil riset yang menjadi fokus transfer teknologi, yakni pemanfaatan Ulva reticulata sebagai bahan baku edible coating.
Peserta kemudian diperkenalkan pada teknologi ekstraksi Ulva reticulata menjadi ulvan oleh Siti Nurkhamidah, S.T., M.S., Ph.D. dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Melalui demonstrasi langsung, peserta dapat memahami proses pembuatan senyawa alami yang menjadi salah satu bahan utama dalam pembuatan edible coating. Dalam sesi praktik, peserta menyaksikan secara langsung tahapan pembuatan pelapis pangan ramah lingkungan tersebut serta berbagai potensi pemanfaatannya untuk memperpanjang umur simpan buah dan produk hortikultura.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Diskusi berlangsung aktif dengan berbagai pertanyaan mengenai teknik pengolahan, peluang pengembangan usaha, hingga potensi pemasaran produk turunan rumput laut. Demonstrasi teknologi yang dilakukan secara langsung juga memberikan gambaran bahwa inovasi tersebut memungkinkan untuk diterapkan di tingkat kelompok masyarakat maupun pelaku usaha mikro.
Bagi PAIR Sulawesi bersama seluruh mitra kolaborasi, transfer teknologi merupakan langkah penting untuk memastikan hasil penelitian tidak berhenti sebagai luaran akademik. Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, organisasi masyarakat, asosiasi petani, dan mitra pembangunan, inovasi diharapkan dapat diadopsi lebih luas sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir sekaligus memperkuat ekonomi sirkular dan ekonomi biru.
Melalui kegiatan ini, PAIR Sulawesi bersama para mitra berharap inovasi edible coating berbahan dasar Ulva reticulata dapat menjadi salah satu alternatif pengembangan usaha masyarakat pesisir. Selain meningkatkan nilai tambah rumput laut, teknologi tersebut juga mendukung pengembangan produk pangan yang lebih ramah lingkungan serta memperkuat penerapan ekonomi sirkular dan ekonomi biru di Sulawesi Selatan.