Untitled Document
Selasa , 28 April 2026 | L O G I N |    
  home kami produk jasa berita infoharga komunitas galery transaksi  
Untitled Document
   
M e d i a  
Berita
Litbang
Publikasi
Terminal JaSuDa
Amarta Project
Port Data
 
   
 
 
 
Berita / Litbang
 
 
 
Industri Rumput Laut Masih Temui Tantangan Berat, Apa Saja?
Selasa, 20 Mar 2018 - Sumber: http://www.mongabay.co.id/ - Terbaca 5612 x - Baca: 27 Apr 2026
 
Tantangan berat masih dirasakan sektor perikanan budidaya dalam mengembangkan rumput laut sebagai komoditas utama di Indonesia. Tantangan itu di antaranya adalah masih minimnya diversifikasi produk, persyaratan pasar global, persaingan antar produsen, zonasi dan infrastruktur, dan minimnya investasi berbasis rumput laut.

Pengakuan itu diungkapkan Direktur Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto di Jakarta pekan ini. Menurut dia, walau Indonesia saat ini menjadi negara net eksportir nomor satu dunia untuk komoditas rumput laut, tetapi pada kenyataannya 80 persen ekspor masih didominasi oleh produk bahan baku kering (raw material).

“Untuk jenis Eucheuma Cottoni dan Gracilaria kita jadi nomor satu. Tapi kita masih didominasi oleh bahan baku kering, artinya nilai tambah ekonomi yang dirasakan masih minim,” ungkapnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Slamet mengaku sudah menyiapkan langkah dan strategi melalui pembangunan industrialisasi rumput laut nasional. Cara tersebut, diharapkan bisa memberikan nilai tambah ekonomi lebih tinggi dari sebelumnya.

Menurut Slamet, melalui industrialisasi nasional, pihaknya akan melakukan upaya untuk menggenjot produksi yang berkualitas di hulu. Salah satu yang dilakukan, adalah melalui pengembangan kawasan budidaya rumput laut berbasis klaster, pengembangan kebun bibit rumput laut hasil kultur jaringan, dan pengembangan sistem kebun bibit rumput laut yang memenuhi estetika.

“Dan (juga) kaidah ramah lingkungan serta telah digunakan secara luas oleh pembudidaya,” tambahnya.

Bibit rumput laut hasil kultur jaringan memiliki performa yang baik, termasuk lebih adaptif dan pertumbuhan yang lebih cepat. Teknologi tersebut, akan diterapkan di enam unit pelaksana teknis (UPT) pada Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya dan didorong untuk menjadi sentra pengembangan kultur jaringan.

Keenam UPT tersebut, kata Slamet, adalah Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPB) Lampung, Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon (Maluku) dan Lombok (Nusa Tenggara Barat), Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara (Jawa Tengah), serta Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Situbondo (Jawa Timur) dan Takalar (Sulawesi Selatan).

Indonesia Timur

Tak hanya fokus pada enam UPT, untuk mendongkrak produksi rumput laut, KKP kini fokus menggarap potensi yang ada di kawasan-kawasan terluar dan perbatasan. Sejak 2016, KKP merintis pembangunan sentra kelautan dan perikanan terpadu (SKPT), dimana salah satu fokus pengembangannya yakni budidaya rumput laut, seperti di Kabupaten Sumba Timur dan Rote Ndao di Nusa Tenggara Timur.

Selain di NTT, Slamet mengungkapkan, fokus pengembangan sentra rumput laut juga dilakukan di kawasan Indonesia Timur lainnya. Termasuk, di Provinsi Papua dan Papua Barat, khususnya di Kabupaten Fak Fak, Kaimana, Sorong, Biak Numfor, dan Kepulauan Yapen. Kemudian di Maluku, NTB, Sulawesi dan daerah potensial lainnya di seluruh Indonesia.

Untuk saat ini, kata Slamet, pengembangan di Indonesia Timur sudah dimulai dari Kabupaten Fak Fak dan diharapkan ke depan seluruhnya menggunakan bibit rumput laut cottonii strain Maumere dari hasil kultur jaringan.

Tak cukup disitu, Slamet memastikan, seluruh rumput laut yang dikembangkan di semua sentra, akan diproduksi melalui proses ramah lingkungan dan terjamin keamanannya. Kemudian, agar kepercayaan pasar tetap terjaga, KKP akan mendorong lebih banyak penerbitan sertifikasi CBIB (cara budidaya ikan yang baik) yang didalamnya meliputi aspek ketelusuran (traceability), keamanan pangan (food safety), dan keberlanjutan (sustainability).

Untuk menjamin sektor hulu terhindar dari tumpang tindih kepentingan dan menjamin iklim usaha yang kondusif, Slamet meminta agar pemerintah propinsi untuk segera menyelesaikan Peraturan Daerah terkait Rencana Zonasi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Kecil (RZWP3K). Regulasi ini sangat penting, untuk menjamin eksistensi dan keberlanjutan usaha budidaya rumput laut.

