
Dari tahun ke tahun, kebutuhan energi selalu terus bertambah. Akan tetapi, pertambahan kebutuhan energi itu tidak diiringi dengan ketersediaan sumber bahan bakar.
Sejak tahun 90-an, produksi bahan bakar konvensional semakin menurun sehingga memerlukan upaya pencarian sumber bahan untuk energi yang bersifat terbarukan atau renewable.
Salah satu sumber bahan baku alternatif yang dikenal yakni etanol. Etanol tersebut biasa diproduksi dari sumber bahan pangan seperti jagung. Walaupun proses produksi bioetanol dari sumber bahan pangan lebih sederhana, tetapi ketersediaannya tidak akan mencukupi untuk produksi bahan bakar alternatif.
Dosen IPB University dari Departemen Teknologi Hasil Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Prof Uju, mengatakan bahwa rumput laut hijau beserta limbahnya berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber bahan produksi bioetanol.
?Dibandingkan dengan sumber bahan dari tanaman darat, proses produksinya lebih murah karena input energi pada proses pre-treatment lebih rendah,? ujar Uju, seperti dilansir dari IPB University.
Lebih lanjut, Uju menjelaskan bahwa walaupun prosesnya lebih rumit, tetapi tantangan tersebut dapat diakali dengan penggunaan ionic liquid sebagai penghidrolisis selulosa. Bahkan, menurutnya, efisiensi konversinya melebihi produksi bioetanol berbasis gula sederhana.
Uju telah melakukan uji coba penggunaan ionic liquid pada tahun 2009 sebagai teknologi baru pada proses pre-treatment. Proses pre-treatment merupakan hal sangat penting karena berguna untuk mendestruksikan lignin dan proses hidrolisis selulosa pada tanaman darat maupun laut.
Keuntungan menggunakan ionic liquid yakni memiliki energi input yang kecil dan ramah lingkungan bila dibandingkan dengan penggunaan asam dan basa.
?Selain itu proses ini terbilang ramah lingkungan karena bisa di-recycle beberapa kali dibandingkan dengan asam atau basa sehingga dikenal sebagai green solvent,? terang Uju.
Uju juga menjelaskan bahwa produktivitas rumput laut dapat mencapai 30 ton per hektar dalam sekali panen. Hal tersebut dikarenakan efisiensi fotosintesisnya yang tinggi sehingga potensial sebagai basis produksi bioetanol.
?Secara konten, pemanfaatan rumput laut sebagai sumber bahan bioetanol sangat menjanjikan dan dapat bersaing dengan tanaman berbasis pangan maupun ligniselulose,? yakin Uju.
Karakteristik rumput laut mirip dengan selulosa dan keunggulannya memiliki kristal yang rendah sehingga konversi selulosanya lebih tinggi karena lebih mudah dihidrolisis. Selain itu, dari segi biaya juga cukup bersaing yakni sekitar 0.41 dolar per liter.
Tantangan dalam memproduksi rumput laut adalah banyaknya kandungan agar dan karagenan sehingga harus memakai basis selulosa yang terdapat pada hasil limbahnya. Pemanfaatan limbah tersebut dapat meningkatkan daya saing rumput laut sebagai produk yang bernilai tambah. Adapun pengaplikasiannya harus berdasarkan proses produksi yang terintegrasi.
Berdasarkan hasil penelitian menggunakan limbah karagenan, diketahui bahwa konversi gula yang dihasilkan dapat mencapai 77 persen. Apabila hasil ini diakselerasi dengan ionic liquid dalam proses pre-treatment, dapat berpotensi mencapai keefisienan konversi hingga 95 persen.