
Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan potensi sumber daya laut yang sangat besar. Selain ikan dan udang, rumput laut menjadi salah satu komoditas penting yang menopang ekonomi masyarakat pesisir. Di balik tampilannya yang sederhana, beberapa jenis rumput laut ternyata menyimpan senyawa bioaktif bernilai tinggi. Salah satunya adalah Caulerpa racemosa, rumput laut hijau yang sering dikonsumsi sebagai lalapan laut. Tidak hanya bergizi, rumput laut ini mengandung senyawa antioksidan dan antibakteri alami yang berpotensi dimanfaatkan dalam bidang kesehatan, pangan, dan akuakultur.
Rumput laut C. racemosa diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti terpenoid, polifenol, alkaloid, dan flavonoid. Senyawa-senyawa ini berperan sebagai antioksidan yang membantu melindungi tubuh dari radikal bebas. Radikal bebas merupakan molekul tidak stabil yang dapat merusak sel tubuh, memicu penuaan dini, hingga meningkatkan risiko penyakit degeneratif seperti kanker dan penyakit jantung. Selain itu, kandungan metabolit sekunder dalam rumput laut ini juga mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen, sehingga berpotensi digunakan sebagai antibakteri alami.
Namun, untuk mendapatkan senyawa bioaktif tersebut, diperlukan proses ekstraksi yang tepat. Selama ini, ekstraksi senyawa alami sering menggunakan pelarut kimia konvensional seperti metanol atau n-heksana. Masalahnya, pelarut tersebut bersifat toksik, kurang ramah lingkungan, dan tidak ideal untuk produk pangan atau kesehatan. Karena itu, para peneliti mulai mengembangkan metode ekstraksi yang lebih aman menggunakan pelarut ramah lingkungan atau green solvent. Salah satu teknologi yang mulai banyak dikembangkan adalah Deep Eutectic Solvent (DES), yaitu pelarut hasil kombinasi dua senyawa yang menghasilkan sifat pelarut baru yang lebih stabil dan efisien.
Dalam penelitian ini, DES dibuat dari campuran etanol dan etilen glikol. Kombinasi ini dipilih karena mampu menjaga stabilitas senyawa antioksidan sekaligus meningkatkan efisiensi proses ekstraksi. Penelitian kemudian menguji berbagai kondisi ekstraksi, mulai dari konsentrasi pelarut, rasio bahan dan pelarut, hingga lama waktu perendaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi pelarut dan waktu ekstraksi menjadi faktor paling menentukan keberhasilan ekstraksi senyawa antioksidan dari rumput laut.
Kondisi terbaik ditemukan pada penggunaan DES 10%, rasio bahan dan pelarut 1:20, serta waktu ekstraksi selama 72 jam. Pada kondisi ini, aktivitas antioksidan ekstrak mencapai sekitar 50,50 mg TE per gram berat kering. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan ekstraksi menggunakan air atau etanol biasa, yang menunjukkan bahwa teknologi DES mampu meningkatkan efisiensi ekstraksi senyawa bioaktif.
Keunggulan DES pada konsentrasi 10% diduga berkaitan dengan sifat viskositasnya yang lebih rendah, sehingga memudahkan perpindahan senyawa bioaktif dari jaringan rumput laut ke dalam pelarut. Semakin mudah senyawa larut, semakin tinggi pula kandungan antioksidan yang dapat diperoleh dalam ekstrak.
Selain sebagai antioksidan, ekstrak C. racemosa juga menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap dua bakteri patogen penting dalam dunia perikanan, yaitu Vibrio harveyi dan Vibrio parahaemolyticus. Pada konsentrasi ekstrak tinggi, zona hambat bakteri dapat mencapai sekitar 12–15 mm, yang menunjukkan kemampuan antibakteri yang cukup kuat. Aktivitas ini diduga berasal dari senyawa seperti alkaloid dan fenol yang mampu merusak dinding sel bakteri dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme.
Temuan ini membuka peluang besar pemanfaatan rumput laut lokal sebagai sumber bahan alami bernilai tinggi. Teknologi pelarut hijau seperti DES tidak hanya meningkatkan kualitas ekstrak, tetapi juga mendukung pengolahan bahan alam yang lebih aman dan ramah lingkungan. Dengan pendekatan ini, rumput laut tidak lagi hanya dipandang sebagai bahan pangan tradisional, tetapi juga sebagai sumber senyawa fungsional untuk masa depan industri pangan, kesehatan, dan akuakultur berkelanjutan.
Satyantini, W. H., Izzata, A. K., Tjahjaningsih, W., Kurnia, K. A., & Yasin, I. S. M. (2025). Antioxidant and antibacterial activities of Caulerpa racemose extract with a combination of solvents and variation of maceration time: Aktivitas antioksidan dan antibakteri ekstrak Caulerpa racemosa dengan kombinasi pelarut dan variasi waktu maserasi. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia, 28(11).