Untitled Document
Selasa , 28 April 2026 | L O G I N |    
  home kami produk jasa berita infoharga komunitas galery transaksi  
Untitled Document
   
M e d i a  
Berita
Litbang
Publikasi
Terminal JaSuDa
Amarta Project
Port Data
 
   
 
 
 
Berita / Litbang
 
 
 
Pengusaha Harapkan Produksi Rumput Laut Naik Dua Kali Lipat
Senin, 18 Mar 2019 - Sumber: https://m.bisnis.com/ - Terbaca 5420 x - Baca: 27 Apr 2026
 
JAKARTA- Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (Astruli) berharap produksi rumput laut Indonesia bisa meningkat hingga dua kali lipat dari kondisi saat ini.

Sekretaris Jenderal Astruli Adrian Setiadi menyebutkan saat ini produksi rumput laut nasional sudah sangat kurang untuk mencukupi kebutuhan industri.

“Berapapun target dari pemerintah harapan kami adalah double dari [produksi] 2018 karena barang sangat kurang,” ujar Adrian kepada Bisnis, Selasa (12/3/2019).

Seperti diketahui, Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan produksi rumput laut bisa mencapai 11,1 juta ton pada 2018 dan 11,8 juta ton pada 2019. Adapun realisasi produksi rumput laut di mencapai 7,567 per kuartal III/2018.

Tidak sebandingnya produksi rumput laut dengan kebutuhan industri menurutnya tercermin dari harga bahan baku (eucheuma cotonii) yang melompat tinggi ke lebel Rp26.000 per kilogram dari posisi normalnya sekitar Rp17.000 per kilogram.

Beroperasinya salah satu pabrik rumput laut penanaman modal asing yakni Biota Laut Ganggang ditengarai menjadi penyebabnya. Pasalnya, dari 204.078,38 ton kebutuhan rumput laut kering industri, sekitar 50.000 ton diserap oleh BLG.

Adapun dari sisi hulu, pertumbuhan produksi rumput laut dinilai tidak secepat pertumbuhan kebutuhan bahan baku industri.

Dalam kesempatan berbeda, Sasmoyo yang merupakan Direktur Utama Indonusa Algaemas Prima, salah satu industri rumput laut dalam negeri juga menyampaikan hal yang sama.

Hadirnya perusahaan penanaman modal asing yang bergerak di industri awal rumput laut dinilai menjadi salah satu penyebab peningkatan harga bahan baku rumput laut di dalam negeri.

Terkait hal ini, dia menyebutkan pihaknya tidak anti terhadap investasi asing yang meramaikan industri rumput laut dalam negeru. Namun, penanaman modal asing seharusnya tidak menyentuh segmen yang selama ini dikerjakan oleh industri kecil menengah dalam negeri yang mengubah rumput laut menjadi alkali treated cottoni (ATC) chips.

“Mestinya itu hanya boleh dilakukan oleh industri menengah kecil tetapi justeru pabrik [investasi] China yang dua itu memproduksi itu sehingga mematikan banyak pangsa pasar industri menengah kecil,” ujarnya kepada Bisnis.

Menurut Sasmoyo, industri rumput laut seperti BLG yang bermodal kuat seharusnya bisa mengisi segmen berikutnya, yakni yang mengubah bahan hasil produksi industri menengah kecil berupa chips menjadi produk akhir.

Dengan demikian, persaingan untuk mendapatkan bahan baku bisa menjadi lebih longgar.

Di sisi lain, dia juga mengkritisi informasi terkait produksi rumput laut dalam negeri yang dia nilai belum sesuai kenyataan.

Menurutnya, selain karena masuknya industri modal asing di atas, sejumlah kendala seperti cuaca dan sebagainya juga menyebabkan produksi rumput laut tidak maksimal.

Di sisi lain, mahalnya harga bahan baku rumput laut dalam negeri menurut Sasmoyo saat ini tidak diikuti dengan kenaikan harga beli oleh pembeli dari luar negeri.

“Mereka juga kaget kenapa kok rumput laut Indonesia bisa naik tiba-tiba tidak terkendalai begitu sehingga mereka bisa dikatakan moratorium membeli atau mengimpor rumput laut dari Indonesia,” ujarnya.

Moratorium impor oleh negara pembeli ini, menurut Sasmoyo, bisa berdampak negatif terhadap produk rumput laut Indonesia jika berlangsung dalam waktu lama. Pasalnya, para pembeli akan memutar otak dan mencari solusi lain yang bisa menggantian rumput laut.

Dia menambahkan, pada dasaranya, rumput laut berfungsi sebagai pengental atau perekat dan saat ini ada banyak komoditas lain yang bisa dijadikan alternative seoeri singkong dan lain-lain.

“Itu yang sebenarnya sangat mengkhawatirkan untuk jangka panjang. Sehingga pembeli-pembeli luar negeri ini, kalau sampai dia mencari solusi bahan pengganti, substitusi dan mereka merasa nyaman, maka tamatlah riwayat rumput laut,” ujarnya.

Sebagai solusi, di samping peningkatan produksi rumput laut dia meminta agar pemerintah bisa menelurkan regulasi yang mengatur aktivitas dan kiprah industri besar bermodalkan investasi asing di sektor rumput laut.

