
Sejumlah petani rumput laut di Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu, terpaksa memanen lebih awal untuk menghindari kerugian lebih besar, Minggu (30/03/2014).
Hal tersebut dikarenakan, rumput laut milik petani sebagian besar rusak dan berlumut akibat bercampur dengan lumpur hingga mempengaruhi pertumbuhan rumput laut.
Kondisi tersebut dikeluhkan oleh sejumlah petani, dan mereka terpaksa memanen tanamannya lebih awal dan belum waktunya. Sebab, seharusnya 40 hingga 45 hari baru bisa dipanen. "Tidak ada angin dan hujan, serta air laut yang terlalu keruh membuat rumput laut kotor dan tumbuh tidak maksimal," kata Sumrotus Salamah, salah satu petani rumput laut.
Salamah menjelaskan, dalam satu ancak (petak) dengan bibit 40 kilo gram (kg), biasanya memanen tiga setengah hingga empat kwintal. Namun karena rusak dan berlumut, hanya bisa memanen dua kwuintal saja.
"Omor 30 areh, biasanah 45 areh. E panen polanah bulung rosak, bennyak lomottah. Biasanah mon bhegus sa pettak olle tellok satengga sampek empak kwintal. Nekah ghun duwe' kwintal (umur 30 hari. Biasanya panen 45 hari. Dipanen karena rumput laut rusak banyak lumut, lumpur. Biasanya kalau bagus satu petak dapat tiga setengah hingga empat kwintal. Ini hanya dua kwintal," jelasnya.
Hal senada juga diungkapkan petani lainnya, Faiqoh, kondisi rumput laut yang rusak dan penuh lumut. Membuat kualitas rumput laut menjadi turun dan harganya anjlok. "Rumput laut normal dengan kualitas bagus saat ini Rp 2.500 per kg basah. Tapi bila rusak dan berlumut, hanya laku Rp 1.500 hingga Rp 1.700 per kg," ungkapnya.