Untitled Document
Rabu , 17 Juni 2026 | L O G I N |    
  home kami produk jasa berita infoharga komunitas galery transaksi  
Untitled Document
   
M e d i a  
Berita
Litbang
Publikasi
Terminal JaSuDa
Amarta Project
Port Data
 
   
 
 
 
Berita / Litbang
 
 
 
Rumput Laut, Guru Mengenal Diri
Rabu, 23 Apr 2008 - Sumber: http://www.selayar.com - Terbaca 5438 x - Baca: 16 Jun 2026
 
Di penghujung 1980-an, usaha rumput laut di pantai barat pulau Selayar tumbuh laksana cendawan di musim hujan. Di mana-mana laut di sepanjang pulau itu seakan tidak mau memberikan ruang gerak pemandangan lain kecuali hamparan rakit-rakit rumput laut. Masalahnya muncul ketika hasil panen sudah berlimpah. Masyarakat dibuat pusing memikirkan, mau memasarkan ke mana hasil keringat mereka. Rumput laut yang dipelihara setengah mati akhirnya jadi sampah di kolong-kolong rumah penduduk, membusuk mengeluarkan bau kurang sedap. Walaupun mungkin pembiak perintis masih sempat mendapatkan sedikit keuntungan pada penjualan bibit-bibit untuk pembiak generasi penjiplak. Tentu semua berharap, penjualan perkilo-nya pasca panen bisa sedikit menjadi sumber pendapatan tambahan keluarga. Tapi kenyataannya, mereka harus kembali meratapi nasib. Dewi fortuna kembali enggan berpihak lepada mereka. Modal sudah lari, hasilnya jadi sampah. Kalaupun ada yang berniat membeli, harganya justru tidak kuat lagi menutupi modal-modal yang telah mereka keluarkan. Belum lagi tenaga yang terkuras tidak tergolong kecil.


Apakah prinsif ketidakseimbangan SUPPLY-DEMAND yang menyebabkan harga hasil panen tidak sesuai dengan harapan? Apakah supply yang mereka hasilkan sudah sedemikian banyaknya sehingga tidak mampu diserap oleh pasar? Boleh jadi iya, tapi tentu ada juga opsi yang mengatakan tidak, yang justru ini yang paling masih masuk di akal. Mungkin saja dalam skala mini, tingkat supply demikian tinggi jauh dari demand yang sebenarnya ada. Tapi dalam skala major, hasil mereka itu tidaklah seberapa dari segi kuantitas.


Lalu apa yang salah?


Yang pertama pemerintah seakan tidak mau mengerti tentang apa yang rakyatnya inginkan. Tidak ada backup dari pemkab yang kelihatan dalam kasus ini. Rakyat jalan sendiri-sendiri mengikuti ego dan harapan muluknya. Dan mirip kasus vanili beberapa tahun terakhir ini, pengikut-pengikut belakangan yang jumlahnya tidak tergolong sedikit, bisa jadi hanya merasakan nasib "sudah jatuh ditimpa tangga". Modal sudah dihabiskan untuk ikutan trend sesaat itu, tapi harga hasil panennya tidak seperti apa yang mereka harapkan. Bukan untung yang datang menjenguk, malah buntung yang setia menjemput.


Lha..., koq pemerintah?


Kasus-kasus seperti ini sudah berulang kali terjadi. Tapi masyarakat yang memang masih bodoh, tidak pernah diarahkan. Lalu apalah gunanya dinas pertanian misalnya. Apakah memang tugas utama instansi itu hanyalah mencari peluang proyek berupa bantuan dari pusat untuk dihibahkan ke masyarakat luas? Yang itupun tidak ada tindak lanjut membangun yang kelihatan. Akhirnya "niat" untuk memberikan kail kepada masyarakat kurang mampu agar bisa memancing ikan sendiri, hasinya kail sendiri yang hilang entah ke mana. Masih tergolong beruntung kalau kailnya dijual untuk membeli beras misalnya. Secara akal sehat terbayang adanya hal-hal kekurangberesan dalam masalah ini.


Kita, terutama instansi pemerintah terkait ternyata tidak mengenal diri sendiri. Padahal dalam sebuah pertempuran, bukan kekuatan musuh yang paling utama harus mengerti secara detail, walau mengenal musuh juga termasuk penting. Kita lebih perlu mengenal siapa diri kita sendiri. Dengan itu kemenangan sudah 50 % ada di tangan, walau kita buta sama kekuatan musuh sekalipun. Walaupun kita mengenal seluk beluk musuh, bila apa yang ada di diri sendiri tidak pernah kita tau, pastikan bahwa kekalahan akan selalu menjadi teman. Tentu yang paling utama dan akan membuahkan 100 % kemenangan adalah mengenal diri sendiri dan juga mengenal seperti apa musuh yang sesungguhnya.


