
KUPANG - Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu sentra rumput laut terpenting nasional dan juga sebagai salah satu penyumbang terbesar rumput laut Indonesia.
"Pengembangan rumput laut di NTT perlu dilakukan secara komprehensif dan bukan secara parsial. Percepatan pengembangan rumput laut harus dilakukan dengan asas manfaat, keadilan, kemitraan, keterpaduan dan keterbukaan efisiensi serta kelestarian yang berkelanjutan," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTT, Ganef Wurgiyanto, A.Pi.
Ganef saat menyampaikan materi Strategis dan Implementasi Percepatan Pengembangan Budidaya Rumput Laut menuju NTT Bangkit dan NTT Sejahtera saat Workshop percepatan pengembangan rumput laut secara Berkelanjutan, di Hotel Swiss Belinn Kristal Kota Kupang, Senin (30/9/2019).
Menurut Ganef, percepatan pengembangan rumput laut wajib didasarkan pada prisip perencanaan keterpaduan.
"Pengembangan rumput laut juga harus dapat memberi manfaat dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat pembudidaya," katanya.
Ganef juga mengharapkan adanya sinergisitas, kesamaan persepsi dan komitmen dalam pelaksanaan pembangunan di sektor kelautan dan perikanan.
Ganef juga menyampaikan bahwa visi secara nasional adalah bahwa lautan adalah masa depan bangsa dan revolusi biru untuk NTT sejahtera.
Dikatakan, salah satu komoditi perikanan yang diharapkan berkontribusi besar bagi upaya peningkatan rumput laut, daya saing dan nilai tambah dalam lima tahun mendatang.
Sedangkan dalam RPJMD NTT 2028-2023, target produksi rumput laut dapat mencapai 2,4 juta ton pada tahun 2019.
Menurutnya, workshop tersebut bertujuan membangun kesepahaman dan komitmen para pihak dalam mendukung kebijakan Pemprov NTT untuk meningkatkan produktivitas usaha budidaya rumput laut,mendorong tersedianya perangkat regulasi yang mendukung pengembangan budidaya rumput laut secara berkelanjutan yang menjamin kontinuitas produksi, peningkatan ekonomi pembudidaya, percepatan pembangunan daerah dan pelestarian ekosistem pesisir.
Menurutnya, secara potensi, air laut di NTT masih bersih dan cahaya matahari sebagai potensi, yang luar biasa.
Dikatakan ada strategi yang dilakukan sejak tahun 2018, seperti di Sumba Barat Daya, Sumba Timur, Kabupaten Kupang dan Sabu Raijua dengan memberi pendampingan.
Lima Klaster
DKP Provinsi NTT mengelompokkan lima klaster pengembangan rumput laut di NTT.
Lima klaster itu, yakni klaster I Pulau Sumba, Klaster II Timor-Rote, Klaster III Sabu, Klaster IV Alor,Lembata dan Flotim, Klaster V Sikka dan Manggarai Barat.
Dia menambahkan, sektor perikanan dan lelautan sebagai salah satu sektor pendukung utama. Sektor ini telah tertuang dalam RPJMD 2018-2023 dan rencana strategis DKP NTT 2019-2023, melalui program peningkatan produksi, daya saing, nilai tambah kelautan dan perikanan.
Kegiatan ini kerjasama DKP NTT, The Nature Conservancy (TNC), Yayasan Konservasi Alam Nusantara dengan dana dari DKP NTT dengan kontribusi dari TNC.
Dalam workshop ini, dengan moderator/fasilitator, Alex Tanody, menghadirkan tiga pembicara, masing-masing Kepala Bidang Ekonomi dan Pengembangan Wilayah Bappelitbangda NTT, Dr. Alfons Theodorus dengan materi program kebijakan pembangunan Kelautan dan Perikanan untuk mendukung NTT Bangkit NTT Sejahtera/
Sedangkan pemateri terakhir adalah dari NGO /The Nature Conservancy (TNC) dengan materi Pengembangan budidaya rumput laut secara berkelanjutan.
Dr. Alfons Theodorus mengatakan, potensi rumput laut di NTT cukup baik , namun perlu ditingkatkan lagi.
"Rumput laut ini sudah kita bisa sejak dulu, sewaktu saya pertama kali saya jadi PNS, waktu itu Pak Medah sebagai Bupati Kupang. Kita sudah bicara rumput laut sampai saat ini," katanya.
Target Produksi Rumput Laut
Tahun Jumlah/tahun
2019 2,3 juta ton
2020 2,6 juta ton
2021 2,8 juta ton
2022 3,1 juta ton
2023 3,4 juta ton