
Mataram - Sekarang rumput laut sudah jadi roh perekonomian masyarakat Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), tanpa rumput laut mungkin kami resah berkepanjangan ujar Hasan (34), pembudi daya rumput laut di desa tersebut.
Dusun Gerupuk, Desa Sengkol, Kecamatan Pujut berada sekitar 60 kilometer arah selatan Kota Mataram, merupakan bagian dari Kabupaten Lombok Tengah.
Hasan merupakan Ketua Kelompok Nelayan Bandar Besar I yang beraktivitas di Teluk Gerupuk, yang beranggotakan 15 orang nelayan. Terdapat sembilan kelompok nelayan yang bergelut pada budi daya rumput laut jenis Eucheuma cottoni di Teluk Gerupuk. Kelompok lainnya seperti Bangkit Bersama II dan Ingin Maju I.
Setiap kelompok memiliki 10-15 orang anggota nelayan. Setiap anggota kelompok nelayan itu memiliki 1-5 area budi daya rumput laut yang dikenal dengan sebutan "long line" atau area budi daya rumput laut yang ditandai dengan bentangan tali dengan ukuran 50 x 50 meter.
Hasan mengatakan, budi daya rumput laut di kawasan itu tidak mengenal musim, sepanjang tahun bisa dilakukan. Setahun bisa enam kali panen, atau setiap 1,5 bulan waktu budidaya sudah bisa dipanen.
Mei hingga Agustus merupakan waktu yang paling tepat untuk budi daya rumput laut. Bulan lainnya juga dibolehkan namun hasilnya kurang memuaskan terkait cuaca.
Setiap "long line" dapat menghasilkan 2,5 ton rumput laut basah, dan jika dikeringkan menghasilkan 375 kilogram, atau setiap satu kwintal (100 kilogram) rumput laut basah yang dikeringkan akan menjadi 15 kilogram rumput laut kering.
Harga jualnya mencapai Rp1.000/kilogram rumput laut basah, dan Rp5.000/kilogram rumput laut kering, sehingga omset yang dapat diraih dari satu "long line" dapat mencapai Rp15 juta.
"Satu anggota kelompok ada yang punya sampai lima `long line` sehingga bisa menghasilkan uang banyak. Itu sebabnya, kami suka budi daya rumput laut," ujar Hasan yang diamini anggota kelompok nelayan budi daya rumput laut lainnya, seperti Amaq Yasin alias Eko selaku anggota Kelompok Nelayan Bangkit Bersama II dan Amaq Tari selaku anggota Kelompok Nelayan Ingin Maju I.
Wajar saja, jika para nelayan di teluk Gerupuk itu mulai berangan-angan hendak menyekolahkan anak-anak mereka hingga perguruan tinggi. Bahkan, beberapa diantara mereka sudah mulai membidik universitas top di Pulau Jawa, meskipun anak-anak mereka masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Apalagi, mereka juga menekuni aktivitas rutin yakni menangkap ikan di laut, dan usaha budi daya lobster, yang mampu menghasilkan jutaan rupiah setiap bulan.
Para nelayan di Teluk Gerupuk mengakui, usaha budi daya rumput laut di kawasan itu sudah cukup lama, apalagi telah ada instalasi Balai Budi Daya Laut Lombok, salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Jenis rumput laut jenis Eucheuma cottoni yang dikembangkan di Teluk Gerupuk itu awalnya didatangkan dari Maumere, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 2006. Setelah dibekali pengetahuan teknis, para nelayan di sana mulai menggeluti usaha budi daya rumput laut itu.
Usaha budi daya rumput laut itu makin menggeliat ketika para nelayan mendapat dukungan paket bantuan pengembangan usaha dari Pemerintah Provinsi NTB, berupa tali untuk "long line", dan peralatan lainnya, serta bibit rumput laut.
Bantuan modal usaha bergulir itu nilainya sekitar Rp10 juta per paket, yang diberikan kepada sedikitnya 20 orang nelayan dari berbagai kelompok usaha budi daya, setiap tahun anggaran sejak 2010.
"Untuk mengembalikan bantuan modal usaha itu, bisa hanya dalam dua kali panen, sehingga empat kali panen berikutnya merupakan keuntungan kami. Sekarang pun setiap kali panen sudah bicara keuntungan," ujar Hasan yang mengaku sudah memasuki tahun kedua dalam menikmati bantuan Pemprov NTB untuk pengembangan usaha budi daya rumput laut itu.
Para nelayan di Teluk Gerupuk itu, mengaku akan lebih giat lagi berusaha demi peningkatan kesejahteraan keluarga, dan capaian hidup yang lebih baik di masa mendatang.
Hanya saja, mereka pun menghendaki bantuan perahu sebagai sarana transportasi dari bibir pantai menuju area budi daya rumput laut.