
KENDARI - Budidaya rumput laut terus digenjot pemerintah untuk meningkatkan produksi. Program melalui APBN, APBD atau melalui dana pemberdayaan usaha mina pedesaan (PUMP) terus dialokasikan untuk membantu masyarakat kelompok pembudidaya rumput laut. Hasilnya, produksi rumput laut Sultra terus mengalami peningkatan.
"Produksi rumput laut di Sultra selalu naik tiap tahun. Tahun 2010 lalu produksinya mencapai 518 ribu ton dan tahun 2011 menyentuh angka 586 ribu ton. Data produksi rumput laut sementara 2012 mencapai 597 ribu ton dari total lahan seluas 32 ribu hektar dan diperkirakan naik hingga 650 ribu ton setelah data produksi seluruh kabupaten dirampungkan," ujar Kabid Budidaya Perairan DKP Sultra, Laode Ridwan di ruang kerjanya kemarin.
Pencapaian itu menyebabkan target produksi kalender kerja 2013 kedepan mencapai 825 ribu ton. Produksi rumput laut tiap daerah berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya tidak sepenuhnya merata. Terkadang pada tahun tertentu produksi rumput laut suatu daerah melampaui target yang ditetapkan, namun kadang anjlok karena faktor musim dan penyakit.
Berdasarkan realisasi hasil produksi sebelumnya, Kabupaten Buton, Muna dan Kolaka mendapat target produksi tertinggi dengan kuota diatas seratus ribu ton. "Target produksi di Buton paling tinggi sebesar 189 ribu ton, sedangkan daerah selain tiga daerah tersebut hanya ditarget dikisaran 700 ton - 92 ribu ton," imbuh Ridwan.
Bantuan dana melalui alokasi APBN maupun APBD serta bantuan langsung PUMP berpengaruh terhadap peningkatan produksi rumput laut. Umumnya bantuan tersebut digunakan untuk peningkatan sarana produksi dan permodalan petani. Animo masyarakat terhadap budiaya tanaman ini cukup baik karena kegiatannya mudah, murah, dan hanya butuh modal relatif kecil serta teknologi yang sederhana.
Bantuan pemerintah melalui APBN khusus untuk sektor budidaya di Sultra tahun ini mencapai Rp 4 miliar sedang bantuan langsung melalui PUMP tahun lalu dialokasikan pada 36 kelompok pembudidaya di delapan kabupaten dengan total alokasi dana Rp 2,3 miliar. "Walau belum ditetapkan oleh Dirjen Pusat namun dana PUMP nya mudah-mudahan meningkat seiring dengan naiknya kelompok penerima PUMP secara nasional yang ditetapkan untuk 2013 mencapai 4 ribu kelompok," kata Ridwan.
Hasil produksi rumput laut Sultra selama ini lebih banyak dipasarkan pada perusahaan di Makassar dan Surabaya. Rantai pemasaran yang panjang sering menjadi kendala petani yang mengakibatkan harga jual rendah. Tidak adanya lembaga maupun kluster pengolahan rumput laut didaerah yangdapat menampung panen petani memaksa petani menjual langsung kepengumpul sesuai harga yang ditetapkan pengumpul itu. "Kami berharap pengumpul besar berskala pabrik dari luar Sultra bisa membangun jaringan kerjasama langsung ke kelompok petani," imbuh Ridwan.
Ia juga tak lupa menghimbau agar terjadi kesolidan ditingkat kelompok budidaya terhadap pemanfaatan kredit usaha rakyat (KUR), serta koordinasi dan perhatian lembaga berwenang lainnya semisal Dinas Koperasi dan UMKM. Hal itu terkait pendirian koperasi khusus perikanan atau pelebaran unit usaha koperasi yang berperan dalam pemberdayaan ekonomi petani dan hasil produksi rumput laut mereka.