
PALU–Kalangan akademisi menilai pengembangan Kawasan Pengembangan Rumput Laut (KPRL) di Sulawesi Tengah perlu dimasukkan dalam tata ruang wilayah untuk mendukung pengembangan usaha rumput laut.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Rokhmin Dahuri mengatakan setiap kabupaten dan kota provinsi perlu melakukan pemetaan lokasi atau kawasan yang cocok untuk budidaya rumput laut, baik yang dilakukan di laut maupun di tambak.
“Selain melakukan pemetaan dan menetapkannya dalam tata ruang wilayah, yang perlu juga diperhatikan yakni mengenai pembangunan kebun bibit rumput laut yang unggul sebagai salah satu strategi pengembangan usaha rumput laut,” kata Rokhmin dalam seminar Potensi dan Strategi Pengembangan Rumput Laut Sebagai Tindak Lanjut Implementasi MP3EI di Palu, Kamis (6/12/2012).
Dia juga mengatakan kepada setiap pembudidaya, harus memiliki besar unit usaha yang memenuhi skala ekonomi untuk menjamin keuntungan usaha yang mensejahterakan minimal Rp2,5 juta per bulan per kepala keluarga.
Termasuk harus disiplin dalam menerapkan cara budidaya yang baik.
Menurutnya, Sulteng sebagai penghasil rumput laut kedua di Indonesia mestinya membangun pabrik pengolahan rumput laut, dan membeli rumput laut kering dari pembudidaya dengan mengembangkan model bisnis rumput laut yang menguntungkan semua pihak yang terlibat.
“Perbaiki infrastruktur, atau bangun infrastruktur baru supaya dapat mendukung kinerja bisnis budidaya rumput laut,” tegasnya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng Hasanuddin Atjo mengatakan produksi rumput laut Sulteng pada 2011 mencapai 807.731 ton, atau 17% dari produksi rumput laut nasional dan produksi tersebut sebagian besar dikirim ke luar negeri.
“Hal itu menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan produksi dari bahan baku menjadi bahan jadi, apalagi diketahui hasil akhir dari rumput laut bisa mencapai 500 jenis produk,” katanya.
Dia menyebutkan saat ini di Sulteng terdapat empat pabrik semirefine yang terletak di Parigi Moutong, Tojo Unauna, Morowali dan Kabupaten Banggai yang produksinya dikirim ke Brasil dan China.