
PROKAL.CO. Meski sudah rampung, pabrik rumput laut yang berada di Jalan Binalatung RT 11, Kelurahan Pantai Amal, Tarakan Timur masih belum dioperasikan. Pemerintah Kota (Pemkot) membuka lelang terbuka terkait pengelolanya nanti.
Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Tarakan Wiprartono Soebagio mengklaim pembangunan pabrik tersebut tak hanya meningkatkan harga, namun mempermudah petani rumput laut dalam menjalankan pekerjaannya dalam mengelola rumput laut.
Pria yang dikenal dengan nama Sony mengungkap jalur distribusi selama ini masih sebatas dijual dalam bentuk kering dan kemudian dikirim ke Surabaya atau Jakarta. “Diharapkan nanti agar sudah ada setengah jadi, mungkin cip kecil-kecil sehingga ada alternatif pemasaran dan pengelolaannya. Kami mengharapkan adanya kerjasama dengan pihak swasta (untuk pengelolaan pabrik rumput laut),” ungkapnya.
Disinggung soal retribusi pengelolaan rumput laut, Sony membeberkan akan ada kerjasama pemanfaatan pabrik tersebut. Misalnya dengan target pemasukan PAD. Untuk diketahui, harga rumput laut kering saat ini telah mencapai Rp 17.000 per kilogram.
Terkait kunjungan DPRD Maluku Tenggara pada Maret 2018 kemarin, memang tak berbuah kerjasama. Namun, rumput laut di Tarakan menjadi rujukan salah satu derah di wilayah timur Indonesia itu. “Kalau harga rumput laut rendah, itu harus dicek. Misalkan seperti kualitas, pembudidayaan rumput laut, dan buyer,” katanya.
Selain pengelolaan rumput laut, Maluku Tenggara juga tertarik pada potensi perikanan di Tarakan, seperti ketersediaan cold storage yang menunjang aktivitas ekspor perikanan. “Mulai dari rumput laut, kepiting, udang ikan sudah cukup bagus. Yang penting di pasaran sudah jelas, contohnya saja pengelolaan udang sudah ke mana-mana. Jadi sudah baik,” jelasnya.