
Pertumbuhan penduduk di Kelurahan Pantai Amal, Kecamatan Tarakan Timur, kian hari kian bertambah. Seiring naiknya harga komoditas rumput laut di Bumi Paguntaka yang menguntungkan bagi para petani rumput laut.
Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Capil (Disdukcapil) Kota Tarakan hingga bulan Juni 2018, tercatat pertumbuhan penduduk di Kelurahan Pantai Amal mencapai 0.53 persen atau sekitar 7.589 jiwa. Hal ini tentunya mengalami peningkatan signifikan, jika dibandingkan dua tahun sebelumnya di tahun 2016 dan 2017.
“Tentunya ini masih ada yang belum melakukan pelaporan diri atau membuat e-KTP. Dengan itu kami berharap masyarakat dapat segera melapor dan bisa dengan mudah membuat e-KTP,” ungkap Hamzah, Sekretaris Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.
Bertambahnya jumlah penduduk ini, tak terlepas persoalan ekonomi. Banyak yang datang ke Tarakan demi mencari pekerjaan. Salah satunya sebagai pekerja petani rumput laut.
Berdasarkan pantauan Radar Tarakan, setiap pukul 09.00 Wita dapat dijumpai di beberapa pinggir jalan Kelurahan Pantai Amal, pekerja baik dari kalangan anak-anak hingga usia di atas 35 tahun bekerja sebagai petani rumput laut. Ada yang menjemur, mengikat tali, hingga panen hasil rumput laut mereka.
Salah seorang di antaranya, di RT 07 Kelurahan Pantai Amal, Syamsia, wanita berusia (29) tahun ini merantau ke Tarakan dari Sulawesi Selatan tepatnya Kabupaten Bulukumba untuk mencari pekerjaan. Alhasil, kurang lebih setahun dia melakoni pekerjaan sebagai petani rumput laut, ia sudah bisa membeli emas dan kebutuhan lainnya.
“Kalau di sini ada aja kita dapat hasil. Lumayan lah untuk memenuhi kebutuhan. Dari pada di kampung, susah pekerjaan,” ucap wanita beranak satu ini.
Kedatangan Syamsia ke Tarakan, tak terlepas dari ajakan keluarganya yang sudah terlebih dahulu berada di Tarakan, dan bekerja sebagai petani rumput laut.
“Rata-rata keluarga di sini, dari Bulukumba. Ada yang sudah beli motor, bangun rumah, beli tanah dan sebagainya. Karena kalau kami bekerja lumayan hasilnya. Contohnya saya saja mengikat tali di bayar Rp 10 ribu pertali kalau dapat 10 tali, bisa bawa pulang Rp 100 ribu,” bebernya.
Syamsia mengaku, memilih untuk bekerja di Tarakan sebagai tempatnya mencari pundi-pundi rupiah ketimbang harus pulang kembali ke Sulawesi, tempatnya dilahirkan.
“Kalau untuk bekerja ya di sini. Kalau pulang kampung kan bisa aja, cuman memang di Tarakan nyaman untuk bekerja. Apalagi harga jual rumput laut mencapai Rp 15 ribu per kilogramnya, kadang naik kadang juga turun,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua RT 07, Kelurahan Pantai Amal, Hambali juga mengaku sejak dua tahun terakhir pertumbuhan penduduk khusus di wilayahnya terus mengalami kenaikan. Dan berdasarkan pengamatannya faktor pemicunya salah satunya karena ekonomi.
“Untuk 2018 per Agustus ini, tercatat jumlah Kepala Keluarga (KK) sebanyak 162. Sedangkan untuk tahun 2017 itu hanya 152 KK. Tentunya ada peningkatan seiring potensi rumput laut yang menjanjikan,” ungkap Hambali.
Hambali menjelaskan, dulunya masyarakat Pantai Amal hanya bekerja sebagai nelayan tangkap dan belum mengenal budidaya rumput laut. Secara pendapatan diakuinya nelayan tangkap belum mampu menyamai pendapatan budidaya komoditas yang saat ini menjadi primadona bagi warganya. Tidak heran jika hampir sebagian besar warganya berpindah bekerja menekuni budidaya rumput laut.
“Biasanya mereka yang sudah merasakan hasil kerja kerasnya, pasti mereka panggil keluarga mereka yang di kampung untuk pindah ke sini. Dan kita juga harus mengingatkan untuk membuat KTP dan membuat surat pindah, takutnya ada hal apa-apa,” bebernya.