
Di Indonesia, rumput laut merupakan salah satu komoditas utama perikanan budidaya. Produksi rumput laut Indonesia terus meningkat setiap tahunnya dengan kenaikan rata – rata sebesar 22,25% per tahun sedangkan nilai produksi rata-rata naik 11,80% per tahun.
Tahun 2013 produksi rumput laut sebanyak 9,31 juta ton senilai Rp11,59 triliun, tahun 2014 naik menjadi 10,07 juta ton senilai Rp21,71 triliun, dan pada tahun 2015 mencapai 11,27 juta ton dengan nilai Rp13,20 triliun. Sedangkan pada tahun 2016, produksi naik menjadi 11,69 juta ton (angka sementara).
Ekspor rumput laut Indonesia pun sudah berhasil menyasar berbagai negara. Negara-negara utama pengimpor rumput laut asal Indonesia di antaranya Tiongkok, Jepang, Amerika Serikat, Denmark, Jerman, Filipina, dan Vietnam.
Volume ekspor rumput laut tahun 2015 mencapai 211,871 ribu ton senilai USD205,32 juta, dan pada tahun 2016 sebesar 188,298 ribu ton senilai USD161,801 juta (BPS, diolah Ditjen PDS). Meskipun turun, namun volume dan nilai ekspor rumput laut masih menduduki urutan kedua komoditas hasil perikanan budidaya setelah udang.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto menjelaskan, KKP terus mendorong pembudidaya menggunakan bibit rumput laut yang berkualitas seperti hasil kultur jaringan, sehingga kegiatan usaha budidaya rumput laut di berbagai daerah semakin baik. “Dengan begitu, diharapkan target 13,39 juta ton tahun 2017 dapat terwujud,” ungkap Slamet dalam kegiatan proyek kolaborasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Food and Agriculture Organization (FAO) “Integrated Economic Zone Development Based on Blue Economy in Lombok Island”, pada Rabu (13/9) di Senggigi, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Koordinator Asosiasi Pembudidaya Rumput Laut Indonesia (ARLI) untuk provinsi Bali, NTB, dan NTT Sunardi Harjo optimis target produksi rumput laut tersebut dapat terwujud. Oleh karena itu penting dilakukan zonasi dan perbaikan pengolahan dan tata niaga untuk mendorong peningkatan produksi.
”Berdasarkan data yang ada, rumput laut memiliki posisi yang sangat strategis, sehingga pemerintah melalui KKP akan terus berupaya mendorong berkembangnya budidaya rumput laut melalui berbagai kebijakan dan stimulus seperti penggunaan bibit rumput laut hasil kultur jaringan termasuk penerapan konsep blue economy. Dengan begitu kami yakin target produksi yang telah ditetapkan dapat tercapai dan ekspor pun meningkat,” tutup Slamet optimis.