
MAKASSAR, UPEKS-- Di Indonesia terdapat sekitar 550 jenis rumput laut yang dapat tumbuh dengan baik, yaitu jenis rumput laut yang mempunyai nilai ekonomis tinggi seperti eucheuma cottonii sp, gracillaria sp dan spinosum sp.
Jenis tersebut dapat menghasilkan karagian, agar dan alginat. Selain itu masih banyak jenis rumput laut yang mengandung bioaktif yang berpeluang mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi.
Menurut Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian kelautan dan Perikanan, Saut P Hutagalung, saat ini produksi rumput laut khususnya jenis cottonii sp yang dihasilkan oleh industri dalam negeri, sebagian besar berupa produk setengah jadi (Alkaline Treated Cottonii/ATC). Sedangkan produk semi Semi Refine Carrageenan (SRC) dan Refine Carrageenan (RC) hanya diproduksi beberapa industri saja. Bahkan Indonesia masih banyak mengimpor SRC danRC dari berbagai negara. Hingga periode I-2012, jenis rumput laut mampu menghasilkan devisa sebesar U$S 220 juta.
"Sebagai gambaran, impor karagian di dalam negeri terus meningkat. Hal ini dilihat pada tiga tahun terakhir dan berdasarkan data BPS," kata Saut di Makassar, Selasa (15/5).
Saut menjelaskan, impor karagian pada tahun 2009 sebesar 735,260 ton, tahun 2010 sebanyak 1.257,499 ton, dan tahun 2011 mencapai 1.320,818 ton yang berasal dari Korea, China, Philipina, Amerika, Belanda, Perancis, Denmark dan masih banyak negara lainnya. Untuk agar, Indonesia masih mengimpor dari China, Malaysia, Kanada, Perancis, Jerman dan Spanyol.
Ia juga memaparkan tentang volume impor agar-agar ke Indonesia yang mencapai 903,860 ton hingga 2012. Angka tersebut, kata Saut, meningkat dibandingkan tahun 2010 sebesar 750, 164 ton, dan tahun 2009 sebanyak 490,576 ton.
Menurutnya, kondisi ini sangat ironis karena Indonesia mempunyai potensi sumber daya alam atau rumput laut yang cukup besar, khususnya di kawasan Indonesia bagian tengah dan timur yang didukung industri rumput laut dalam negeri.
Untuk mengatasi hal tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan pada Tahun Anggaran 2012-2014 melaksanakan program industrialisasi rumput laut yang bertujuan meningkatkan produktivitas, nilai tambah dan daya saing produk, sekaligus untuk lebih mengangkat kesejahteraan masyarakat dengan lokasi percontohan Kabupaten Takalar, Jeneponto, Sumbawa, Parigi Moutong dan Minahasa Utara.
Dalam kegiatan tersebut, membahas beberapa strategi dan kebijakan yang akan dilakukan dalam pengembangan industri rumput laut, seperti peningkatan kualitas bahan baku dan pasca panen, mengoptimalkan pabrik-pabrik yang ada, mendorong pengembangan industri end product dan industri formulasi, pengembangan kemitraan dengan Bapak angkat.
"Selain itu, target kita membangun pabrik baru dan perluasan akses pasar dalam dan luar negeri, serta mengoptimalkan kerjasama enam kementerian atau lembaga," ujarnya.