
Petani rumput laut di Tambeanga sebagian besar terjerat hutang yang ditebar tengkulak. Bunga pinjaman 3-4 % perbulan nantinya dikonversi dengan harga beli cottonii yang ditetapkan tengkulak. Tentu saja harga penjualan cottonii ke tengkulak harganya lebih rendah Rp 500 – 1,000 /kg dari harga pasar cottonii kering di Tambeanga.
Pola semacam ini bisa ditemui hampir di seluruh area produksi cottonii. Tidak ada yang salah karena petani sulit mendapatkan pinjaman dari Bank atau lembaga keuangan non bank penyalur kredit.
Bank tak berani memberikan pinjaman ke petani cottonii tanpa adanya agunan dan usaha yang jelas. Salah satu cara paling mudah bagi petani adalah dengan meminjam modal usaha atau hutang sekaligus mengikatkan diri pada tengkulak yang juga pengumpul cottonii kering.
Tengkulak jelas telah menghitung resikonya dengan tingkat bunga tinggi untuk mendapatkan untung dengan jurus anti bangkrut yang mencekik leher petani. Inilah sisi negatif sistem ekonomi kapitalisme dimana penguasa atau pemodal menjajah petani atau golongan yang lemah menjadi tak berdaya dan terus bergantung dengan kekuasaannya.
Selama tiga tahun sharing and connecting dengan petani rumput laut Tambeanga, ada pelajaran menarik dari petani sehingga mereka bisa bebas dari jerat hutang tengkulak. Ada kerja keras, keberanian, komitmen dan tanggung jawab yang dipikul bersama dalam wadah organisasi petani yang solid. Setelah mereka tergabung dalam wadah koperasi Bina Bahari, selama dua tahun secara perlahan satu persatu anggota koperasi bisa melunasi hutang tengkulak.
Tahun pertama koperasi berjalan penuh dinamika. Petani yang masuk menjadi anggota mempunyai motivasi berbeda. Paling utama tentu saja mendapatkan pinjaman dari koperasi dengan bunga ringan dan sarana produksi rumput laut seperti tali dan bibit. Harapan itu jelas tak dipenuhi koperasi karena sumber modal koperasi hanya di peroleh dari simpanan pokok dan wajib setiap bulan yang disetor anggotanya.
Empat puluh petani yang semula bergabung dengan koperasi mulai berguguran. Tinggal 30 petani yang masih setia dan komitmen berkoperasi. Tahun pertama, koperasi hanya mampu memberikan pinjaman bibit rumput laut 200 kg senilai Rp 400.000 kepada petani yang mau bekerja menanam cottonii. Hanya 23 petani yang mendapatkan pinjaman bibit, anggota lainnya tidak kebagian karena keterbatasan modal koperasi. Mereka yang tidak menadapatkan pinjaman bibit menunggu giliran berikutnya.
Setelah panen, petani mengembalikan pinjaman bibit ke koperasi dalam bentuk cottonii kering ke koperasi atau menggulirkan bibit kepada anggota koperasi yang belum mendapatkan pinjaman bibit. Hasil produksi rumput laut kering cukup bagus dan tengkulak mulai menggoyang koperasi dengan menawarkan harga yang lebih tinggi kepada anggota koperasi.
Tentu saja ada anggota yang lari ke tengkulak dan hanya menjual sebagian kecil hasilnya pada koperasi.
Komitmen anggota dalam berkoperasi mendapatkan ujian. Ternyata petani Tambeanga bisa melaluinya dengan strategi bakar habis semua hutang tengkulak. Hasil penjualan dari tengkulak langsung digunakan untuk melunasi semua hutang tengkulak. Petani beralih berhutang tanpa bunga pada koperasi.
Tahun kedua, koperasi memberikan pinjaman lebih besar kepada anggota karena mendapatkan keuntungan dari hasil usaha penjualan rumput laut kering yang dipasok dari anggota. Selain itu, koperasi juga bekerja sama dengan Yayasan Bahari yang peduli dengan nasib petani. Pinjaman tanpa bunga diberikan dalam bentuk bibit senilai satu sampai dua juta.
Komitmen anggota kembali diuji karena ada lima petani yang tak mampu mengembalikan pinjaman karena gagal panen. Anggota lainnya memahami dan bisa mengerti karena mereka yang gagal panen berkomitmen tidak ngemplang hutang koperasi. Kredit macet anggota koperasi 10% tetapi semua anggota koperasi tidak berhutang lagi pada tengkulak. Akhir tahun kedua, koperasi telah membebaskan semua anggotanya dari tengkulak.
Tahun ketiga, anggota semakin solid. Ada 15 petani yang mendaftar menjadi anggota baru. Koperasi mulai berkembang dan mampu bersaing langsung dengan tengkulak. Komitmen anggota masih terus diuji dalam berkoperasi setelah koperasi mendapatkan angel investor yang berani memberikan kredit tanpa bunga dan membeli hasil cottonii kering koperasi dengan harga pasar.
Saat ini, setiap petani telah menanam bibit cottonii rata-rata satu ton atau lima kali jumlah bibit yang ditanam tahun pertama. Exporter dan processor rumput laut telah menunggu hasil produksi cottonii Tambeanga yang pernah diuji perusahaan Jepang dan hasilnya memenuhi persyaratan mutu perusahaan. Kadar air kurang dari 35%, kadar karaginan lebih dari 30% dan gel strength atau kekuatan agar lebih dari 1,000 gr/cm2.
Tiga tahun waktu yang lama untuk sharing and connecting dengan petani rumput laut Tambeanga. Ada banyak tantangan yang dihadapi petani dalam mewujudkan ekonomi kerakyatan. Bukan tidak mungkin tahun keempat dan kelima koperasi Bina Bahari bisa menjadi exporter dan processor dengan kerja keras, keberanian, komitmen dan tanggung jawab yang dipikul bersama dalam wadah koperasi.
Satu hal yang dapat dipetik dari pengalaman ini adalah kekuatan berkoperasi bisa mengalahkan kapitalisme tengkulak. Semoga hal ini tidak hanya terjadi di Tambeanga, tidak terjadi di tingkat desa saja, tetapi sampai level negara dan terjadi di mana saja di bumi Indonesia tercinta.