
Sargassum merupakan salah satu jenis rumput laut cokelat yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Namun, pemanfaatan sumber daya pesisir tersebut masih belum optimal sehingga perlu inovasi agar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama The University of Queensland, Australia melakukan kolaborasi riset melalui pendanaan joint research BRIN-KONEKSI Australia untuk mengembangkan pemanfaatan Sargassum. Riset tersebut bertujuan mengolah Sargassum menjadi produk inovatif sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat pesisir.
Peneliti Pusat Riset Elektronika BRIN, Athanasia Amanda Septevani menjelaskan bahwa Sargassum berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah. Melalui kolaborasi yang melibatkan sejumlah Pusat Riset lintas Organisasi Riset BRIN dan mitra Australia, Sargassum tidak hanya diolah menjadi produk yang dapat diterapkan masyarakat seperti ekoenzim, tetapi juga dikaji sebagai sumber biomaterial berkelanjutan untuk pengembangan material fungsional, termasuk substrat elektronika hijau.
“Workshop ini berfokus pada teknologi yang sederhana, mudah diterapkan, dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat melalui pemanfaatan Sargassum menjadi ekoenzim. Ke depan, potensi Sargassum juga akan terus kami kembangkan sebagai biomaterial untuk mendukung inovasi elektronika hijau yang lebih berkelanjutan,” jelas Amanda dalam workshop bertajuk “Peningkatan Nilai Tambah Sargassum sp. melalui Teknologi Produksi Eco-Enzyme” di Kalurahan Duwet, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (21/7).
Peneliti Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Novi Fitria menjelaskan Sargassum memiliki nilai ekonomi tinggi karena dapat dimanfaatkan untuk berbagai bidang, seperti pangan, kesehatan, kosmetik, hingga biomaterial. Rumput laut tersebut mengandung sejumlah senyawa penting, di antaranya alginat sebagai pengental alami, fucoidan yang berpotensi sebagai antikanker dan imunomodulator, polifenol sebagai antioksidan dan antimikroba, manitol sebagai sumber energi alami, serta karotenoid sebagai pewarna alami.
Selain kaya senyawa bioaktif, Sargassum juga mengandung hormon pertumbuhan alami seperti auksin, sitokinin, dan giberelin yang bermanfaat untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Peneliti Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, Rossy Choerun Nissa menjelaskan bahwa kandungan tersebut menjadikan Sargassum potensial dikembangkan untuk berbagai produk berbasis hayati.
Salah satu inovasi yang dikembangkan BRIN adalah ekoenzim berbahan dasar Sargassum. Berdasarkan hasil pengujian antibakteri, ekoenzim tersebut mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen seperti Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.
Kemampuan antibakteri tersebut didukung kandungan senyawa bioaktif hasil analisis fitokimia, yaitu tanin, saponin, flavonoid, dan alkaloid yang memiliki aktivitas antimikroba. “Inovasi ekoenzim ini juga berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk turunan, seperti sabun cair yang ramah lingkungan,” ujar Rossy.
Selain sebagai bahan produk ramah lingkungan, ekoenzim Sargassum juga berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair, membantu mengurangi residu pestisida dan bakteri, mengurangi bau sampah, memperbaiki kualitas air limbah domestik, serta digunakan sebagai bahan pembersih rumah tangga.
Dalam proses pembuatannya, ekoenzim Sargassum menggunakan modifikasi dari metode konvensional. Sargassum terlebih dahulu dicacah, diblender, dan disaring untuk memperoleh ekstrak yang kemudian dicampurkan dengan molase, air bersih, serta larutan EM4.
Campuran tersebut difermentasi selama enam minggu hingga menghasilkan ekoenzim yang siap digunakan. Melalui inovasi ini, BRIN menunjukkan bahwa sumber daya lokal seperti Sargassum dapat dikembangkan menjadi produk berkelanjutan yang memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan.