
SENIN, 8 Juni 2026, merupakan hari yang dicanangkan sebagai Hari Laut Sedunia. Pada Hari Laut Sedunia itu, mungkin sudah waktunya kita bertanya ulang. Apakah kita benar-benar menyadari ”harta karun” terbesar Indonesia bukan terletak di dalam tanah? Melainkan, di luasnya lautan kita?
Masih ingatkah kita dengan lagu ”nenek moyangku seorang pelaut”? Lagu yang sering kita nyanyikan sejak di bangku sekolah dasar. Lagu tersebut seolah merupakan deklarasi kita bahwa kita merupakan bangsa dengan sumber daya yang tangguh di laut dan hidup dari laut.
Laut kita merupakan paket komplet yang menyediakan berbagai sumber pangan. Salah satu yang masih belum kita manfaatkan secara maksimal adalah rumput laut.
Laut Indonesia, Sumber Rumput Laut Melimpah
Indonesia bukan pemain baru dalam industri rumput laut global. Berdasar data dari FAO, jumlah produksi rumput laut dunia pada tahun 2021 adalah 36,3 juta ton. Produksi rumput laut Indonesia didominasi oleh Kappaphycus alvarezii (cottoni) dengan volume 7,05 juta ton, menguasai 82,7 persen produksi dunia.
Bahkan, Indonesia masuk tiga besar negara produsen rumput laut spesies itu, bersaing dengan Filipina. Ada lagi Gracilaria dengan volume 1,91 juta ton (32,1 persen produksi dunia), rumput laut yang produknya banyak digunakan untuk makanan pencuci mulut seperti puding, agar, dan jeli.
Selanjutnya, rumput laut yang mulai ngetren bernama Caulerpa, diidentikkan dengan sebutan anggur laut atau green caviar. Caulerpa berbentuk bulat kecil, rimbun, mirip anggur, tetapi berwarna hijau cerah.
Di tengah dominasi produksi tersebut, masyarakat Indonesia masih memandang rumput laut sebagai komoditas pesisir biasa, dengan nilai ekonomi yang terbatas pada produk kering untuk diekspor. Ironisnya adalah tingkat konsumsi rumput laut domestik masih terbilang rendah apabila dibandingkan dengan Jepang yang memiliki rata-rata konsumsi mencapai 4 hingga 7 gram per hari.
Hal itu mungkin juga karena bagi kita rumput laut tidak begitu populer di berbagai daerah, hanya beberapa daerah seperti Bali yang menjadikan rumput laut sebagai makanan. Di Bali, rumput laut Caulerpa dicuci bersih, lalu diberi kuah pindang dan irisan kelapa, sehingga menjadi makanan yang sedap dan bergizi.
Di daerah lain, rumput laut sering dijadikan olahan sekunder yang jarang dikonsumsi, seperti campuran es buah, puding, dodol, dan banyak lainnya. Olahan makanan itu lebih sering dikonsumsi pada momen tertentu. Sebagai perbandingan dengan Jepang, alih-alih hanya menganggap camilan, orang Jepang justru menjadikan rumput laut seperti nori dan wakame sebagai pangan harian.
Hampir di setiap hidangan makanan pasti ada menu rumput laut. Hal tersebut tentu menjadi perhatian kita semua terhadap tingkat konsumsi rumput laut nasional yang mendorong kita untuk memulai budaya makan rumput laut.
Rumput Laut sebagai Superfood
Hari ini tren pangan global mulai meninggalkan konsep ”makan supaya kenyang” menuju ”makan supaya sehat”. Rumput laut memiliki hampir semua syarat untuk masuk kategori tersebut.
Rumput laut digadang-gadang sebagai ”superfood” kaya serat pangan, mineral, antioksidan, senyawa fenolik, dan flavonoid, sebagai paket komplet, tidak hanya sebagai sumber pangan, tetapi juga dikaitkan dengan kesehatan pencernaan dan metabolisme tubuh.
