
Para petani rumput laut dilarang pihak tertentu melakukan aktivitas produksi seperti menjemur rumput laut di pinggir pantai.
Menjamurnya industri pariwisata di Bali membuat petani rumput laut semakin terpinggirkan. Lahan yang mereka gunakan kini beralih fungsi menjadi perhotelan.
Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) Safari Azis mengataian, rumput laut pertama kali dibudidayakan di Bali sekitar 30 tahun lalu di Pantai Terora, Nusa Dua. Namun seiring perkembangan pariwisata, wilayah tersebut tidak lagi kondusif bagi aktivitas budidaya sehingga dipindahkan ke Pantai Geger.
“Beberapa tahun terakhir ini, perkembangan wisata di Pantai Geger pun semakin gencar dengan pembangunan hotel-hotel dan fasilitas wisata lainnya. Ini mengancam kelestarian usaha rumput laut, dari 100 kepala keluarga (KK) yang mengembangkan rumput laut, kini hanya tersisa 30 KK saja,” ungkap Safari dalam siaran persnya, Rabu (26/12).
Dikatakan Safari, para petani rumput laut dilarang pihak tertentu melakukan aktivitas produksi seperti menjemur rumput laut di pinggir pantai. Petani juga diminta membongkar tempat penyimpanan rumput laut kering dengan kompensasi Rp2 juta per KK.
“Mereka juga dijanjikan akan dipekerjakan sebagai karyawan hotel. Namun kenyataannya tidak semua dapat bekerja di sektor itu karena kendala usia, pendidikan dan keahlian,” kata Safari.
Sekarang ini, tambah Safari, 30 KK pembudidaya rumput laut harus mencari lahan penjemuran dengan lokasi yang cukup jauh. Akibatnya, produksi rumput laut jauh berkurang.
Petani pembudidaya rumput laut di Bali meminta pemerintah untuk mengatur penataan kawasan antara kegiatan pariwisata dan aktivitas budidaya rumput laut terutama di daerah Pantai Geger, Nusa Dua.
“Kami harapkan ada tata ruang agar ada pembedaan wilayah pariwisata dan budidaya rumput laut. Perlu dipertimbangkan kembali karena aktivitas budidaya rumput laut bisa menjadi bagian pariwisata di Bali, bahkan bisa menangkal abrasi dan membersihkan air di pantai” kata Safari.
ARLI meminta pemerintah baik pusat maupun daerah untuk memberikan jaminan kepada para petani rumput laut untuk tetap melakukan budidaya. “Kami harapkan tak ada lagi penggusuran, alih-alih ada jaminan pasar yang bisa menyerap rumput laut mereka.”
Safari mengatakan, pihaknya akan melakukaan penandatangan nota kesepahaman dengan Kelompok Tani Rumput Laut Bali untuk bekerjasama melakukan pertukaran data dan informasi mengenai kualitas dan harga rumput laut baik di pasar dalam negeri maupun internasional.