
Jakarta. Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) menginginkan peningkatan terhadap hasil serapan rumput laut lokal. Karena selama ini, industri sektor kelautan dan perikanan di berbagai daerah dinilai masih belum memaksimalkannya.
"Sejauh ini (rumput laut lokal) memang banyak diekspor, masih kecil diserap oleh industri lokal," kata Ketua Umum ARLI Safari Azis di Jakarta, Kamis (25/1).
Untuk itu, ujar dia, daya saing industri lokal masih harus ditingkatkan sehingga tingkat penyerapan juga terus bakal melesat.
Safari mengingatkan, bahan baku rumput laut di Indonesia masih banyak tersedia karena RI merupakan salah satu negara penghasil rumput laut terbesar di dunia.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto menyatakan, sekitar 85% rumput laut di dunia berasal dari Indonesia sehingga pengolahan komoditas kelautan itu perlu dikembangkan.
Menurut Panggah, industri rumput laut di Indonesia sudah ada sebanyak 35 perusahaan yang memproses komoditas itu menjadi agar-agar dan produk terkait lainnya.
Sayangnya, ujar dia, perkembangan industri rumput laut itu masih tidak didukung pasokan bahan baku yang stabil sehingga utilisasinya dinilai masih sangat rendah. "Utilisasinya rendah karena rumput laut mentah diekspor besar-besaran ke China," katanya.
Untuk itu, ia mengajak berbagai pihak terkait agar dapat melakukan pembenahan agar sektor industri pengolahan rumput laut memiliki produk keluaran yang lebih beragam dan menjadi barang jadi siap ekspor.