
Siapa sangka ternyata rumput laut dapat dibudidayakan dengan baik di perairan Jawa? Bukan hal yang rahasia lagi, jikalau rumput laut merupakan komoditas budidaya utama provinsi yang berada di wilayah Indonesia Timur. Sebut saja seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, NTB, NTT dan Maluku. Namun, secara perlahan Jawa Timur pun mulai menunjukkan diri sebagai penghasil Rumput Laut utamanya jenis Euchema cottonii.
Produksi rumput laut Jawa Timur 3 tahun yang lalu bukanlah apa-apa. Namun pada tahun 2010, produksi rumput laut Jawa Timur mencapai 513.471 ton. Produksi rumput Jawa timur ini, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar 340.238 ton.
Peningkatan produksi rumput laut Jawa Timur ini tidak terlepas dari peningkatan produksi rumput laut di Kabupaten Sumenep. Sumenep dikenal sebagai sentranya budidaya rumput laut di Jawa Timur. Produksi Rumput Laut Provinsi Jawa Timur hampir seluruhnya berasal dari kabupaten sumenep ini. Produksi rumput laut Sumenep mulai terlihat sejak tahun 2008 dan mulai menampakan diri sebagai penghasil rumput laut yang cukup tinggi pada tahun 2009. Produksi rumput laut pada tahun 2009 mencapai 328.100,7 ton E. Cottonii dan pada tahun 2010 produksi rumput laut mencapai 500.000-an ton.
Pada tahun 2010 terjadi perluasan lahan budidaya sehingga pencapaian produksi rumput laut dari budidaya laut terjadi peningkatan yang cukup signifikan. Selain itu terdapat pula program pengembangan rumput laut di kabupaten Sumenep. Dua hal inilah yang menyebabkan terjadinya lonjakan produksi rumput laut selain kondisi perairan yang mendukung pembudidayaan rumput laut.
Pada saat ini, pembudidayaan rumput di daerah daratan/pantai sudah mencapai titik yang optimal sehingga beberapa tahun ini pengembangan rumput diarahkan ke daerah kepulauan. Ada sekitar 126 pulau yang dapat dikembangkan untuk budidaya rumput laut. Saat ini sentra budidaya rumput di kepulauan terletak di pulau sapeken. Ke depan, akan terbentuk sentra-sentra budidaya rumput laut di pulau-pulau yang lain.
Metode pembudidayaan rumput laut yang dikembangkan di Kabupaten Sumenep ini menggunakan metode rakit, long-line dan semi long-line. Metode rakit banyak terdapat di daerah sekitar pantai di kabupaten sumenep sementara metode semi long line dan metode long line banyak terdapat di kepulauan.
Beberapa tahun yang lalu pembudidaya rumput laut kesulitan dalam memasarkan hasil budidayanya terutama di daerah kepulauan namun seiring dengan meningkatnya produksi rumput laut Sumenep dan kualitas rumput lautnya yang terjaga dengan baik, pemasaran hasil budidaya rumput laut bukan menjadi kendala lagi. Beberapa pengepul rumput laut bahkan berani mendatangi langsung lokasi budidaya rumput laut yang terletak di kepulauan tersebut.
Rumput laut, telah membuka jalan bagi beberapa penduduk di daerah Sumenep. Rumput laut telah menjadi salah satu solusi bagi pemerintah daerah untuk mengurangi pengangguran dan mengurangi kemiskinan. Terbukti, dalam beberapa tahun ini rumput laut mampu mempekerjakan banyak penduduk yang dulunya menganggur dan mengurangi beban hidup para penduduk di sekitar Sumenep.
Pengurangan pengangguran dan penanggulangan kemiskinan ini pun sejalan dengan visi dan misi Ditjen Perikanan Budidaya yang memiliki misi antara lain Pro Job dan Pro Poor, yang maksudnya adalah seperti tersebut di atas.