
Sumenep merupakan daerah dengan penghasil rumput laut terbesar di Jawa Timur. Beberapa pesisir pantai memiliki jumlah produksi tinggi. Tapi, petani harus menjual kepada pedagang pengumpul dengan harga relatif murah.
Matahari cukup terik di pesisir Pantai Tanjung, Kecamatan Saronggi, Sumenep, siang Rabu (9/5). Gelombang laut tampak datang. Di pinggir pantai, belasan ibu-ibu tampak sibuk mengikat bibit rumput laut.
Rumput-rumput yang sudah diikat itu kemudian diambil oleh para lelaki di tengah laut. Dengan menggunakan ban bekas, rumput laut itu digeser ke tengah. Para pekerja laki-laki menata di ancak yang sudah berbaris rapi.
Puluhan ancak yang ada di pesisir Pantai Tanjung itu bukan milik satu orang. Tetapi milik beberapa warga sekitar. Ada yang punya hingga belasan ancak. Tapi, ada pula yang hanya punya satu ancak.
”Kalau yang punya sepuluh ancak biasanya mendapat hasil cukup banyak,” kata Fauza, salah seorang petani rumput laut.
Harga rumput laut saat ini sedang kurang berpihak kepada petani. Per kilogram rumput yang menjadi bahan utama tepung agar-agar ini hanya dihargai sekitar Rp 9.800. Dalam kondisi harga stabil, per kilogram bisa mencapai Rp 15 ribu hingga Rp 16.500.
Meski harga turun, petani tidak bisa berbuat banyak. Sebab, harga sepenuhnya dilempar ke dalam mekanisme pasar. Mereka hanya menjual, para pedagang pengumpul (pengepul) yang menentukan harga.
Para pengepul inilah yang kemudian menjual lagi ke perusahaan rumput laut di Surabaya. Rumput laut dengan kualitas bagus diekspor ke luar negeri. ”Kalau harganya mahal, biasanya para pengepul enggan untuk membeli,” ujar Susmiati yang juga warga pesisir Pantai Tanjung.
Susmiati berharap pemerintah daerah, terutama bupati bisa memikirkan nasib para petani rumput laut. Setidaknya ada kebijakan yang bisa mengangkat harga rumput laut. Bahkan, dia sepakat seandainya Pemkab Sumenep membangun pabrik rumput laut.
”Kalau ada pabrik rumput laut kami setuju. Tentu kalau di sini ada pabriknya, harga rumput laut akan lebih mahal dari sekarang,” harapnya.
Sementara itu, Bupati Sumenep A. Busyro Karim mengaku sudah melakukan koordinasi dengan para investor. Bahkan terkait rumput laut ini sudah dibahas bersama Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas). Beberapa waktu lalu, Japnas sudah melakukan teken MoU dengan pemkab.
”Kita berharap ada investor yang bisa membangun pabrik tepung yang terbuat dari rumput laut di Sumenep,” kata Busyro. ”Semoga saja harapan kita ini bisa segera terwujud. Sebab ketika pabrik itu dibangun, yang akan menerima dampaknya juga masyarakat Sumenep,” tegasnya.
Keberadaan pabrik rumput laut diharapkan bisa mendongkrak ekonomi masyarakat. Bukan hanya bagi petani rumput laut, melainkan juga bagi warga lainnya. Sebab, pabrik rumput laut otomatis akan menyerap tenaga kerja lokal.