
Aktifitas mengikat rumput laut menjadi salah satu kegiatan perkumpulan yang masuk larangan pemerintah, untuk mencegah pandemi virus corona di Kabupaten Nunukan. Sehingga, hal ini membuat ibu-ibu yang notabene pengikat rumput laut jadi dilema.
Ketua Koperasi Mamolo Sejahtera, Kamaruddin mengaku tak bisa berbuat banyak. Karena sulit membendung para pengikat rumput laut, untuk memenuhi kebutuhan hidup. “Kita ketahui bersama, mereka setiap hari mencari penghasilan dari mengikat rumput laut,” ungkapnya kepada Koran Kaltara, Senin (23/3/2020).
Dia sudah menyampaikan arahan pemerintah melalui alat pembesar suara. “Namun pengikat bibit rumput laut dan petani masing-masing punya alasan. Pertama, kebutuhan sehari-harinya. Kedua cicilan. Ketiga, arisan dan sebagainya. Inilah menjadi dilema kita di pabetang Mamolo,” tambahnya.
Biasanya, kata dia, para pengikat rumout laut datang ke tempat penjemuran sejak pagi hongga sore dan menjelang magrib. Belum lagi, anak-anak mereka ikut mencari penghasilan. “Mereka kadang pulang istirahat sebentar. Ada juga yang tidak pulang, seharian duduk mengikat rumput laut. Karena rumput laut ini, setiap hari panen. Dan, rumput yang diikat ini berton-ton dengan ratusan tali. Jadi, tak heran banyak pekerjanya,” ujarnya.
Dia berharap di setiap kampung yang notabene sebagai petani rumput laut seperti Mamolo, Mansapa, Lancang, dan lain-lain, ada pemeriksaan dari rumah ke rumah.
“Kita harap ada pemeriksaan semua warga dari pemerintah. Seperti penyemprotan. Kemudian, ada petugas standby dan siap memeriksa bila ada orang masuk di Mamolo. Sejatinya, pengikat rumput laut di Mamolo sangat jarang keluar ke kota. Kesehariannya berada di tempat jemuran untuk mengikat rumput laut,” bebernya.
Namun dia tetap mengingatkan para pengikat rumput laut untuk safety. Artinya, meminta agar semua pabetang menggunakan masker dan mencuci tangan setelah selesai bekerja. “Kita tetap mengarahkan pola hidup sehat,” ungkap dia.