
PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) memproyeksikan proses riset pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBG) dari rumput laut akan rampung dalam waktu 8-10 bulan dan memulai proyeknya pada tahun depan di Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.
Direktur Utama PJB Iwan Agung Firstantara mengatakan saat ini PJB bekerja sama dengan sebuah perusahaan teknologi asal Belanda untuk melakukan riset tersebut. Dalam riset tersebut membutuhkan investasi mencapai Rp5 miliar yang masing-masing pihak PJB dan Belanda memiliki porsi investasi 50%.
“Investasi itu hanya untuk riset saja nanti biayanya share dengan mereka. Kalau dalam 10 bulan riset selesai dan sudah layak maka tahun depan sudah siap dikembangkan dan dalam waktu 1-1,5 tahun listriknya sudah bisa dinikmati,” jelasnya, Selasa (4/10/2016).
Adapun rencananya dalam proyek pembangkit listrik dari rumput laut tersebut akan menghasilkan listrik 10 MW dari produksi rumput laut yang diproyeksikan mencapai 10.000 ton/ha. Sebanyak 10 MW tersebut diperkirakan bakal mampu mencukupi kebutuhan listrik untuk 200.000 rumah tangga.
Iwan menyakini proyek pembangkit listrik dari rumput laut tersebut memiliki potensi yang besar sebagai energi baru terbarukan untuk kebutuhan 10-20 tahun ke depan. Indonesia sendiri merupakan negara penghasil rumput laut yang terbesar sehingga sangat potensial.
“Selama ini rumput laut kita hanya digunakan untuk konsumsi makan dan bahan kosmetik, tetapi ternyata rumput laut mengandung metan yang sangat tinggi. Jadi rumput laut yang sedang kita budidayakan ini akan diambil kandungan metannya untuk pembangkit lalu sisanya bisa untuk pupuk,” jelas Iwan.
Dia menambahkan, ada 3-4 jenis atau varian rumput laut di Indonesia dan saat ini sedang diteliti jenis mana yang cocok untuk digunakan sebagai pembangkit. Rencananya, PJB juga akan melibatkan petani rumput laut setempat dalam pembudidayaan rumput laut tersebut.
“Kami juga sedang memikirkan apakah penanaman ini akan khusus dikelola sendiri untuk pembangkit itu atau kami melibatkan petani setempat karena paling tidak akan butuh tenaga dari sana,” imbuhnya.
Selain bekerja sama dengan Belanda, PJB juga melibatkan akademisi dan para ahli dari perguruan tinggi seperti Universitas Diponegoro dan Universitas Bangka Belitung.