
Komoditas rumput laut masih mendominasi ekspor Sulsel 2019. Sayangnya, volume dan nilainya menurun, jika dibandingkan realisasi 2018.
Berdasarkan data ekspor Balai Karantina Makassar, tercatat untuk volume ekspor rumput laut 2019 hanya 140 ribu ton dengan nilai Rp1,35 triliun. Sementara 2018 mencapai 169 ribu ton dengan nilai Rp137 ton.
Kepala Balai Karantina Makassar, A Yusmanto, mengatakan, penurunan volume rumput laut diakibatkan ketersediaan bahan baku yang berkurang. Kondisi itu akibat faktor iklim yang kurang mendukung produksi tersebut.
Tak hanya rumput laut, volume komoditas cengkih juga menurun sekira 30 persen. Total volume ekspor 2019, hanya 586,9 ribu kilogram lebih dengan nilai Rp42,5 miliar.
Sementara 2018, volume masih mencapai 898 ribu kilogram lebih dengan nilai Rp70,3 miliar. “Penyebabnya menurunya sama dengan rumput laut,” katanya.
Ketua Umum Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Asosiasi Pembudidaya dan Pengelolah Rumput Laut Indonesia (Aspperli) Sulsel, Sadaruddin, juga mengakui kondisi ekspor laut 2019 yang merosot. Menurutnya, penurunan volume ekspor disebabkan karena adanya penurunan produksi petani.
Hal itu disebabkan cuaca kemaru yang juga ekstrem selama 2019. “Karena panas, sehingga kualitas rumput laut menjadi menurun dan berkurang,” ungkapnya.
Namun, tahun ini pihaknya memprediksi produksi rumput laut akan kembali membaik. Ia yakin, volume dan nilai ekspornya kembali akan terkatrol.
Apalagi permintaannya sangat baik di beberapa negara. “Khususnya ekapor ke Tiongkok,” katanya.