
BANDA ACEH - Meski potensi rumput laut di sejumlah daerah Propinsi Aceh cukup menjanjikan, namun pengusaha daerah itu masih kurang berminat mengelolanya secara intensif, akibatnya kebutuhan rumput laut terpaksa didatangkan dari luar daerah.
“Padahal dilihat dari potensinya, Aceh cukup baik. Nah, jika pengelolaannya dilakukan intensif, ketersediaan rumput laut tak perlu didatangkan dari luar daerah seperti Medan, Jakarta atau daerah lain di Pulau Jawa,“ kata seorang pedagang rumput laut, Maimun Arrasyid (60), Rabu (7/11) di Banda Aceh.
Maimun mengatakan, bahan baku rumput laut cukup tersedia di Aceh. Jika pemerintah mendukung usaha ini dan pengusaha juga serius, pedagang di Aceh tidak perlu mendatangkan dari Medan atau daerah lainnya.
Warga Garot, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar ini mengatakan sudah setahun lebih berdagang rumput laut yang didatangkan dari Jakarta. Maimun tertarik berbisnis rumput laut, setelah melihat ada peluang rezeki yang menjanjikan.
Rencana awal membuka usaha tersebut hanya untuk coba-coba, setelah tiga bulan memasarkannya justru banyak permintaan konsumen.
“Namun karena bahan baku sulit diperoleh di Aceh, kami terpaksa menghubungi rekan di Jakarta untuk mengirim melalui paket udara. Jelas membutuhkan cost tinggi,” ungkap Maimun.
Sekarang dia dikirimi sekitar 10 kg tiap hari, itu pun menurutnya tidak cukup karena segera habis terjual. Maimun menjualnya dalam bentuk siap saji, ada yang dijus dicampur sirup manis atau sirup buah kurma.
Karena itu pula, Maimun bersama rekan-rekan berharap ada kepedulian pemerintah daerah sehingga potensi rumput laut Aceh mampu dimaksimalkan.
Menurutnya, di Perairan Pulo Aceh dan sekitarnya merupakan potensi yang besar bagi budidaya rumput laut.
“Saya pernah dengar dulu ada dibudidayakan, tetapi karena dilakukan secara tradisional banyak dimakan ikan,“ pungkasnya.