Kini sudah banyak peneliti Indonesia yang mulai melakukan riset tentang aplikasi rumput laut sebagai bahan pangan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menjaga tubuh tetap sehat.
Sebagai contoh, telah ada produk beras ”analog” yang dibuat menyerupai beras asli, berasa mirip, tetapi memiliki kandungan glikemik rendah dan kaya serat. Beras dibuat menggunakan tepung beras dan ditambah rumput laut, kemudian dibentuk menjadi beras. Orang yang mengonsumsi dipercaya akan terhindar dari lonjakan gula darah setelah mengonsumsi.
Selama ini juga masyarakat mungkin lebih mengenal rumput laut sebagai bahan ”agar-agar” yang sering dikonsumsi sehari-hari. Padahal, dari komoditas laut itu, lahir berbagai produk bernilai tinggi yang digunakan dalam banyak industri.
Salah satunya adalah ”agar” dan ”karagenan”. Kedua bahan itu mungkin terdengar asing di telinga sebagian orang, tetapi sebenarnya sering kita jumpai dalam berbagai produk makanan dan minuman.
Keduanya berperan penting dalam membentuk tekstur, menjaga kestabilan produk, hingga meningkatkan kualitas berbagai pangan olahan yang kita konsumsi setiap hari. Agar dan karagenan itulah yang membuat rumput laut mentah menjadi primadona untuk diekspor ke luar negeri.
Sebagian besar rumput laut mentah yang diekspor akan menjadi agar dan karagenan yang nilainya menjadi lebih mahal dan mempunyai manfaat dan kegunaan yang lebih banyak.
Rumput Laut sebagai Bahan Nutraceutical dan Kosmetik
Di tengah tren gaya hidup sehat dan meningkatnya minat terhadap produk berbahan alami, rumput laut sebenarnya sedang berada pada momen yang tepat untuk naik kelas. Tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga sebagai bahan baku berbagai produk kesehatan dan kecantikan yang makin diminati di pasar global.
Berbagai jenis rumput laut diketahui mengandung senyawa alami yang memiliki aktivitas antioksidan serta beragam manfaat biologis lainnya. Peneliti pun telah banyak meneliti dan menjadikan rumput laut sebagai produk nutraceutical.
Sebut saja sargasum, rumput laut cokelat yang tumbuh secara alami tanpa dibudidayakan. Hidupnya di dasar, tetapi bisa berdiri tegak karena memiliki gas blader sebagai pelampung. Sargasum telah diteliti dan dapat dijadikan teh yang, apabila dikonsumsi dalam waktu tertentu, dapat menurunkan kadar lemak darah yang berlebih.
Karena itu, rumput laut banyak dilirik sebagai bahan baku untuk produk kesehatan, suplemen, hingga kosmetik berbasis bahan alami.
Salah satu contohnya terlihat pada industri kosmetik yang saat ini tengah berlomba menghadirkan produk berbahan alami dan ramah lingkungan. Kandungan mineral, vitamin, dan senyawa bioaktif dalam rumput laut menjadikannya salah satu bahan yang banyak mendapat perhatian.
Tidak heran jika ekstrak rumput laut kini makin sering ditemukan dalam berbagai produk perawatan kulit dan kecantikan yang beredar di pasaran.
Dengan begitu, banyak manfaat yang dimilikinya, rasanya sayang jika rumput laut hanya dipandang sebagai komoditas budi daya atau bahan ekspor semata. Di saat dunia mulai berburu bahan alami yang sehat, berkelanjutan, dan ramah lingkungan, Indonesia sebenarnya sudah memiliki ”harta karun biru” yang tumbuh di perairan sendiri.
Tantangannya bukan lagi soal ketersediaan sumber daya, melainkan bagaimana mengolah dan memanfaatkannya menjadi produk bernilai tambah yang dapat dinikmati masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing bangsa.