Selain di hulu, Slamet memastikan, pihaknya juga mengawasi sistem produksi yang ada di hilir dengan mendorong rumput laut Indonesia untuk bisa memiliki daya saing lebih tinggi. Caranya, adalah dengan menciptakan efisiensi produksi dan jaminan mutu.

“Untuk memutus rantai distribusi pasar yang panjang, Pemerintah telah mendorong pembangunan industri pengolahan di sentra-sentra produksi baik yang dibangun oleh pemerintah maupun swasta,” tegas dia.

Berkaitan dengan mutu rumput laut yang ada di Indonesia, Slamet menerangkan, Pemerintah juga terus mendorong agar semua produksi dan pengolahannya sudah memenuhi sertifikasi standar nasional Indonesia (SNI) dan persyaratan ekspor. Adapun, beberapa item yang menjadi fokus adalah seperti penerapan Cara Pengolahan Ikan yang Baik (Good Manufacturing Practices) dan memenuhi persyaratan Prosedur Operasi Sanitasi Standar (Standar Sanitation Operating Procedure).

Untuk distribusi produk rumput laut, Slamet menyebut, KKP akan menggandeng instansi lain seperti Pelni dan ASDP. Kedua instansi tersebut digandeng, karena keduanya terlibat dalam pengelolaan tol laut. Melalui jalur tol laut, nantinya diharapkan seluruh potensi sektor perikanan, termasuk rumput laut, bisa didistribusikan lebih cepat.

Hulu ke Hilir

Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia Safari Azis memberi komentar tentang rencana pengembangan komoditas rumput laut oleh Pemerintah Indonesia. Menurut dia, rencana tersebut dinilainya sudah baik, namun sebaiknya KKP harus memastikan rantai produksi dari hulu hingga hilir kondusif bagi dunia usaha.

Menurut Azis, di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, pihaknya sudah memfasilitasi anggotanya untuk memanfaatkan rumput laut di kabupaten melalui kerja sama dengan KKP dan pemerintah daerah. Dari kerja sama itu, kemudian berhasil dilakukan ekspor perdana rumput laut ke Tiongkok pada Februari lalu.

“Ekspor perdana berupa alkali treated gracillaria atau ATG. Kondisi kondusif seperti ini kami harapkan dapat terjadi didaerah lainnya, “ harapnya.

Meski berhasil, tetapi Azis buru-buru mengingatkan bahwa saat ini era perdagangan bebas telah memberlakukan sistem rantai pasok dan rantai nilai global, dan itu berlaku untuk rumput laut Indonesia. Sistem tersebut memerlukan nilai tambah di sektor hilir dan berdampak pada pembudidaya yang ada di sektor hulu.

“Industri hulu hingga hilir memiliki nilai masing-masing,” tandasnya.

Dia berharap,pengembangan sektor hulu benar-benar menjadi perhatian Pemerintah untuk menjamin pengembangan di sektor hilir. Di antara langkah pengembangan sektor hulu, yaitu melalui ekstensifikasi dan intensifikasi budidaya rumput laut.

Menurut Azis, pengembangan di hulu sudah selaras dengan langkah-langkah yang dilakukan KKP. Selanjutnya, bagaimana memastikan proses produksi di sektor hulu benar-benar ramah lingkungan untuk menjamin keberkelanjutan budidaya.

Diketahui, kinerja positif subsektor perikanan budidaya selama lima tahun terakhir (2013-2017) memacu KKP untuk terus memperkuat pengembangan berbagai komoditas budidaya mulai dari hulu hingga hilir, termasuk tata niaga dan pemasaran.

Salah satu komoditas perikanan budidaya yang menjadi fokus KKP untuk terus dikembangkan adalah rumput laut. Langkah ini diambil guna memastikan rumput laut Indonesia mampu menghadapi berbagai tantangan yang berkembang di masa yang akan datang.

Kinerja positif tersebut dapat dilihat dari volume produksi rumput laut nasional yang tumbuh rerata sebesar 11,8 persen per tahun, dimana angka sementara tahun 2017, produksi rumput laut nasional tercatat sebesar 10,8 Juta ton.

Nilai ekspor rumput laut juga mengalami pertumbuhan sebesar 3,09 persen per tahun. Neraca perdagangan rumput laut Indonesia juga tercatat positif, dengan indeks spesialisasi produk (ISP) lebih tinggi dibanding negara-negara eksportir lainnya.

Kondisi ini menandakan bahwa produk rumput laut memiliki daya saing kompetitif yang tinggi atau Indonesia merupakan negara net eksportir rumput laut.
 