Dalam konteks manajerial masyarakat kita yang masih termasuk Lugo ini, justru instansi terkait yang seyogyanya menjadi pemimpin di barisan terdepan untuk mengarahkan. Itupun kalau memang ada niat untuk mengangkat tingkat kehidupan masyarakat secara umum, yang bukan cuma dalam bentuk retorika. Toh orang-orang di pemerintahan, sebagaimana slogan yang selalu didengun-dengunkan adalah "abdi negara", "abdi masyarakat". Tentu kemaslahatan masyarakat banyak yang harus jadi prioritas utama. Otak harus diputar mencari solusi mengeluarkan masyarakat dari kerangkeng kemiskinan. Salah satunya adalah mencari tau apa potensi yang ada dalam masyarakat. Ini identik dengan mencari tahu tentang diri sendiri. Lalu, step selanjutnya adalah kemana potensi itu akan diarahkan, yang mana ini salah saru realisasi mengenal wujud musuh yang sebenarnya.


Contoh nyata adalah rumput laut seperti diungkit dalam aliea awal. Diri sendiri saja belum kita kenal. Apalagi siapa sang musuh yang sesungguhnya, lebih-lebih kita tidak mengenalnya. Hasilnya....., yah seperti yang kita alami sendiri. Sesuai teori di atas, 100 % pasti mengalami kekalahan. Ini hukum alam, yang di negeri sakura sana diungkapkan " Teki wo siri, ko wo sireba, hyaku sen ayaukarazu ".


Pemkab Takalar ternyata tidak mau kehilangan tongkat dua kali. Dan hasilnya seperti dilansir oleh harian Fajar, saat ini Takalar telah menjadi inkubator pengembangan rumput laut di Sulsel. Sementara daerah sekitarnya seperti Jeneponto, Bantaeng dan Bulukumba hanyalah sebagai daerah penunjang atau yang lasim disebutkan sebagai kluster.


Beberapa tahun terakhir Takalar mulai mencanangkan "Gerbang Emas" terhadap rumput laut ini. Akibatnya produk meningkat yang bahkan membias ke daerah-daerah sekitarnya. Dalam hal ini, peran pemkab tidak tergolong kecil. Mereka berusaha mengenali diri sendiri. Potensi yang mereka lihat adalah rumput laut itu. Dana 1 milyar pun diambil dari kocek APBD sebagai bantuan modal kepada petani rumput laut di Takalar.


Dalam rangka mengetahui medan lawan, pemkab Takalar ternyata cukup brilyan. Pengusaha besar sebagai peninjaklanjut hasil rumput laut petani-pun diundang untuk saling ber-simbiosis mutualisme. Dengan dukungan suasana yang kondusif, gayungpun bersambut. Karena memang pengusaha yang lebih tahu medan, ke mana hasil-hasil petani tersebut bisa diserap. Dan memang ternyata pasar dunia tidak pernah kenyang akan pasokan rumput-rumput laut itu. Dari negara-negara Eropa seperti Jerman, Prancis, Inggeris sampai ke kawasan asia seperti hongkong, Jepang dan lain-lainnya memang sebuah pasar yang tidak akan pernah berhenti minta pasokan rumput laut. Dari industri kosmetik, obat-obatan, sampai sebagai bahan makanan selalu membutuhkannya.


Kini, Kabupaten Takalar menjadi jaya dari segi rumput laut. Pasar dunia sudah dirambah. Tinggal menjaga kesinambungan dan kwalitas hasil mereka. Pasar tidak akan pernah berhenti minta pasokan. Karena masyarakat dunia tidak pernah berhenti membutuhkan barang yang bahan bakunya banyak dari rumput laut.


Kalau saja dulu, Selayar dengan pemerintah sebagai icon terdepan, mau mengenali diri sendiri, lalu berusaha mencari tahu tentang pasar sebagai lawan, bukan cerita muluk kalau Selayar telah lama berjaya lewat rumput laut itu. Karena kita punya potensi pantai yang begitu luas sebagai medium pembiakan rumput laut tersebut. Sekarang kita hanya bisa gigit jari melihat tetangga sebelah berjaya di medan yang sebetulnya kita pernah bergumul di dalamnya. Dan tentu masih ada lagi contoh kongkrit lain yang mirif dengan fenomena rumput laut ini.


Akankah kita akan terus meratapi nasib yang kata kita tidak pernah berpihak kepada kita? Lalu menyalahkan sang nasib tersebut. Tentu tidak. Akan tetapi sungguh naif kalau otak kita hanya sampai pada kata "TIDAK" tersebut. Kita mesti belajar. Pemerintah tentu harus lebih giat belajar lagi. Bukan mengarahkan anggaran ini ke kotak-kotak pengeluaran yang semu. Pelajari siapa diri ini sesungguhnya. Apa potensi yang ada pada diri ini. Dengan itu kita sudah bisa melangkah ke 50% kemenangan. Tanpa itu, kita tidak tau, sampai kapan kita akan tetap gigit jari.
 
