
Produksi rumput laut di Luwu Raya saat ini mengalami penurunan sekira 30 persen dibanding bulan lalu. Sementara permintaan pasar relatif tinggi sehingga harganya pun mengalami kenaikan.
Bulan lalu harga rumput laut gracalaria mencapai Rp5.200 per kg terima di gudang. Bulan Nopember 2017 ini, naik menjadi Rp5.500 per kg. Di tingkat petani, naik dari Rp4.800 sampai Rp4.900 per kg menjadi Rp5.100 hingga Rp5.200 per kg.
Hal tersebut diungkapkan Pembina Koperasi Agroniaga, Karno SSos yang juga Kepala Dinas Koperasi UKM Palopo saat ditemui di kantornya, Jl. Andi Djemma Palopo, Rabu, 22 Nopember 2017 siang kemarin. Untuk diketahui, Koperasi Agroniaga merupakan pengekspor rumput laut jenis gracillaria ke Asia Timur.
Penyebab turunnya produksi rumput laut yakni faktor cuaca ekstrim. Hujan deras yang melanda Luwu Raya satu bulan terakhir sangat mengganggu budidaya rumput laut. Kebanyakan air tawar menyebabkan hasil panen menurun. Produksi gracillaria di Luwu Raya bulan ini hanya sekira 2.000 ton. ”Turun 30 persen lebih dari bulan lalu. Ini tak bisa kita hindari karena faktor alam,” terangnya.
Rumput laut katonik lebih tajam lagi kenaikannya. Harga bulan lalu rata-rata Rp17 ribu per kg di tingkat pedagang Makassar. Bulan Nopember ini, naik menjadi Rp21 ribu per kg di Makassar.
Data Pemerintah propinsi (Pemprov) Sulsel menyebutkan, produksi rumput laut di Sulsel tertinggi di Indonesia. Sepanjang 2016, Sulsel menghasilkan 3,4 juta ton dari total 11,26 ton produksi rumput laut di Tanah Air.
“Kontribusi kita mencapai 30,2 persen. Sulsel memang dikenal sebagai daerah penghasil rumput laut,” kata Kepala Dinas Perikanan Sulsel, Sulkaf S. Latief.
Sulkaf menjelaskan tingginya produksi rumput laut di Sulsel tidak lepas lantaran kelompok dimaksud yang sangat besar. Dari data yang dihimpun, panjang garis pantai Sulsel mencapai 1.937 kilometer dengan luas oleh dengan area laut sekitar 193.700 hektar. Pemerintah masih terus berupaya mengoptimalkan pengembangan dengan area laut tersebut.
Sulkaf mengakui ada beberapa masalah yang dihadapi dalam pengembangan kelompok-kelompok tersebut. Di antaranya yakni infrastruktur produksi yang belum optimal, keterbatasan sarana dan prasarana produksi perikanan, lemahnya daya menurunkan produk perikanan, dan pemanfaatan tata ruang rumput laut dan pesisir.