
Budi daya rumput laut menjadi salah satu sumber mata pencaharian warga Desa Api-api, Kecamatan Waru, Penajam Paser Utara (PPU). Jika dua tahun lalu, kelompok pembudidaya di daerah tersebut dapat menghasilkan belasan ton saat masa panen, saat ini telah berbanding terbalik. Pasalnya banyak yang merugi karena serangan penyakit serta kondisi alam yang tidak menentu.
Puluhan warga yang sebelumnya menjadi pembudidaya rumput laut, kini beralih pekerjaan menjadi buruh bangunan atau nelayan tradisional dengan alat seadanya.
Khaerudin, seorang pembudidaya rumput laut mengatakan, tak banyak yang mampu mereka lakukan dengan kondisi ekonomi saat ini. "Rumput laut macet, sekarang banyak yang jadi kuli bangunan," ucapnya.
Hal serupa juga dikatakan Rudi, warga setempat. Dia menyebut, warga memerlukan bantuan pemerintah agar dapat beraktivitas seperti sebelumnya. "Dulu kami nelayan, saat rumput laut ramai, kami ikut membudidayakan. Sekarang rumput merosot. Untuk kembali menjadi nelayan perlu modal. Ya, terpaksa kami bekerja apa saja, yang penting bisa makan," paparnya, kemarin (29/7).
Dari informasi, di pesisir Desa Api-Api terdapat empat kelompok pembudidaya rumput laut yang masing-masing memiliki10 hingga 15 anggota. Sayangnya, kini hanya sekira 10 orang yang tetap bertahan. Mereka berharap ada formula baru untuk mengatasi penyakit yang menyerang rumput laut. Jika terserang, perkembangan rumput laut tersendat dan ada sejenis jamur berwarna putih di bagian batang.
Terpisah, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Ahmad Usman menjelaskan, kondisi alam dan penyakit yang menyerang rumput laut di daerah tersebut sedang dipelajari. "Pada prinsipnya kami akan terus mendukung masyarakat, baik nelayan ataupun pembudidaya rumput laut," jelasnya.