
Rumput laut merupakan tetumbuhan laut yang sering digunakan dalam berbagai jenis makanan, mulai dari agar-agar hingga Nori kering.
Pesisir pantai di Kabupaten Pangandaran menjadi tempat hidup makhluk air ini. Pantai Karapyak yang berada di Desa Bagolo, Kecamatan Kalipucang salah satunya.
Rumput laut tumbuh liar di antara bebatuan pantai. Nilai ekonomi yang tinggi membuat banyak warga setempat menjadikannya sumber mata pencaharian.
Rikun, juga ikut meraup rezeki dari keberadaan rumput laut ini.
Makhluk ini dapat diambil kala air laut surut. Dengan berbekal karung, Rikun bisa memunguti rumput laut yang menempel pada bebatuan sepanjang garis pantai.
Bersama penduduk lainnya, mereka 'memburu' apa yang biasa disebut sebagai 'kades'. Rumput laut jenis ini berwarna kecoklatan dan sering dimanfaatkan untuk bahan kosmetik.
Pengumpul rumput laut bukanlah pekerjaan utama Rikun. Profesi ini ia lakoni tiap musim rumput laut.
Profesi utamanya adalah petani. Jika memang waktunya tepat, Rikun akan pulang cepat dari sawah dan ke pantai untuk memanen rumput laut liar.
Setelah dikumpulkan, rumput laut akan dikeringkan sebelum dijual. Kalau beruntung, Rikun bisa mengumpulkan sekarung rumput laut dari pantai.
"Di rumah, rumput laut kemudian saya jemur selama beberapa hari sampai kering. Kalau sudah kering, dijual ke pengepul rumput laut," ucapnya.
Dengan menjual rumput lautnya, ia dapat menambah pemasukan mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per kilogram.
Dengan begitu, satu kuintal rumput laut dapat dihargai hingga Rp 1 juta.
Selain mengumpulkan rumput laut, Rikun juga berkebun. Musim kemarau, rumput laut bertumbuh subur di sepanjang bebatuan pantai.
Panasnya musim kemarau memang membuat cahaya matahari lebih lama menerangi daratan dan bisa lebih panas.
Menurut Rikun, rumput laut bisa lebih subur dan melimpah dengan kondisi tersebut. Rumput laut pun bisa lebih cepat kering.