
Potensi rumput laut di Kaltim cukup besar. Dalam setahun bisa mencapai ribuan ton per kabupaten/kota. Bisa diolah jadi ratusan produk turunan menjadikan rumput laut sebagai potensi hilirisasi produk bagi masa depan Kaltim. Sayangnya, belum ada industri khusus untuk mengolah produk turunan rumput laut di Benua Etam.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kaltim Nursigit mengatakan, beberapa tahun belakangan terjadi penurunan produksi rumput laut. Menurut dia, penyebabnya adalah cuaca dan kualitas air yang memburuk. Kalau tak ada kendala cuaca, dia meyakini produksi meningkat. Untuk daerah yang tidak kena kendala cuaca, produksi menjadi meningkat, seperti di Paser, Kukar, dan PPU. Menghadapi cuaca buruk, kata dia, nelayan hanya pasrah. Hal ini juga menyebabkan menurunnya pendapatan nelayan. Rumput laut basah dijual Rp 6 ribu per kilogram. “Budi daya rumput laut itu bisa di tambak juga. Selain diisi udang dan bandeng bisa rumput laut juga,” papar dia.
Padahal, menurut dia potensi rumput laut di Kaltim sangat bagus. Selama ini, penjualan antarpulau misalnya ke Surabaya, Makassar, dan Jakarta. Terutama daerah yang punya industri pengolahan rumput laut. Menurut dia, penting juga bagi Kaltim punya pengolahan rumput laut. Meski saat ini stok rumput laut masih minim. Dikatakannya, Kaltim dulu hanya Tarakan yang punya pengolahan rumput laut. Itu pun home industry. Padahal kata dia potensi rumput laut cukup besar karena pertumbuhan produksinya cepat dan pemeliharaannya tak repot. “Tinggal targetkan memasarkan ke mana. Rumput laut merupakan sektor masa depan selain perikanan,” ulas dia.
Dijelaskannya, kalau rumput laut kering mencapai belasan ribu rupiah. Rumput laut bisa jadi ratusan olahan. Bisa menjadi kosmetik, makanan, kertas, tisu, pangan, farmasi, hidrokoloid, biofuel, fertilizer, dan fiber. “Prospeknya bagus, tapi selama ini di Bontang hanya diolah jadi dodol dan sirup,” ujar dia.