 
 
More Berita
 
1 . Pelatihan Integrated Ulva spp. Value Chain Training
  Selasa, 28 Apr 2026-Irna Aswanti Ibrahim - Terbaca 14 x
2 . DPR Dukung Rumput Laut dan Singkong Jadi Pengganti Plastik Impor
  Senin, 20 Apr 2026-https://www.babelinsight.id/ - Terbaca 52 x
3 . Pengiriman Ulva sebagai Bahan Baku Industri Terus Meningkat
  Jumat, 10 Apr 2026-Irna Aswanti Ibrahim - Terbaca 80 x
4 . Tren Akuakultur Semakin Menjauh dari Target Iklim, Rumput Laut Ditinggalkan
  Selasa, 07 Apr 2026-https://www.suara.com/ - Terbaca 87 x
5 . KM Logistik Nusantara 5 Tambah Kapasitas untuk Dukung Pengiriman Rumput Laut
  Selasa, 31 Mar 2026-https://radartarakan.jawapos.com/ - Terbaca 107 x
6 . Kunjungan KKP ke Jasuda, Olahan Rumput Laut Sulsel Siap Naik Level
  Jumat, 27 Mar 2026-Dian Maya Sari - Terbaca 125 x
7 . Potensi Rumput Laut sebagai Sumber Energi Terbarukan
  Rabu, 25 Mar 2026-https://bahasa.newsbytesapp.com/ - Terbaca 150 x
 
 
 
More Litbang
 
1 . Pengembangan Pewangi Ruangan Ramah Lingkungan Berbasis Ekstrak Rumput Laut dan Kulit Jeruk
  Selasa, 07 Apr 2026 - https://www.formosa.news/ - Terbaca 85 x
2 . Inovasi Hijau dari Laut: Rumput Laut Lokal Berpotensi Jadi Sumber Antioksidan dan Antibakteri Alami
  Selasa, 31 Mar 2026 - https://unair.ac.id/ - Terbaca 106 x
3 . BRIN Gali Potensi Rumput Laut dalam Pengembangan Obat Modern
  Jumat, 27 Mar 2026 - https://brin.go.id/ - Terbaca 137 x
4 . Peneliti UNDIP Kembangkan Teknologi Inovasi Pengering Rumput Laut
  Rabu, 25 Mar 2026 - https://kemdiktisaintek.go.id/ - Terbaca 143 x
5 . Cara Membuat Karagenan Rumput Laut yang Praktis
  Senin, 09 Mar 2026 - https://jualmesinrumputlaut.wordpress.com/ - Terbaca 233 x
6 . Manfaat Jelly Berbahan Rumput Laut untuk Berbuka, Dukung Asupan Serat Selama Ramadan
  Senin, 02 Mar 2026 - https://lifestyle.bisnis.com/ - Terbaca 221 x
7 . “Rumput Laut + Magnet + Biomassa E. coli” untuk Menangkap Tetrasiklin dari Air
  Senin, 23 Feb 2026 - https://unair.ac.id/ - Terbaca 225 x
 
 
Untitled Document
https://dpmn.pasamanbaratkab.go.id/ https://said.bondowosokab.go.id/ https://lejuk.belitung.go.id/ https://dinkes.sijunjung.go.id/ https://prancis.fkip.unila.ac.id/ https://dokar.dishub.grobogan.go.id/ https://tengah.magelangkota.go.id/ https://bpm.univpgri-palembang.ac.id/ https://dukcapil.sumbatimurkab.go.id/ https://laikateks.fmipa.uho.ac.id/ https://dpmd.hulusungaiselatankab.go.id/ berita hari ini produk kecantikan Belajar di Rumah Jadi Lebih Produktif Tips & Saran Ampuh Agar Nggak Cepat Bosan Peluang Bisnis UMKM Terbaru 2025 rahasia wanita mastering slot machine poker online manfaat obat kuat slot games https://ffnagajp1131.org/
http://acr.ffvelo.fr/ http://ecbc.ffvelo.fr/
SLOT GACOR # Link Login Situs Game Online Resmi & Gampang Maxwin Hari Ini BOS01 : Agen Slot Gacor Maxwin Hari Ini Provider Hits Slot88 Dan Slot777 Online 2025 BOS911 : Situs Slot Gacor Terbaru & Link Login Slot88 Resmi 2025 Bos01 Bos01 Bos911 Bos911 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos911 Bos01 Bos01 Bos01 Lumbung4d Bos01 Bos01 Lumbung4d Bos01
Team JaSuDa
Kerjasama Kami
Mitra Kami
Cara Pesan Produk
Berita | Litbang
Terminal JaSuDa
Amarta Project
Info Harga RL
Galeri Photo
Statistik Website
Visitors 1,641,360 Kali
Member JaSuDa 10,756 Org
Buku Promosi 809 lihat
Konsultasi Online 2764 lihat
Jl Politeknik 14 Pintu Nol Unhas Tamalanrea Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia
PT. JARINGAN SUMBER DAYA (JaSuDa.nET)
All Rights Reserved. Created 2005, Revised 2022. Hosted IDW
Asosiasi dengan SiPlanet Foundation dan Afiliasi dengan Posko UKM JaSuDa
Developed by Irsyadi Siradjuddin