
Budidaya rumput laut di Kaltara cukup menjanjikan. Beberapa petani rumput laut, baik di Tarakan maupun Kabupaten Nunukan sudah sangat banyak.
Akan tetapi, budidaya ini menuai permasalahan di laut dengan nelayan. Pasalnya, belum ada batasan yang mengatur lokasi-lokasi budidaya rumput laut. Sehingga tidak jarang saat nelayan mencari ikan, mesin kapal tersangkut oleh tali yang membentang untuk rumput laut.
Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltara berencana bekerja sama dengan Universitas Borneo Tarakan (UBT), untuk sistem budidaya rumput laut menggunakan keramba. Kepala DKP Kaltara Amir Bakri menilai, sistem kerambah sangat bagus dan tidak mengganggu para nelayan yang mencari ikan di laut.
“Sistem keramba pun tak memerlukan tenaga kerja. Tapi untuk memulai sistem keramba membutuhkan pembiayaan yang cukup besar,” jelasnya, Selasa (4/9).
Lanjutnya, persoalan batasan area budidaya rumput laut jadi pembahasan dengan Bupati Nunukan agar hal ini dapat disikapi. Karena jika tidak segera ditindaklanjuti, maka jalur laut yang sering dilintasi para nelayan bisa terganggu dengan adanya budidaya rumput laut.
Penggunaan area laut untuk budidaya memang belum ada ketentuan yang mengatur. Sehingga petani rumput laut memanfaatkan untuk pengembangan dan peningkatan hasil produksi. Proses panen rumput laut pun tidak membutuhkan waktu lama.
Menurutnya, perlu adanya batasan area-area laut yang dipergunakan petani rumput laut. Untuk menghindari adanya permasalahan yang dihadapi para nelayan. “Pemanfaatan ruang laut belum sepenuhnya teratasi. Makanya, kami berusaha untuk menata budidaya rumput laut dan menggunakan sistem keramba,” pungkasnya.