
Sebagian besar wilayah Penajam Paser Utara (PPU) terletak di daerah pesisir. Berbagai potensi pun dapat dikembangkan. Salah satunya budi daya rumput laut. Meski masih belajar, ada usaha keras dari Pemkab PPU yang membina masyarakat dalam budi daya rumput laut.
Kaltim Post diajak jajaran Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) PPU untuk melakukan panen rumput laut Kotoni di Kelurahan Sungai Parit, Kecamatan Penajam, kemarin (17/11). Ada dua ahli yang dihadirkan. Yakni dari Riset Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jana Tjahjana Angradiredja, dan direktur PT Winner Perkasa Indonesia Unggul, Maria Gigih Setiarti.
Kepala DKP PPU Ahmad Usman menuturkan keinginannya mengakomodasi pembudi daya rumput laut, baik binaan dari instansinya maupun bukan. Karena, pembudi daya bisa menjual hasil rumput laut ke luar daerah dengan harga yang tinggi.
“Di PPU, harganya hanya Rp 2.500 per kilogram untuk bibit, dan Rp 7.000–9.000 untuk rumput laut kering. Sementara di Depok, Jawa Barat, bisa mencapai Rp 90.000,” ujar Usman.
Namun tidak mudah membuat harga rumput laut melambung. Kata Usman, ada cara dan tekniknya, sehingga menghasilkan panen yang berkualitas. Karena itu, dia membawa dua ahli untuk melihat proses panen dari para pembudi daya di PPU.
Setelah melihat kondisi air laut dan cara penanaman, Jana Tjahjana mengatakan pertumbuhan rumput laut cukup bagus. Namun proses pengiriman bibit yang kurang baik, sehingga tak tumbuh maksimal.
“Penanganan proses kirimnya yang harus lebih hati-hati. Jangan sampai ada bibit yang patah. Ini berdampak pada proses dan hasil panen,” jelas Jana Tjahjana.
Dia mengingatkan kepada para petani, agar lebih bersabar dalam memanen. Biasanya dalam 15 hari sudah panen, seharusnya minimal sekitar 30–45 hari.
Sementara Maria Gigih menuturkan, kadar air rumput laut yang dipanen masih mencapai 30 persen. Idealnya, untuk dijual dengan harga tinggi seperti di Depok, minimal 9 persen. Itu bisa dihasilkan dengan teknik yang mudah dan bisa dipelajari.
“Caranya sudah kami sampaikan, tinggal kemauannya saja. Beberapa pembudi daya sudah kami bina. Semoga bisa membuat PPU menjadi daerah penghasil rumput laut terbaik,” kata Maria Gigih.
Namun sebelum dijual keluar daerah, Maria Gigih menyarankan, penuhi dulu kebutuhan rumput laut di daerah sendiri. Perbaiki proses dari hulu ke hilir hingga berjalan matang. Dia yakin, kualitas rumput laut di PPU akan bersaing dengan di Pulau Jawa yang telah mengekspor ke berbagai negara.
“Jika mau jual keluar negeri, pelanggannya sangat teliti. Mulai dari proses penanaman sampai siap jual ditanya,” imbuhnya.
Madin, seorang pembudi daya mengatakan, akan mencoba beberapa materi yang sudah didapat. Menurutnya, program ini sangat membantu dalam membudidayakan rumput laut. Selama ini mereka hanya menggunakan teknik tradisional “Kendalanya adalah sulit mencari bibit yang bagus,” kata Madin.