
KUPANG - Para petani nelayan di pesisir menghadapi tantangan besar, salah satunya pencemaran limbah yang menyebabkan produksi rumput laut menurun.
Menurut Kepala Bidang Teknis/Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT, Nilwikson Keo, hampir seluruh pesisir di NTT memiliki potensi budi daya rumput laut. Beberapa kabupaten dengan produksi tertinggi adalah Kabupaten Kupang, Lembata, Alor, Rote Ndao, dan Sabu Raijua.
"Sekitar 60% masyarakat pesisir cenderung memilih budi daya rumput laut karena pekerjaannya sangat mudah dan alat-alatnya gampang didapat," ujar Nil seperti dilansir RRI, Senin (22/12/2025).
Jenis yang paling banyak dibudidayakan saat ini adalah Sakol (hijau) dan Cottonii yang permintaannya sangat tinggi di pasaran, bahkan mencapai lebih dari 100 ton per kabupaten setiap bulan.
Namun, optimisme ini dibayangi isu lingkungan. Nil menyoroti penurunan drastis produksi di wilayah Kupang Barat, Semau, dan Tablolong akibat limbah industri dan dampak tumpahan minyak pada masa lalu.
"Dulu masyarakat yang bekerja bisa 100%. Sekarang di beberapa lokasi tinggal 30%-40% karena sering gagal panen akibat limbah. Ini membuat modal masyarakat habis dan mereka merasa down," jelas Nil.
Ia menekankan perlunya ketegasan pemerintah dalam menertibkan pengolahan limbah industri agar tidak langsung dibuang ke laut kini yang menjadi "rumah" bagi para nelayan.
Menyikapi krisis lahan dan produksi, Anderias Zacharias dari Rapala (Relawan Penjaga Laut Nusantara) menekankan pentingnya hilirisasi. Menurut dia, petani tidak boleh hanya menjadi penonton atau menjual bahan mentah dengan harga rendah.
"Rapala mendorong proses lanjutan agar rumput laut punya nilai ekonomi lebih tinggi. Ini butuh kolaborasi antardinas, mulai dari kesehatan untuk izin edar hingga perindustrian untuk teknologi pengolahan," kata dia.
Anderias menambahkan Rapala aktif memberikan edukasi kepada masyarakat pesisir untuk disiplin menjaga kebersihan laut. "Laut yang bersih adalah syarat utama kualitas rumput laut yang baik. Kami rutin mengajak warga membersihkan pantai dan mengedukasi nelayan agar tidak membuang sampah plastik ke laut," tambah dia.
Inovasi kini mulai bermunculan di masyarakat. Nil menceritakan kesuksesan UMKM di Tablolong yang sejak 2013 telah mengolah rumput laut menjadi berbagai produk, seperti dodol, pilus, stik, hingga biskuit yang sudah masuk ke toko oleh-oleh di seluruh NTT hingga Labuan Bajo.
Bahkan, terdapat terobosan baru bekerja sama dengan pihak swasta untuk mengolah rumput laut menjadi bahan baku tepung pembuat cat tembok dan cat kapal. Ini menjadi bukti bahwa di tengah krisis lingkungan, kreativitas dan teknologi mampu menciptakan peluang baru.
Anderias juga mengimbau masyarakat tetap disiplin menjaga kebersihan laut karena laut adalah anugerah Tuhan yang harus dijaga kelestariannya. Nil meminta pemerintah terus mendampingi kelompok masyarakat melalui bantuan paket budi daya dan pelatihan teknis agar nelayan NTT tidak hanya bergantung pada satu komoditas . Dengan kolaborasi antara pemerintah, komunitas relawan seperti Rapala, dan kreativitas masyarakat, diharapkan peluang emas dari tepian pantai NTT ini dapat terus berkelanjutan dan menyejahterakan warga pesisir.