
Harga rumput laut di Kabupaten Nunukan memberikan angin segar kepada petani. Sebab, sejak awal 2016 lalu, harganya anjlok hingga menyentuh Rp 4.000 perkilogram (kg). Namun, jelang penutupan tahun, harga komoditas andalan Nunukan itu mulai merangkak naik dan menyentuh harga Rp 10.500 per kg.
Sebelumnya, harga rumput laut terus mengalami naik turun harga. Bahkan, sebelum menyentuh harga tertingginya saat ini, harga rumput laut sempat di angka Rp 7.000 hingga Rp 7.500 per kg. Itu terjadi selama kurang lebih tiga bulan terakhir yang terus fluktuatif.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Nunukan, H. Dian Kusumanto mengungkapkan, akhir tahun ini membuat petani rumput laut di Nunukan berbahagia. Itu dikarenakan, harga rumput laut naik sebesar Rp 3.500 dari harga sebelumnya Rp 7.000 perkg.
“Di awal tahun itu, harga sempat turun. Tapi, Alhamdulillah saat ini naiknya sampai Rp 10.500. Mudah-mudahan terus bertahan untuk kesejahteraan petani rumput laut di Nunukan,” ujar Dian Kusumanto kepada Radar Nunukan, Jumat (16/12).
Lanjut Dian, naiknya harga rumput laut yang merupakan salah satu komoditi unggulan di Nunukan. Dikarenakan, banyaknya permintaan dari negara tetangga, seperti Tiongkok dan Filipina yang selama ini menjadi pengimpor rumput laut asal Nunukan.
Di mana, sebelumnya Tiongkok merupakan pengimpor terbesar disusul Filipina. “Kenaikan rumput laut dikarenakan, banyaknya permintaan dari rumput laut. Dan dari hasil cacatan memang Cina merupakan negara terbesar pengekspor rumput laut,” tambahnya.
Selain permintaan meningkat, petani rumput laut juga mempertahankan kualitas yang dimiliki. Untuk itu, harga jualnya dapat dipertahankan atau naik lagi, tentunya dibarengi dengan peningkatan kualitasnya. “Kualitas juga menjadi pertimbangan pembeli rumput laut. Semoga kualitas yang diminati tetap dipertahankan petani agar tetap bertahan, bahkan naik lagi,” harapnya ketika dikonfirmasi.
Nunukan merupakan salah satu daerah penghasil rumput laut di Indonesia. Dikarenakan, setiap bulan tetap menghasilkan rumput laut. Jika dibandingkan dengan daerah lain, jika musim hujan akan terjadi penurunan produksi. “Nunukan itu produksi terus tiap bulan. Beda dengan sejumlah daerah, karena jika musim hujan mereka tidak memproduksi,” jelasnya.