
MATARAM – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan keterbatasan pasokan bibit rumput laut berkualitas saat ini masih menjadi tantangan utama dalam mendorong peningkatan produksi rumput laut.
"Kegiatan budi daya rumput laut saat ini masalahnya ada pada penyediaan bibit berkualitas," kata Kepala Balai Laboratorium Penguji dan Penerapan Mutu Hasil Perikanan dan Kelautan Mataram Baiq Yuliani Hidayat, dalam pernyataannya di Mataram, NTB, Rabu (14/1).
Yuliani mengatakan penyediaan bibit unggul rumput laut melalui teknologi kultur jaringan yang dikembangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) masih belum mampu menjawab kebutuhan.
Bibit rumput laut melalui teknologi kultur jaringan yang dikembangkan KKP tidak hanya diperuntukkan bagi NTB, tetapi juga mencakup wilayah kerja yang luas mulai dari Bali, NTB, Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Sulawesi.
"Suplai untuk bibit kultur jaringan masih sangat terbatas," ujar Yuliani.
Pada 2025, pemerintah sempat merencanakan perbanyakan bibit rumput laut kultur jaringan.
Agenda itu terkendala kebijakan efisiensi anggaran yang terbit lewat Peraturan Presiden (Perpres), sehingga upaya perbanyakan bibit rumput laut berkualitas belum bisa dilaksanakan secara optimal.
DKP NTB menawarkan kolaborasi dengan perguruan tinggi sebagai langkah strategis dalam menghadapi keterbatasan anggaran akibat efisiensi tersebut. Yuliani menilai kampus berperan penting untuk melakukan riset dan pengembangan bibit unggul, sekaligus mempercepat inovasi dan hilirisasi rumput laut di Nusa Tenggara Barat.
Nusa Tenggara Barat merupakan daerah penghasil rumput laut terbesar kelima di Indonesia.Pada 2024, jumlah produksi rumput laut NTB tercatat sebanyak 704.810 ton. Daerah penghasil rumput laut terbesar di NTB, meliputi Kabupaten Sumbawa, Bima, Lombok Timur, Sumbawa Barat, Dompu, dan Lombok Tengah.
Dosen Biologi Universitas Mataram Mursal Ghazali mengatakan Nusa Tenggara Barat memiliki potensi rumput laut yang luar biasa. Beberapa spesies lokal rumput laut yang bisa ditemui di sekitar perairan NTB, di antaranya Gelidium dan Ulva lactuca.
"Tahun 2026 ini kami mencoba melakukan domestikasi. Kami coba budidayakan, sehingga kebutuhan rumput laut menjadi terpenuhi khusus untuk konsumsi lokal," sebut Mursal.