
Takalar, 27 Juli 2026 – Selama ini Ulva reticulata lebih banyak dikenal sebagai rumput laut hijau yang tumbuh melimpah di pesisir. Namun, melalui kegiatan Transfer Teknologi PAIR Sulawesi, masyarakat Desa Punaga, Kabupaten Takalar, diajak melihat potensi baru dari Ulva sebagai biostimulan untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan pigmen alami yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk ramah lingkungan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian Empowering Seaweed Farmers and Developing Environmentally Friendly Derivative Products of Seaweed with a Circular Economy Approach yang didukung oleh Pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) serta Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) dan LPDP, serta dikelola oleh Australia-Indonesia Centre (AIC) di Monash University.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak awal kegiatan. Sebelum praktik dimulai, seluruh peserta mengikuti pre-test untuk mengukur pengetahuan awal mengenai pemanfaatan Ulva reticulata sebagai biostimulan dan pigmen alami. Setelah itu, peserta mengikuti praktik pembuatan kedua produk tersebut secara langsung bersama tim peneliti. Di akhir kegiatan, peserta kembali mengikuti post-test sebagai bagian dari evaluasi untuk mengetahui peningkatan pemahaman setelah mengikuti rangkaian transfer teknologi.
Praktik pembuatan biostimulan dipandu oleh Dr.rer.nat. Elmi Nurhaidah Zainuddin, DES. dari Universitas Hasanuddin, sementara praktik pembuatan pigmen alami dipandu oleh Prof. Dr.rer.nat. Kustiariyah Tarman, DES. dari IPB University. Peserta tidak hanya menyaksikan proses pengolahan, tetapi juga mempraktikkan setiap tahapan sehingga memahami bagaimana Ulva reticulata dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan berpotensi dikembangkan di tingkat masyarakat.
Biostimulan berbahan dasar Ulva reticulata menjadi salah satu inovasi yang sangat menarik perhatian peserta. Sebagian besar masyarakat Desa Punaga memiliki tanaman di sekitar rumah, seperti cabai, terong, timun, jagung, dan berbagai jenis sayuran. Karena itu, biostimulan hasil olahan Ulva dinilai memiliki peluang untuk diaplikasikan secara langsung pada tanaman yang mereka budidayakan. Selain memanfaatkan ketersediaan Ulva yang melimpah di wilayah pesisir, inovasi ini juga berpotensi mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan pupuk kimia.
Tidak kalah menarik, ekstraksi ulva menjadi pigmen alami menghasilkan warna hijau alami yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pewarna pada berbagai produk, mulai dari makanan, tekstil, hingga kosmetik. Pemanfaatan ini membuka peluang baru bagi pengembangan produk turunan rumput laut yang lebih ramah lingkungan sekaligus memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Selain menjadi sarana transfer teknologi, kegiatan ini juga memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, asosiasi, sektor swasta, dan masyarakat. Berbagai mitra penelitian, termasuk PT. Jaringan Sumber Daya (JaSuDa), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Sulawesi Selatan, KOSPERMINDO, dan Asosiasi Petani Rumput Laut (ASPERLI), turut mendukung penyebarluasan hasil penelitian agar dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh masyarakat.
Kegiatan transfer teknologi ini diikuti oleh 30 peserta yang terdiri atas petani rumput laut, kelompok perempuan, penyandang disabilitas, serta kelompok masyarakat rentan. Melalui kegiatan ini, PAIR Sulawesi tidak hanya memperkenalkan hasil penelitian, tetapi juga mendorong masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya lokal menjadi produk yang lebih bernilai. Transfer teknologi tersebut diharapkan menjadi langkah nyata dalam mendukung hilirisasi rumput laut dan menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.