
SERANG - Nelayan dan petani rumput laut di Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang mengeluhkan terganggunya produksi rumput laut di wilayahnya sejak empat bulan terakhir, karena terserang penyakit yang diduga dampak dari limbah industri di wilayah Serang Timur.
Akibatnya, selama rentang waktu tersebut, para nelayan terpaksa berhenti memanen rumput lautnya. Seorang nelayan yang juga pembudidaya rumput laut asal Desa Lontar, Hasan mengatakan, kondisi rumput laut di wilayahnya saat ini memprihatinkan, sebab para nelayan sudah tidak bisa memanennya lagi selama empat bulan terakhir.
“Sekarang nelayan melaut hanya mencari ikan saja. Saya juga sudah enggak bisa manen rumput laut, karena rumput lautnya hancur,” katanya kepada Kabar Banten saat ditemui di lokasi, Jumat (18/5/2018).
Ia menjelaskan, hancurnya tanaman rumput laut di wilayahnya tersebut, dikarenakan adanya serangan penyakit yang diduga dari limbah industri di wilayah Serang Timur. Akibatnya, para petani rumput laut juga menjadi merugi. “Itu limbah dari pabrik di Serang Timur,” ujarnya.
Padahal, ucap dia, produksi rumput laut dibutuhkan oleh para nelayan. Terlebih saat ini memasuki bulan Ramadan, di mana kebutuhan sehari-hari juga semakin meningkat. “Pusing lah jadinya, karena enggak ada penghasilan,” tuturnya.
Bapak lima anak tersebut mengungkapkan, jika kondisi normal dari satu ton bibit rumput laut yang ditanam bisa menghasilkan dua ton. Namun, kini produksinya jauh menurun, dari satu ton bibit hanya keluar tujuh kuintal. “Nanam ager (bibit rumput laut) lima kuintal, tapi paling yang keluar dua kuintal,” katanya.
Ia mengungkapkan, harga rumput laut sebenarnya tidak begitu tinggi, sekilo rumput laut basah hanya dihargai Rp 1.200 oleh pengepul yang biasa datang ke lokasi. Sehingga, dengan adanya penurunan produktivitas tersebut, membuat para nelayan semakin kesulitan. “Sangat susah sekarang mah. Kalau bagus mah 2-3 bulan sudah bisa panen. Pengepulnya biasa datang ke sini,” ujarnya.
Nelayan lainnya, Saiban menuturkan, penurunan produktivitas rumput laut tersebut, selain karena adanya limbah, faktor macetnya saluran sungai di wilayah tersebut juga membuat rumput laut di tambak menjadi terganggu. Bahkan, beberapa pemilik tambak kini sudah beralih profesi menjadi nelayan ikan. “Padahal, biasanya rumput laut banyak pas bulan puasa,” ucapnya.
Menurut dia, faktor lain yang membuat rumput laut mati, yaitu kondisi sungai yang mengalami pendangkalan. “Jadi, airnya susah, ini mulai dari sini (Lontar) sampai Kampung Alang-alang semua kena, karena airnya susah. Malah yang di selatan mah parah,” tuturnya.