
Rumput laut menjadi salah satu tumbuhan yang memiliki potensi besar. Salah satu industri yang banyak dicari yaitu hidrokoloid berbahan rumput laut.
Hidrokolid merupakan bahan serbaguna dengan berbagai aplikasi di berbagai sektor industri, terutama industri makanan dan minuman. Permintaan bahan tersebut terus bertumbuh di industri tersebut.
Menurut laporan yang diterbitkan Allied Market Research, konsumsi hidrokoloid rumput laut pada 2018, diperkirakan mencapai 71,5 ribu metrik ton, dan diperkirakan bakal terus tumbuh dengan rata-rata pertumbuhan tahunan CAGR 2018-2024 sebesar 5,1 persen.
Sementara pada 2019, pasar global untuk rumput laut hidrokoloid diperkirakan akan mencapai sedikit di atas 142 ribu metrik ton pada 2019.
Produk senyawa hidrokoloid yang terkenal saat ini yaitu karagenan. Produk ini paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia, dikutip dari marketdataforecast.com.
Nilai pasar karigenan dunia para 2019 mencapai 864,3 juta dolar AS, tumbuh 5,45 persen per tahun (2019-2024) dengan perkiraan nilai mencapai 1,12 miliar dolar AS pada 2024.
Kondisi ini menjadi peluang di Indonesia. Di negara ini, sesungguhnya memiliki produksi rumput laut yang besar, namun belum didukung industri pengolahan yang memadai untuk menghasilkan produk karaginan yang punya nilai tambah tinggi.
Dikutip dari situs kkp.go.id, Indonesia memiliki 23 perusahaan pengolah karaginan dengan kemampuan produksi 25.992 ton per tahun. Ada sekitar 14 perusahaan pengolah agar dengan kemampuan produksi 7.658 ton per tahun. Meski begitu, utilisasi industri-industri tersebut masih belum menunjukkan performa yang baik.
Pada 2017, produksi karagenan Indonesia sebesar 13.116 ton atau utilisasinya baru sekitar 50 persen. Sementara produksi agar pada tahun yang sama mencapai 4.140 ton atau utilisasinya 54 persen.
Merujuk pada data FAO (2019), Indonesia masuk dalam jajaran produsen utama rumput laut dunia, khususnya untuk jenis eucheuma cottoni, dan menguasai lebih dari 80 persen supply share, utamanya untuk tujuan ekspor ke China. Namun saat ini ekspor rumput laut Indonesia ke China hampir 80 persen masih didominasi raw material.
Oleh karena itu, penting untuk menaikkan nilai tambah devisa ekspor dengan menggenjot produksi dan ekspor rumput laut olahan seperti semi refine carrageenan dan refine carrageenan.