
Sejumlah petani rumput laut di Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, mengeluhkan pencemaran lingkungan di perairan pulau tersebut.
"Makin banyaknya kapal-kapal 'boat', perahu bermesin, dan kegiatan wisata air menimbulkan polusi. Hal ini berakibat tanaman rumput laut kami tidak subur," kata I Wayan Darma, petani rumput laut asal Desa Semaya, Kamis (8/5/2014).
Selain polusi, petani juga menderita oleh serangan hama ikan. "Rumput laut di tempat kami tidak membaik, tapi makin memburuk," kata I Nyoman Risna, petani rumput laut asal Desa Jungutbatu.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kecamatan Nusa Penida I Nyoman Sangging mengakui bahwa dalam beberapa waktu terakhir produksi rumput laut di daerahnya terganggu.
"Ada hama sejenis rumput liar yang bernama 'ais-ais' yang menempel pada rumput laut seperti parasit sangat menghambat pertumbuhan tanaman," ujarnya.
Di samping itu ada juga beberapa jenis ikan lokal, seperti tabasan dan pogot juga sering kali memangsa tanaman rumput laut.
"Faktor cuaca, seperti ombak besar yang kadang datang secara tiba-tiba juga menyebabkan rumput laut terlepas dari ikatannya. Belum lagi masalah penyempitan lahan penjemuran untuk kegiatan pariwisata," kata Sangging.
Petani rumput laut di Nusa Penida juga tidak bisa leluasa menjual hasil panennya karena terikat dengan sistem ijon.
Oleh sebab itu, Pemerintah Kabupaten Klungkung mendorong para petani rumput laut di Nusa Penida untuk membentuk koperasi.
"Kami anggap koperasi bisa mengatasi persoalan pemasaran hasil panen," kata Kepala Unit Pelayanan Pengembangan Rumbut Laut Kabupaten Klungkung I Nyoman Landep.
Petani rumput laut di Nusa Penida mencapai 2.793 orang tergabung dalam 96 kelompok petani dengan luas area rumput laut yang produktif 141,86 hektare yang tersebar di sepanjang garis pantai di sejumlah desa, yakni Jungutbatu, Lembongan, Suana, Semaya, Batununggul, Kutampi Kaler, Ped, dan Toyapakeh.