
Para pelaku usaha rumput laut berkumpul di ajang International Seaweed Symposium (ISS) ke 23 di Jeju, Korea Selatan pada 28 April - 3 Mei 2019 lalu. Pertemuan itu membahas mengenai ilmu dan teknologi untuk pengembangan rumput laut, dari tradisi menjadi inovasi.
Dalam simposium internasional tersebut, Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) Safari Azis dan tim berkesempatan untuk menggambarkan perkembangan hulu- hilir rumput laut Indonesia dan mendampingi Dr Maya Puspita pada sesi Oral Presentation dengan judul "Indonesian Seaweed Hydrocooloids (carrageenan dan agar) : Challenges and Perspective for Future Development in Global Value Chain".
Safari mengatakan, saat ini pihaknya masih dihadapkan pada sejumlah tantangan dalam pengembangan rumput laut di Indonesia. Diantaranya, bervariasinya kualitas rumput laut akibat dari dilakukannya panen lebih awal dan proses pasca panen yang belum sesuai standar. “Selain itu, adanya polusi lingkungan dan usulan peraturan syarat-syarat sertifikasi melakukan budidaya rumput laut menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku budi daya,” ungkap Safari.
Dia melanjutkan, tantangan lainnya adalah belum adanya tata ruang wilayah budidaya rumput laut sehingga memicu konflik dengan sektor pariwisata, perhubungan, dan lain-lain. Masyarakat pesisir, kata dia, belum memiliki akses untuk kredit atau modal awal pembudidayaan rumput laut. Infrastruktur dan transportasi pun belum memadai untuk akses ke daerah-daerah potensial penghasil rumput laut.
“Pemahaman publik juga masih rendah tentang jenis rumput laut yang ekonomis baik untuk di makanan langsung dan diolah sebagai hidrokoloid serta perbedaan antara rumput laut tropis dan subtropis. Sering pula regulasi pusat tidak sinkron dengan regulasi lokal,” kata Safari.
Sementara itu, pihaknya kini harus dihadapkan dengan adanya tantangan global. Contoh, adanya kompetisi dengan hidrokolid alternatif selain dari rumput laut, seperti hidrokoloid hewani yaitu gelatin, dari tumbuhan darat seperti strach, pectin, dan arabic gum serta bahan kimia seperti cmc dan lain-lain. “Kami juga masih menghadapi akan adanya evaluasi dari pemerintah AS melalui United States Department of Agriculture (USDA) tentang Delisting (dikeluarkannya dalam daftar produk organik) Carrageenan dan Agar-agar sebelum tahun 2023,” ungkap dia.
Tak hanya itu, isu perubahan iklim tentang naiknya suhu laut, meningkatnya kadar asam, pergeseran musim, serta maraknya kampanye negatif di sosial media mengenai carrageenan dan agar-agar. Kampenye negatif ini mengubah persepsi publik terhadap manfaat positif hidrokoloid rumput laut menjadi tantangan global yang dihadapi para pelaku usaha rumput laut.
Menurutnya, rumput laut merupakan komoditas unggulan nasional yang berada dalam rantai pasok global. Indonesia merupakan penghasil rumput laut tropis terbesar di dunia, dimana jenis Eucheuma dan Gracilaria merupakan komoditas yang dikembangkan oleh masyarakat pesisir dan pulau-pulau yang awalnya ditujukan untuk membantu mengentaskan kemiskinan, kelestarian sumber daya alam, pengembangan ekonomi daerah yang berkelanjutan dan peningkatan perolehan devisa untuk negara. Selanjutnya jika diolah sebagai hidrokoloid (Carrageenan Agar-agar) dapat digunakan sebagai bahan pencampur untuk pengenyal, pengental, pengemulsi, penjernih, dan lain-lain yang banyak diperlukan industri makanan, minuman, kosmetik, farmasi dan lain-lain.
Dalam ajang yang dihadiri 42 negara itu, pihaknya juga telah mengadakan pertemuan dengan mitra dagang dan peneliti rumput laut dari berbagai negara untuk membahas rencana kedepan. Terutama dalam rangka menghadapi evaluasi Delisting Agar-Agar dan Carrageenan oleh pemerintah Amerika Serikat melalui United States Department of Agriculture (USDA) pada tahun 2023.
Menurut dia, jika Delisting itu diberlakukan akan berpengaruh pada pasar carrageenan dan agar-agar, sehingga akan menurunkan kategori/kelas produk dan dapat berdampak menurunnya permintaan akan rumput laut yang dibudidayakan di Indonesia. "Kami berharap adanya kerjasama semua pihak baik di Indonesia maupun di luar negeri untuk dapat mengatasi tantangan yang akan dihadapi ke depan dalam pengembangan hulu hilir rumput laut,” pungkas Safari.
ISS merupakan pertemuan yang terdiri dari berbagai program, seperti pembahasan berbagai hasil penelitian, pameran dagang, dan temu bisnis. Acara tersebut dilaksanakan setiap tiga tahun sekali dan pertama kali diselenggarakan di Edinburg, Inggris, pada 1952. Indonesia terpilih sebagai penyelenggara ISS ke-21 di Bali pada 2013. Selanjutnya, ISS ke-24 2022 mendatang akan dilaksanakan di Tasmania, Australia.