Sebagai contoh regulasi yang mengatur agar industri asing bisa menyerap dan memakai bahan baku berbentuk chip yang diproduksi industri lokal modal dalam negeri.
 
 
 
More Berita
 
1 . Pelatihan Integrated Ulva spp. Value Chain Training
  Selasa, 28 Apr 2026-Irna Aswanti Ibrahim - Terbaca 7 x
2 . DPR Dukung Rumput Laut dan Singkong Jadi Pengganti Plastik Impor
  Senin, 20 Apr 2026-https://www.babelinsight.id/ - Terbaca 52 x
3 . Pengiriman Ulva sebagai Bahan Baku Industri Terus Meningkat
  Jumat, 10 Apr 2026-Irna Aswanti Ibrahim - Terbaca 80 x
4 . Tren Akuakultur Semakin Menjauh dari Target Iklim, Rumput Laut Ditinggalkan
  Selasa, 07 Apr 2026-https://www.suara.com/ - Terbaca 87 x
5 . KM Logistik Nusantara 5 Tambah Kapasitas untuk Dukung Pengiriman Rumput Laut
  Selasa, 31 Mar 2026-https://radartarakan.jawapos.com/ - Terbaca 107 x
6 . Kunjungan KKP ke Jasuda, Olahan Rumput Laut Sulsel Siap Naik Level
  Jumat, 27 Mar 2026-Dian Maya Sari - Terbaca 125 x
7 . Potensi Rumput Laut sebagai Sumber Energi Terbarukan
  Rabu, 25 Mar 2026-https://bahasa.newsbytesapp.com/ - Terbaca 150 x
 
 
 
More Litbang
 
1 . Pengembangan Pewangi Ruangan Ramah Lingkungan Berbasis Ekstrak Rumput Laut dan Kulit Jeruk
  Selasa, 07 Apr 2026 - https://www.formosa.news/ - Terbaca 85 x
2 . Inovasi Hijau dari Laut: Rumput Laut Lokal Berpotensi Jadi Sumber Antioksidan dan Antibakteri Alami
  Selasa, 31 Mar 2026 - https://unair.ac.id/ - Terbaca 106 x
3 . BRIN Gali Potensi Rumput Laut dalam Pengembangan Obat Modern
  Jumat, 27 Mar 2026 - https://brin.go.id/ - Terbaca 136 x
4 . Peneliti UNDIP Kembangkan Teknologi Inovasi Pengering Rumput Laut
  Rabu, 25 Mar 2026 - https://kemdiktisaintek.go.id/ - Terbaca 143 x
5 . Cara Membuat Karagenan Rumput Laut yang Praktis
  Senin, 09 Mar 2026 - https://jualmesinrumputlaut.wordpress.com/ - Terbaca 232 x
6 . Manfaat Jelly Berbahan Rumput Laut untuk Berbuka, Dukung Asupan Serat Selama Ramadan
  Senin, 02 Mar 2026 - https://lifestyle.bisnis.com/ - Terbaca 221 x
7 . “Rumput Laut + Magnet + Biomassa E. coli” untuk Menangkap Tetrasiklin dari Air
  Senin, 23 Feb 2026 - https://unair.ac.id/ - Terbaca 225 x
 
 
Untitled Document
https://dpmn.pasamanbaratkab.go.id/ https://said.bondowosokab.go.id/ https://lejuk.belitung.go.id/ https://dinkes.sijunjung.go.id/ https://prancis.fkip.unila.ac.id/ https://dokar.dishub.grobogan.go.id/ https://tengah.magelangkota.go.id/ https://bpm.univpgri-palembang.ac.id/ https://dukcapil.sumbatimurkab.go.id/ https://laikateks.fmipa.uho.ac.id/ https://dpmd.hulusungaiselatankab.go.id/ berita hari ini produk kecantikan Belajar di Rumah Jadi Lebih Produktif Tips & Saran Ampuh Agar Nggak Cepat Bosan Peluang Bisnis UMKM Terbaru 2025 rahasia wanita mastering slot machine poker online manfaat obat kuat slot games https://ffnagajp1131.org/
http://acr.ffvelo.fr/ http://ecbc.ffvelo.fr/
SLOT GACOR # Link Login Situs Game Online Resmi & Gampang Maxwin Hari Ini BOS01 : Agen Slot Gacor Maxwin Hari Ini Provider Hits Slot88 Dan Slot777 Online 2025 BOS911 : Situs Slot Gacor Terbaru & Link Login Slot88 Resmi 2025 Bos01 Bos01 Bos911 Bos911 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos911 Bos01 Bos01 Bos01 Lumbung4d Bos01 Bos01 Lumbung4d Bos01
Team JaSuDa
Kerjasama Kami
Mitra Kami
Cara Pesan Produk
Berita | Litbang
Terminal JaSuDa
Amarta Project
Info Harga RL
Galeri Photo
Statistik Website
Visitors 1,641,312 Kali
Member JaSuDa 10,756 Org
Buku Promosi 809 lihat
Konsultasi Online 2764 lihat
Jl Politeknik 14 Pintu Nol Unhas Tamalanrea Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia
PT. JARINGAN SUMBER DAYA (JaSuDa.nET)
All Rights Reserved. Created 2005, Revised 2022. Hosted IDW
Asosiasi dengan SiPlanet Foundation dan Afiliasi dengan Posko UKM JaSuDa
Developed by Irsyadi Siradjuddin