
Pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mendapat fokus perhatian dari Pemerintah Pusat. Tahun 2017 mendatang, mereka akan diarahkan merambah sektor maritim sebagai produk olahan dalam bentuk kuliner berbahan dasar rumput laut.
"Kami dapat kabar dari Provinsi, kemungkinan jika anggaran tidak dipangkas tahun depan, pelatihan yang diberikan berupa pengolahan rumput laut menjadi kuliner," Marwati, Kepala Seksi Pembinaan UKM, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) & UMKM Kota Bontang.
Pengolahan rumput laut, memang dinilai layak mendapat perhatian khusus. Sebab, Pemprov menilai, selama ini pemberdayaan UKM hanya menyentuh sejumlah bidang usaha. Seperti pelatihan menjahit, perbengkelan, hingga kuliner berbahan dasar hasil kebun dan lainnya.
Sedangkan kuliner berbahan dasar rumput laut belum dapat porsi cukup. Sehingga, kendati ada yang telah mengolah, masih sebatas pada produk umum dengan kualitas standar. "Inilah alasan pusat mengarahkan pada optimalisasi sektor maritim, khususnya rumput laut ini. Karena prospeknya besar. Semoga saja tidak ada pemangkasan anggaran di provinsi," katanya.
Kota Bontang, jelas dia memiliki potensi besar menjadi daerah dengan kuliner andalan berbahan dasar rumput laut. Sebab bukan saja memiliki pasokan bahan baku yang cukup. Para pelaku usahanya juga memiliki kualitas dalam melahirkan produk unggul. Terbukti, sejumlah produk olahan rumput laut Bontang telah mampu bersaing di kancah nasional.
"Selama ini, produk yang sudah beredar ada dalam bentuk amplang, empek-empek rumput laut, manisan, ada krupuk dari rumput laut. Dan semua sudah malang melintang di luar daerah. Karena sudah sering ikut pameran," tuturnya.
Namun melihat sengitnya persaingan bisnis di era pasar bebas, wanita berhijab ini memahami pentingnya pelatihan atau studi banding demi memperluas wawasan. Sebab inovasi penting dilakukan untuk bisa bertahan dalam bisnis kuliner. Pelatihan seperti itu telah dilakukan Pemerintah Kota Bontang beberapa tahun sebelumnya. Demikian pula upaya studi banding ke daerah lain.
"Seperti ke Makasar atau Yogjakarta. Daerah ini pernah jadi objek studi kami. Biasanya sekali berangkat, kami bawa 15 atau paling banyak 25 orang. Sedangkan pelaku UKM kita yang konsen mengolah rumput laut, ada sekitar 10 orang. Mereka inilah yang bakal ikut pelatihan. Supaya produk mereka bisa lebih baik lagi," tukasnya.