 
 
More Berita
 
1 . JASUDA Fasilitasi Webinar Seri ke-2 INTROSEA Bahas Transformasi Industri Rumput Laut
  Kamis, 11 Jun 2026-Irna Aswanti Ibrahim - Terbaca 53 x
2 . Rumput Laut, 'Superfood' untuk Ketahanan Pangan Bangsa Maritim
  Senin, 08 Jun 2026-https://harian.disway.id/ - Terbaca 68 x
3 . Kegiatan Penanaman Siklus Pertama dalam Penelitian Kolaboratif KONEKSI di Takalar
  Sabtu, 06 Jun 2026-Irna Aswanti Ibrahim - Terbaca 71 x
4 . Peran Budidaya Rumput Laut terhadap Kesejahteraan Masyarakat Pesisir di Sulawesi Selatan
  Selasa, 02 Jun 2026-https://pelakita.id/ - Terbaca 96 x
5 . Dialog dengan Petani Budidaya Rumput Laut Rote Ndao, Wapres Tekankan Modernisasi dan Hilirisasi
  Selasa, 26 May 2026-https://www.wapresri.go.id/ - Terbaca 111 x
6 . Kolaborasi PT JASUDA dan Universitas Gunadarma : Hadirkan Inovasi Alat Pengering Higienis
  Sabtu, 23 May 2026-Irna Aswanti Ibrahim dan Dian Maya Sari - Terbaca 100 x
7 . BI: Sulawesi Layak Jadi Pusat Hilirisasi dan Industri Rumput Laut Nasional
  Jumat, 22 May 2026-https://mediasultra.com/ - Terbaca 95 x
 
 
 
More Litbang
 
1 . Formulasi Minuman Kopi Rumput Laut dan Biji Pala dengan Variasi Waktu Penyangraian yang Berbeda
  Senin, 08 Jun 2026 - https://ojs.umrah.ac.id/ - Terbaca 72 x
2 . Kreativitas Warga, Batok Kelapa Diubah Menjadi Pelampung Budidaya Rumput Laut
  Selasa, 02 Jun 2026 - https://rri.co.id/ - Terbaca 80 x
3 . Inovasi Teh Rumput Laut Antidiabetes dari Peneliti Perikanan UGM Tembus Jurnal Internasional
  Selasa, 26 May 2026 - https://fish.faperta.ugm.ac.id/ - Terbaca 107 x
4 . Teknologi Solar Dryer Dome dari SITH ITB Hadirkan Solusi Pascapanen Rumput Laut di Sumba Tengah
  Jumat, 22 May 2026 - https://sith.itb.ac.id/ - Terbaca 169 x
5 . Pengembangan Pewangi Ruangan Ramah Lingkungan Berbasis Ekstrak Rumput Laut dan Kulit Jeruk
  Selasa, 07 Apr 2026 - https://www.formosa.news/ - Terbaca 196 x
6 . Inovasi Hijau dari Laut: Rumput Laut Lokal Berpotensi Jadi Sumber Antioksidan dan Antibakteri Alami
  Selasa, 31 Mar 2026 - https://unair.ac.id/ - Terbaca 220 x
7 . BRIN Gali Potensi Rumput Laut dalam Pengembangan Obat Modern
  Jumat, 27 Mar 2026 - https://brin.go.id/ - Terbaca 238 x
 
 
Untitled Document
https://dpmn.pasamanbaratkab.go.id/ https://said.bondowosokab.go.id/ https://lejuk.belitung.go.id/ https://dinkes.sijunjung.go.id/ https://prancis.fkip.unila.ac.id/ https://dokar.dishub.grobogan.go.id/ https://tengah.magelangkota.go.id/ https://bpm.univpgri-palembang.ac.id/ https://dukcapil.sumbatimurkab.go.id/ https://laikateks.fmipa.uho.ac.id/ https://dpmd.hulusungaiselatankab.go.id/ berita hari ini produk kecantikan Belajar di Rumah Jadi Lebih Produktif Tips & Saran Ampuh Agar Nggak Cepat Bosan Peluang Bisnis UMKM Terbaru 2025 rahasia wanita mastering slot machine poker online manfaat obat kuat slot games https://ffnagajp1131.org/
http://acr.ffvelo.fr/ http://ecbc.ffvelo.fr/
SLOT GACOR # Link Login Situs Game Online Resmi & Gampang Maxwin Hari Ini BOS01 : Agen Slot Gacor Maxwin Hari Ini Provider Hits Slot88 Dan Slot777 Online 2025 BOS911 : Situs Slot Gacor Terbaru & Link Login Slot88 Resmi 2025 Bos01 Bos01 Bos911 Bos911 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos911 Bos01 Bos01 Bos01 Lumbung4d Bos01 Bos01 Lumbung4d Bos01
Team JaSuDa
Kerjasama Kami
Mitra Kami
Cara Pesan Produk
Berita | Litbang
Terminal JaSuDa
Amarta Project
Info Harga RL
Galeri Photo
Statistik Website
Visitors 1,649,153 Kali
Member JaSuDa 10,763 Org
Buku Promosi 809 lihat
Konsultasi Online 2764 lihat
Jl Politeknik 14 Pintu Nol Unhas Tamalanrea Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia
PT. JARINGAN SUMBER DAYA (JaSuDa.nET)
All Rights Reserved. Created 2005, Revised 2022. Hosted IDW
Asosiasi dengan SiPlanet Foundation dan Afiliasi dengan Posko UKM JaSuDa
Developed by Irsyadi Siradjuddin