
Pamekasan (beritajatim.com) - Cuaca buruk pada beberapa bulan terakhir yang mengakibatkan tingginya curah hujan dan gelombang laut, tidak hanya membuat sejumlah nelayan resah.
Tapi hal itu juga dirasakan sejumlah petani rumput laut di Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu.
Kondisi tersebut membuat budi daya rumput laut milik sejumlah petani rusak, karena air bah dan lumpur dari beberapa aliran sungai pembuangan banjir di sekitar pantai merusak sejumlah petakan keramba rumput laut.
Salah satu petani rumput laut asal desa setempat, Sulaiman mengatakan, Jum'at (31/01/2014). Dalam satu petak rumput laut, biasanya petani menghasilkan delapan kwintal.
Namun saat ini hanya bisa panen sekitar empat kwintal saja. "Air lautnya rusak bercampur lumpur mas. Jadi hasil panen tidak seperti biasanya," kata Sulaiman.
Lebih lanjut Sulaiman menjelaskan, budi daya rumput laut biasanya dipanen pada usia 40 hari. Tetapi pada saat ini dipanen lebih awal, yakni 10 hari lebih awal. "Untuk saat ini kita panen lebih awal mas, untuk menghidari kerugian lebih besar," jelasnya.
Selain itu, kualitas rumput laut juga menurun yang mengakibatkan harga di pasaran anjlok. Sebelumnya harga rumput laut kering sebesar Rp 13 ribu per kilo gram, saat ini bisa turun Rp 10 ribu hingga Rp 9 ribu per Kg.