
Ketua DPR Papua Denny Henrry Bonai mendorong pengembangan budidaya rumput laut di Kampung Sarawandori, Distrik Kosiwo, Kabupaten Kepulauan Yapen, menjadi sentra ekonomi masyarakat sekaligus dikembangkan melalui hilirisasi produk.
Dorongan tersebut disampaikan Denny saat melaksanakan reses di daerah pemilihannya, Kabupaten Kepulauan Yapen, yang dirangkaikan dengan Festival Teluk Mioka 2026 di Sarawandori, pada Sabtu (22/8) lalu.
Dalam kegiatan tersebut, Denny bersama masyarakat melakukan panen rumput laut yang sebelumnya ditanam Gubernur Papua Mathius D. Fakhiri saat melakukan kunjungan kerja ke Kepulauan Yapen. Selain panen, dilakukan pula penanaman kembali rumput laut.
Denny mengatakan, potensi rumput laut di Sarawandori sangat besar karena memiliki varietas yang mampu tumbuh lebih cepat dibandingkan daerah lain. “Kalau dari 60 gram, sekitar 45 hari kemudian satu ikatan bisa berkembang menjadi satu kilogram. Di tempat lain dengan varietas yang sama, bisa sampai tiga bulan untuk mendapatkan satu kilogram,” kata Denny, di Jayapura, Kamis (27/8).
Menurut dia, masyarakat Sarawandori telah memiliki pengalaman panjang dalam mengembangkan budidaya rumput laut. Budidaya tersebut mulai dikembangkan sejak 2013 dan terus mengalami perkembangan, dari awalnya hanya lima kelompok hingga kini mencapai lebih dari 30 kelompok.
“Orang-orang di daerah itu sudah ahli menanam rumput laut. Mereka juga sering mengikuti kegiatan di luar daerah untuk mewakili kabupaten maupun provinsi,” ujarnya.
Denny menilai budidaya rumput laut memberikan keuntungan ekonomi yang relatif cepat bagi masyarakat. Dengan masa panen sekitar 40–45 hari, hasilnya dapat segera dijual sehingga menjadi salah satu sumber pendapatan masyarakat.
“Rumput laut ini paling cepat. Sekitar 40 hari sudah panen dan uang sudah bisa cair. Kalau berkebun, belum tentu langsung laku. Kalau ini jelas, harganya jelas,” katanya.
Ia menyebut hasil produksi rumput laut masyarakat selama ini telah memiliki pembeli di Serui. Namun, pemerintah daerah kini tengah melihat peluang pemasaran langsung ke Surabaya untuk memperoleh harga yang lebih baik.
Menurut Denny, peluang tersebut masih perlu dikaji, terutama terkait kapasitas produksi dan kebutuhan pasar. Pihak terkait tengah menghitung kuota pengiriman per bulan agar pemasaran dapat dilakukan secara lebih terukur.
Selain mendorong peningkatan produksi, Denny juga menekankan pentingnya hilirisasi agar masyarakat tidak hanya menjual rumput laut dalam bentuk bahan mentah.
Menurutnya, Festival Teluk Mioka 2026 menjadi momentum untuk memperkenalkan berbagai produk olahan rumput laut hasil kreativitas masyarakat dan pelajar. “Di festival kemarin banyak ditampilkan olahan rumput laut. Ada yang dibuat menjadi yoghurt, es krim dan berbagai produk lainnya,” jelasnya.