
KALIANDA (Lampost.co): Petugas Balai Bibit dan Budidaya Laut (BBL) Provinsi Lampung dan mahasiswi S2 Universitas Indonesia (UI) Fakultas MIPA mengambil contoh air laut dilokasi budidaya rumput laut Dusun Legundi Induk desa Legundi, kecamatan Ketapang, Lampung Selatan untuk penelitian, Kamis (21-11).
Penelitian tersebut diharapkan dapat menjawab pertanyaan pembudidaya rumput laut di wilayah pesisir kecamatan Ketapang yang nyaris gulung tikar sejak dua tahun terakhir. Sebab selama ini petani hanya mengetahui tanaman rumput laut mati diserang hama lumut, kadar air laut yang digunakan untuk budidaya rumput laut..
Petugas BBL Provinsi Lampung Ana bersama Ilawati mahasiswi S2 UI faklutas MIPA mengatakan, kondisi air laut yang keruh dapat menghambat pertumbuhan rumput laut. Menurutnya, rumput laut akan berkembangbiak cukup baik dengan kondisi air laut terlihat jernih hingga kedalaman 1 mater. “Kejernihan air pada kekedalaman satu meter dari permukaan laut membuat pertumbuhan rumput laut bagus. Namun disini kami lihat airnya keruh. Ini jelas sudah menghambat pertumbuhan rumput laut," kata Ana di lokasi budidaya rumput laut dusun Legundi Induk, desa Legundi kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, kemarin.
Menurut Ana, penanaman rumput laut tidak dibatasi jaraknya dari bibir pantai. Semakin jauh dari bibir pantai air laut yang semakin jernih sangat baik uintuk perkembangbiakan rumput laut. Namun kendalanya petani akan kesulitan mencari tiang pancang untuk memasang tali rumput laut,” terangnya.
Lebih lanjut Ana menjelaskan, jika diliat secara kasat mata, kondisi air laut di Kecamatan Ketapang ini kekurangan bahan organik yang terkandung didalam air laut. Padahal bahan organik tersebut sangat dibutuhkan untuk tanaman rumput laut."Kandungan bahan organik rendah karena kerusakan terumbu karang tinggi, sehingga berdampak pada produksi rumput laut," kata Ana menjanjikan hasil laboratorium air laut baru akan diketahui tiga hari mendatang .
Hal senada diucapkan Ilawati, peneliti dari Fakultas MIPA UI. Menurut dia, kerusakan terumbu karang di Indonresia cukup tinggi, sehingga tidak ada satu pun di Indonesia ini bibit rumput laut yang tahan akan serangan hama penyakit.
Selain ingin mengetahui kadar air laut dilokasi budidaya rumput laut pesisir kecamatan Ketapang, Ila mengaku akan membuat peta tentang budidaya rumput laut di kawasan pesisir Ketapang. “Selama ini kami hanya mendengar kawasan Ketapang ini sebagai budidaya rumput laut, namun belum di ketahui petanya secara jelas, bahkan dari satelit pun tidak terlihat," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Sinar Semendo I, Desa Legundi, Kecamatan Ketapang Amran mengatakan, sejak dua tahun terakhir ini budidaya rumput laut di kawasan pesisir Ketapang tidak berjalan. Bahkan budidaya rumput laut di kawasan itu nyaris punah. “Ada sekitar dua tahun tidak berproduksi. Serangan hama lumut sangat berat di hilangkan. Tanaman rumput laut tidak berkembang dan tidak membuahkan hasil. Petani rugi besar dan harus banting setir untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” ujarnya.
Dia berharap pemerintah dan instansi terkait peduli dan membantu petani untuk memulai pembudidayaan rumput laut. “Sejak empat bulan ini perkembangan rumput laut di Desa Legundi berangsur-angsur mambaik. Namun hanya kami bertiga yang masih bertahan menanam rumput laut, dari bibit sisa serangan hama, warga lainnya belum bisa menggarap karena keterbatasan dana,” katanya.
Menurut dia, kondisi air laut berangsur-angsur jernih dan serangan hama lumut mulai menghilang sejak kapal tongkang ngangkut pasir milik PT Wahana Pasir Sakti berhenti beroperasi di dermaga Desa Tridharmayoga berhenti. beroperasi dan pindah ke lampung Timur bergantiu nama PT JPP.“Entah kebetulan atau bagaimana, pasca dermaga tongkang pindah kondisi air laut berangsur angsur jernih, dan pertumbuhan rumput laut yang masih kami tekuni ini berangsur-angsur membaik," tandasnya.