
Kementerian Perindustrian menargetkan ada pembangunan pabrik pengolahan rumput laut tahun depan. Hal ini untuk meningkatkan kegiatan hilir industri agro di Indonesia.
Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian, Dedi Mulyadi mengatakan, pembangunan pabrik pengolahan rumput laut baru itu direncanakan berada di Palu, Sulawesi Tengah; Sumba, Nusa Tenggara Timur, dan Bau-Bau, Sulawesi Tenggara.
Dari ketiga lokasi itu, baru Palu yang dipastikan akan menjadi tempat pembangunan pabrik olahan rumput laut baru. “Tapi saya belum mau menyebutkan nama perusahaannya. Yang pasti investor dari Jepang kerjasama dengan swasta lokal,” kata Dedi, Jumat (23/12).
Dedi menyebutkan, pembangunan pabrik masih belum diputuskan apakah untuk refine carrageenan (RC) atau semi refine carrageenan (SRC). Nilai investasi pembangunan pabrik RC yang dibutuhkan sekitar Rp 50 miliar, sedangkan pabrik SRC dibutuhkan investasi sekitar Rp 20 miliar hingga Rp. 30 miliar.
Namun, pembangunan pabrik di Palu baru mulai dilaksanakan pada semester pertama 2012. Pembangunan pabrik memerlukan waktu 6 bulan dan masa uji coba selama 3 bulan. “Nilai investasi untuk sebuah industri pengolahan tidak terlalu besar dan amat menguntungkan karena diperkirakan modal kembali dalam dua tahun,” katanya.
Nantinya, lanjut Dedi, pabrik pengolahan rumput laut yang dibangun membutuhkan 9 ton bahan baku setiap hari. Untuk saat ini, pemerintah dengan para investor masih mengkaji jenis pabrik pengolahan rumput laut yang akan dibangun.
Menurut Dedi, industri olahan ini akan menggandeng pemerintah daerah setempat. Artinya, Pemda memiliki saham di industri tersebut. Sebab, Pemda setempat harus meyakinkan kepada investor bahwa ketersediaan bahan baku rumput laut bisa terus dipasok secara berkelanjutan.
“Selama ini industri dalam negeri sering kesulitan bahan baku. Karena itu kita sering impor barang olahan dan sekarang pemerintah coba memperbanyak pabrik olahan di dalam negeri,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Rumput Laut Indonesia, Safari Azis, meminta pemerintah tidak gegabah mendorong pendirian pabrik pengolahan rumput laut yang tidak ekonomis dan tidak layak untuk mengejar hilirisasi industri.
Alasannya, seringkali pemerintah membangun pabrik dadakan yang cenderung hanya mengejar proyek. “Lalu seringnya pabrik-pabrik itu tidak beroperasi lagi,” katanya.
Meskipun demikian, menurut Safari, pembangunan industri dalam negeri sebagai pasar alternatif ekspor memang dibutuhkan untuk mendorong kestabilan harga rumput laut. Dia menyarankan kepada pemerintah untuk membenahi iklim usaha industri rumput laut melalui kombinasi penerbitan standar, pemberlakuan bea masuk pada rumput laut olahan dan meningkatkan daya saing melalui kerja sama teknologi.
Sayang, harga rumput laut saat ini sedang mengalami penurunan. Dari rata-rata Rp 9.000 per kilogram menjadi Rp 6.000 per kilogram akibat penundaan pembelian dari importir untuk mengantisipasi perlambatan ekonomi Eropa dan Amerika Serikat.